Yang Jauh Mendekat. Yang Dekat?

Teknologi telah membantu kehidupan manusia. Hampir semua hal bisa dilakukan sendiri berkat keberadaan dan bantuan teknologi, terutama lagi internet.

Termasuk juga dalam hal mempererat lagi hubungan manusia satu dengan yang lainnya tanpa mempedulikan jarak dan bahkan waktu. Mereka yang jauh pun terasa dekat.

Tapi bagaimana dengan yang dekat?

Mungkin hal yang saya alami kemarin tidak serta-merta bisa membuktikan bahwa teknologi adalah penyebab renggangnya hubungan manusia yang bahkan sedang berdekatan dengan manusia lainnya. Mungkin, anda pun pernah melihat atau mengalami pengalaman yang sama.

Kemarin saya membeli makan malam di sebuah warung makan di dekat rumah. Sebenarnya sudah sering saya alami, tapi yang kemarin terasa lebih menarik.

Saya melihat lima orang sedang duduk bersebelahan di atas sebuah bangku menunggu pesanan mereka diselesaikan. Walaupun mereka duduk lumayan rapat, tapi mereka seperti tidak peduli dengan keberadaan orang di sebelahnya.

Mereka masing-masing sibuk dengan ponselnya. Ada yang sedang menelpon seseorang yang entah berada di mana. Ada juga yang asyik menghubungi seseorang lewat SMS.

Ada yang seperti mendengar lagu/siaran radio. Juga ada yang santai sambil melihat-lihat akun facebooknya.

Saya sendiri?

Beberapa kali saya juga pernah seperti mereka, tapi kemarin malam saya memilih untuk tetap mengamati mereka dan membiarkan ponsel saya di saku celana.

Saya jadi melihat peran teknologi membuat mereka yang berdekatan menjadi semakin jauh. Saya ingat dulu waktu kecil, waktu belum ada  ponsel, bapak atau ibu saya tidak segan untuk berbincang dengan seseorang yang belum mereka kenal.

Misalnya, saat mengantar saya ke dokter. Sambil menunggu giliran periksa, bapak saya akan berbincang dengan seseorang tentang banyak hal.

Perbincangan bisa diawali dengan kalimat, “Anaknya sakit apa pak?”

Kalimat itu akan mengundang banyak kalimat lagi setelahnya. Mereka berbagi hal dalam perbincangan itu.

Saya akui sekarang masih ada perbincangan seperti itu, tapi sudah semakin jarang.

Digiprove sealDigiproved

Comments

  • TuSuda says:

    Berkembangnya teknologi, bertambah juga cara berkomunikasi, lisan dan tulisan. Kalau yang jauh tambah dekat, nah yang dekat seharusnya semakain dekat ya, bukan malah menjauh lagi.
    😆

  • orange float says:

    begitu dekat begitu nyata *simpati mode:on* 😀

  • helmijo says:

    yg jauh mendeket yg dekat semakin merapat :p

  • angel says:

    ya.. di rumah juga terasa bli.. masing-masing megang hape… update status 😉

  • Judulnya aku lanjutin : Yang Dekat Semakin Merapat…

  • red says:

    kemajuan teknologi seharusnya membuat yg jauh mensekat, yg dekat merapat. tapu yg dekat kok malah autis ? 😀

  • masreno says:

    kemajuan teknologi akan terasa begitu bermanfaat apabila digunakan secara benar..
    belakangan ini banyak penggunaan alat komunikasi untuk hal” yang benar.. (sok ngerti hehe)
    salam kenal mas bro..

  • adin says:

    hahaha…bener bli, sekarang aktifitas sosial offline sedikit-sedikit mulai berkurang, padahal yang online meningkat, misal di FB rajin banget update status, rajin mampir kesana-kemari, tapi di kehidupan nyata g pernah keliatan,hehe…

  • FB says:

    Ya benar tuh..

  • Sugeng says:

    Ayo-ayo, saudara-saudara. Ayo mari, yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Ini obat bukan sembarang obat, ini obat bisa bikin kuat. Ini obat bisa bikin nikmat. Kalau tidak percaya, silakan anda coba. 😆
    Btw, memang betul fenomena itu. Kadang mereka seperti gak peduli dengan sekitarnya malah asyik dengan genggaman nya. 🙁
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  • Gus Ikhwan says:

    maka dari itu untuk mulai sekarang yang hanya pada friendlist saya di FB hanya orang yang saya kenal langsung, atau teman dengan sama minat tentunya yang sudah saya kenal dan teman blogfosphere yang sering saling tuker tukeran komentar
    tapi dengan teknologi itu bisa menjebatani dengan yang jauh

  • indobrad says:

    saya akui bahwa pendapat anda ada benarnya. pernah ada penelitian yang menyimpulkan bahwa makin banyak orang kesepian justru di tengah kemudahan teknologi untuk bersosialisasi 😀

  • Qori says:

    tapi gak semuanya menjadi egois ketika teknologi membantu manusia. Meski tak dibilang sedikit. Manusia mempunyai kecendrungan untuk mengekspresikan perasaannya juga didunia nyata.

