Kontroversi Fotocopy E-KTP

Belakangan di internet, juga di status facebook atau twitter teman-teman, saya sadar ada ribut-ribut tentang fotocopy e-KTP. Katanya, masyarakat dilarang memfotocopy e-KTP yang dapat menyebabkan chip yang ditanam dalam e-KTP bisa rusak dan si pemilik harus membuat baru lagi. Masyarakat pun ribut. Mereka bilang, bagaimana mungkin e-KTP ndak boleh difotocopy, sementara banyak urusan administrasi membutuhkan fotocopy e-KTP/KTP. Iya saya mengerti, jangankan urusan penting, sekedar check-in di hotel pun, pihak hotel pinjam KTP untuk difotocopy. Tapi, setelah saya baca Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (SE Mendagri) yang mengatur tentang ini, saya baru mengerti, masyarakat salah kaprah. Continue reading ‘Kontroversi Fotocopy E-KTP’

This article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Kenapa Kuta Murah?

Saya sempat membaca di akun twitter Balebengong yang pada intinya mengabarkan bahwa ada keresahan penduduk Kuta tentang keadaan desa mereka. Di sana disebutkan ada 7 butir tuntutan yang dibacakan oleh salah seorang pemuda lokal di hadapan Gubernur Bali. Dari 7 tuntuan tersebut, saya tertarik pada butir ke-4.  Pokok dari butir ke-4 adalah adanya filter terhadap wisatawan yang hadir, agar Kuta ndak nampak murahan. Sulit! Tentu saja sulit untuk membuat batasan siapa saja yang boleh datang ke Kuta. Apakah orang yang datang ke Kuta harus punya banyak uang? Kalau begitu, mungkin warga Kuta lebih senang Djoko Susilo yang datang untuk menghabiskan miliaran uang hasil korupsinya. Atau wisatawan yang datang ke Kuta adalah mereka yang lulusan S2 atau Master? Ini bukan salah orang yang datang, tapi salah Kuta sendiri sehingga Kuta jadi terkesan ‘murah’ di mata wisatawan.

Continue reading ‘Kenapa Kuta Murah?’

This article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Galau di Pengadilan

Kira-kira 2 minggu yang lalu, saya mendapat tugas untuk mengikuti sidang perkara pidana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Saya berangkat dari kantor jam 11 siang, karena kabarnya sidang akan dimulai sekitar jam 12 siang. Tapi, setelah menunggu tanpa kepastian, sidang baru dimulai sekitar jam 5 sore. Minggu lalu pun ndak jauh beda. Berangkat dari kantor lebih siang, sekitar jam 1, akhirnya saya pulang sia-sia karena sampai jam 4 sore, para pihaknya, jaksa, pengacara, terdakwa dan majelis hakim yang seharusnya terlibat dalam pemeriksaan perkara ndak nampak batang hidungnya. Tanya kepada panitera, dia malah ikutan bingung. Akhirnya, saya memutuskan pulang daripada galau di pengadilan. Saya jadi membayangkan, bagaimana galaunya mereka yang nasibnya tergantung dari proses sidang? Pasti lebih dari kegalauan yang saya rasakan.

Continue reading ‘Galau di Pengadilan’

This article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Indonesia Saja

Saya lahir di Denpasar. Kuliah dan menetap lama di Jogja. Sekarang berdomisili di Jakarta. Beberapa kota juga sudah pernah saya kunjungi, mulai dari Medan sampai Gorontalo. Setiap kota punya budaya dan cirinya masing-masing. Begitu juga dengan kota-kota di luar negeri yang akhirnya kesampaian untuk saya datangi, yaitu Tokyo, Melbourne, Abu Dhabi dan terakhir New York. Jujur saya akui, 4 kota di luar Indonesia yang saya datangi keren banget. Tata kotanya baik, baik banget malah! Penataan yang baik itu  memberi rasa nyaman bagi warganya dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Taman kota tersedia luas, lalu lintas rapih dan nyaman untuk pejalan kaki, juga memiliki fasilitas umum yang lengkap dan berkualitas bagus. Bahkan, kota-kota itu juga punya pemandangan yang ndak kalah indahnya dengan yang ada di Indonesia. Sampai akhirnya saya juga jujur mengakui, bahwa saya menyukai kota-kota itu. Tapi,,, Continue reading ‘Indonesia Saja’

This article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Kita Bukan Pelayan Masyarakat, …

Tadi pagi (13/2), saya mengikuti sosialisasi peraturan pelaksana UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Yah, materi sosialisasinya ndak penting untuk saya tulis, semuanya standar. Birokrat harus beginilah, harus begitulah, semuanya standar omongan orang seminar. Tapi ada satu yang menarik perhatian saya saat coffee break. Seorang bapak, belakangan saya tau dia adalah pejabat eselon II, berbicara panjang lebar kepada saya tentang reformasi birokrasi. Bahkan konon dia yang “mengajarkan” gubernur Jakarta sekarang tentang apa itu reformasi birokrasi. Saya cuma menanggapi dengan diam saja semua omongannya, bahkan saat dia bilang, “Kita ini bukan pelayan masyarakat..” Beberapa detik kemudian dia sambung, “Kita ini tukang pelnya masyarakat” Eh, kenapa jadi lebay begitu..?

Continue reading ‘Kita Bukan Pelayan Masyarakat, …’

This article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka