Yang Jauh Mendekat. Yang Dekat?

1 menit waktu baca

Teknologi, termasuk teknologi informasi, bisa dibilang merajai kehidupan manusia. Sekarang, hampir semua hal bisa dilakukan sendiri berkat keberadaan dan bantuan teknologi, terutama lagi internet. Bantuan teknologi termasuk juga dalam hal mempererat lagi hubungan manusia satu dengan yang lainnya tanpa mempedulikan jarak dan bahkan waktu. Contoh nyatanya ya kita ini. Di antara sekian banyak komentar yang menanggapi tulisan saya sebelumnya, ndak ada satu pun komentator yang pernah saya kenal dan temui sebelumnya. Tapi berkat teknologi — komputer dan interenetnya — saya dan anda, juga mereka, seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Istilahnya, yang jauh pun terasa dekat. Tapi bagaimana dengan yang dekat?

Mungkin hal yang saya alami kemarin ndak serta-merta bisa membuktikan bahwa teknologi adalah penyebab renggangnya hubungan manusia yang bahkan lagi berdekatan dengan manusia lainnya. Mungkin, anda pun pernah melihat atau mengalami pengalaman yang sama. Kemarin saya membeli makan malam di sebuah warung makan di dekat rumah. Sebenarnya sudah sering saya alami, tapi yang kemarin terasa lebih menarik. Saya melihat 5 orang sedang duduk bersebelahan menunggu pesanan mereka diselesaikan. Walaupun mereka duduk lumayan rapat di atas sebuah bangku yang ndak panjang, tapi mereka seperti ndak peduli dengan keberadaan orang di sebelahnya.

Mereka masing-masing sibuk dengan hpnya yang beragam jenis. Ada yang sedang menelpon seseorang yang entah berada di mana. Ada juga yang asyik menghubungi seseorang lewat SMS. Ada yang seperti mendengar lagu/siaran radio — saya ndak bisa mendengarnya — berkat hp. Juga ada yang santai sambil melihat-lihat akun facebooknya. Saya sendiri? Beberapa kali saya juga pernah seperti mereka, tapi kemarin malam saya memilih untuk tetap mengamati mereka dan meninggalkan hp saya di saku celana. Hehe!

Saya jadi melihat peran teknologi cuma mendekatkan mereka yang berjauhan. Tapi membuat mereka yang berdekatan menjadi semakin jauh. Saya ingat dulu waktu kecil, waktu hp blum ada di muka bumi, bapak/ibu saya ndak segan untuk berbincang dengan seseorang yang blum dikenalnya di sebuah tempat umum. Misalnya, saat mengantar saya ke dokter. Sambil menunggu giliran periksa, bapak saya akan berbincang dengan seseorang tentang banyak hal. Perbincangan bisa diawali dengan kalimat, “Anaknya sakit apa pak?”. Dan kalimat itu akan mengundang banyak kalimat lagi setelahnya. Mereka berbagi hal dan bahkan rasa dalam perbincangan itu.

Saya akui sekarang masih ada perbincangan seperti itu. Tapi sudah jarang banget. Betul, ndak? 🙂

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

28 thoughts on “Yang Jauh Mendekat. Yang Dekat?”

  1. Berkembangnya teknologi, bertambah juga cara berkomunikasi, lisan dan tulisan. Kalau yang jauh tambah dekat, nah yang dekat seharusnya semakain dekat ya, bukan malah menjauh lagi.
    😆

  2. kemajuan teknologi akan terasa begitu bermanfaat apabila digunakan secara benar..
    belakangan ini banyak penggunaan alat komunikasi untuk hal” yang benar.. (sok ngerti hehe)
    salam kenal mas bro..