    Solusi untuk fenomena ini:

    Hancurkan hp, cabut modem, lepas antenna tv. Masalahpun selesai. Kita siap?

    • Agung Pushandaka says:

      Solusi yang anda tawarkan telah menunjukkan bahwa manusia sudah dikalahkan oleh teknologi. Kenapa harus menghancurkan benda-benda berteknologi?

      Biarkan saja benda-benda itu ada di sekitar kita dan berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi kitalah yang seharusnya mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengatur kita. Menghancurkan hp, modem dan tv itu cuma bentuk dari melarikan diri karena ndak mampu mengendalikan teknologi.

  • Adi says:

    iya juga ya..
    Hmmm..
    Semua memang ada plus minusnya..

  • pututik says:

    begitulah kalo etika kita semakin buruk, padahal lebih baik yang di dekat kita daripada yang di jauh kita. tepo seliro kita semakin buruk.

  • Hehe..benar sekali. Saya mengalaminya. Dulu, tinggal berdampingan dengan sesama anak kost, jarang bahkan tidak pernah berkomunikasi langsung padahal sering bertemu, tapi di Facebook asik bercanda & saling cela..haha..
    Mau memulai pembicaraan saat ketemu rasanya tidak enak.
    Aneh.. 😆

  • kyra.curapix says:

    sip setuju
    mendekatkan yang jauh
    tapi menjauhkan yang dekat

    contohnya aku ini dah
    serba make teknologi
    ampe ldran gitu pacarannya
    hadehhhh
    repot…

  • Gede Lumbung says:

    Yaw tergantung penggunannya mas…
    Kalo saya sendiri, malah teknologi itu malah membuat saya dengan teman-teman maupun saudara di rumah makin tambah akrab…
    Contohnya, bisa OL bareng…
    Tapi kali ini, media komunikasinya via chat padahal bersebelahan…
    hehehe….

  • imadewira says:

    betul bro, itu memang pengaruh teknologi

    tapi percaya ndak, ada hal lain yang mempengaruhi juga. kemarin saya menonton tips di televisi, tips untuk menghindari kejahatan hipnotis di tempat umum, katanya jangan mudah bercengkrama dengan orang yang tidak dikenal, apalagi mengajak kenalan. saya rasa hal ini juga membuat orang/masyarakat menjadi tidak ramah lagi.

    • Agung Pushandaka says:

      Tepat! Saya setuju banget dengan pendapat anda.

      Makanya saya bilang, bahwa teknologi berperan merenggangkan hubungan manusia yang berdekatan, tapi bukan faktor yang utama. Ada faktor lain yang ndak kalah besar pengaruhnya, misalnya seperti yang anda bilang. Banyak orang yang justru memanfaatkan budaya ramah-tamah (basa-basi) untuk melakukan kejahatan.

  • jiggow says:

    jadi teringat beberapa momen. Kita -saya lebih tepatnya- adalah korban tekonologi, mau tidak mau suka dan butuh. Tapi ya seperti itu, bahkan ketika teman-teman sedang berkumpul (teman, bukan orang tidak dikenal!) seakan dua tangan dan mata mereka terjerembab di benda mungil yang biasa kita sebut hp. Dan sesekali menyapa; dooh! Jadi serba salah memang, tapi hal itu sungguh membuat saya tidak nyaman teknologi-teman-malah menjauh, dari tadinya yang dekat.

  • Cahya says:

    Nah…, yang seperti ini baru mengenai Bli Gung 🙂

  • nissadwi says:

    humm…jadi teknologi disalahkan ni??apa kita buang aja tu teknologi. biar yang deket bisa deket lagi. hehehehe….

    • Agung Pushandaka says:

      Bukan teknologinya yang harus dibuang, tapi manusianya yang harus bisa mengatur kapan bergaul dengan teknologi dan kapan bergaul dengan sesamanya.

  • RushRomance says:

    Nah, gara2 hal itulah timbul jargon “AUTIS” sekarang, agak ironi sih emang, saya klo nongkrong ke tempat publik kyk cafe, resto, dll fenomenanya seperti itu semua., apalagi cewek., kyknya sekrng klo nongkrong gak bawa BB layaknya ke mall gak pake celana. 😀 ampun dah..,

  • Comments closed

    Newsletter