  3. hahaha…bener bli, sekarang aktifitas sosial offline sedikit-sedikit mulai berkurang, padahal yang online meningkat, misal di FB rajin banget update status, rajin mampir kesana-kemari, tapi di kehidupan nyata g pernah keliatan,hehe…

  4. Ayo-ayo, saudara-saudara. Ayo mari, yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Ini obat bukan sembarang obat, ini obat bisa bikin kuat. Ini obat bisa bikin nikmat. Kalau tidak percaya, silakan anda coba. 😆
    Btw, memang betul fenomena itu. Kadang mereka seperti gak peduli dengan sekitarnya malah asyik dengan genggaman nya. 🙁
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. maka dari itu untuk mulai sekarang yang hanya pada friendlist saya di FB hanya orang yang saya kenal langsung, atau teman dengan sama minat tentunya yang sudah saya kenal dan teman blogfosphere yang sering saling tuker tukeran komentar
    tapi dengan teknologi itu bisa menjebatani dengan yang jauh

  6. saya akui bahwa pendapat anda ada benarnya. pernah ada penelitian yang menyimpulkan bahwa makin banyak orang kesepian justru di tengah kemudahan teknologi untuk bersosialisasi 😀

  7. tapi gak semuanya menjadi egois ketika teknologi membantu manusia. Meski tak dibilang sedikit. Manusia mempunyai kecendrungan untuk mengekspresikan perasaannya juga didunia nyata.

    Solusi untuk fenomena ini:

    Hancurkan hp, cabut modem, lepas antenna tv. Masalahpun selesai. Kita siap?

    1. Solusi yang anda tawarkan telah menunjukkan bahwa manusia sudah dikalahkan oleh teknologi. Kenapa harus menghancurkan benda-benda berteknologi?

      Biarkan saja benda-benda itu ada di sekitar kita dan berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi kitalah yang seharusnya mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengatur kita. Menghancurkan hp, modem dan tv itu cuma bentuk dari melarikan diri karena ndak mampu mengendalikan teknologi.

  8. Hehe..benar sekali. Saya mengalaminya. Dulu, tinggal berdampingan dengan sesama anak kost, jarang bahkan tidak pernah berkomunikasi langsung padahal sering bertemu, tapi di Facebook asik bercanda & saling cela..haha..
    Mau memulai pembicaraan saat ketemu rasanya tidak enak.
    Aneh.. 😆

  9. Yaw tergantung penggunannya mas…
    Kalo saya sendiri, malah teknologi itu malah membuat saya dengan teman-teman maupun saudara di rumah makin tambah akrab…
    Contohnya, bisa OL bareng…
    Tapi kali ini, media komunikasinya via chat padahal bersebelahan…
    hehehe….

  10. betul bro, itu memang pengaruh teknologi

    tapi percaya ndak, ada hal lain yang mempengaruhi juga. kemarin saya menonton tips di televisi, tips untuk menghindari kejahatan hipnotis di tempat umum, katanya jangan mudah bercengkrama dengan orang yang tidak dikenal, apalagi mengajak kenalan. saya rasa hal ini juga membuat orang/masyarakat menjadi tidak ramah lagi.

    1. Tepat! Saya setuju banget dengan pendapat anda.

      Makanya saya bilang, bahwa teknologi berperan merenggangkan hubungan manusia yang berdekatan, tapi bukan faktor yang utama. Ada faktor lain yang ndak kalah besar pengaruhnya, misalnya seperti yang anda bilang. Banyak orang yang justru memanfaatkan budaya ramah-tamah (basa-basi) untuk melakukan kejahatan.

  11. jadi teringat beberapa momen. Kita -saya lebih tepatnya- adalah korban tekonologi, mau tidak mau suka dan butuh. Tapi ya seperti itu, bahkan ketika teman-teman sedang berkumpul (teman, bukan orang tidak dikenal!) seakan dua tangan dan mata mereka terjerembab di benda mungil yang biasa kita sebut hp. Dan sesekali menyapa; dooh! Jadi serba salah memang, tapi hal itu sungguh membuat saya tidak nyaman teknologi-teman-malah menjauh, dari tadinya yang dekat.

    1. Bukan teknologinya yang harus dibuang, tapi manusianya yang harus bisa mengatur kapan bergaul dengan teknologi dan kapan bergaul dengan sesamanya.

  12. Nah, gara2 hal itulah timbul jargon “AUTIS” sekarang, agak ironi sih emang, saya klo nongkrong ke tempat publik kyk cafe, resto, dll fenomenanya seperti itu semua., apalagi cewek., kyknya sekrng klo nongkrong gak bawa BB layaknya ke mall gak pake celana. 😀 ampun dah..,

Comments are closed.