Timnas vs Nurdin

1 menit waktu baca

Kekalahan 0-3 dari malaysia di final pertama Piala AFF 2010 memang menyakitkan bagi semua pecinta timnas sepakbola Indonesia. Bahkan karena terlalu sakit, beberapa suporter sampai menghujat tuan rumah yang melakukan kecurangan. Menurut saya alasan itu berlebihan, tapi saya ndak mau membantahnya. Biarlah setiap orang punya pandangannya masing-masing melihat kekalahan itu. Saya pribadi justru punya sudut pandang yang lain untuk kekalahan ini. Saya justru mendapat sisi positif dari kekalahan itu, terutama yang berkaitan dengan keberadaan Nurdin Halid, si ketua PSSI.

Saya dan mungkin banyak pecinta timnas lainnya, seringkali berada di posisi serba salah. Di satu sisi, saya berharap timnas menang dan menjuarai sebuah turnamen. Di sisi lain, saya selalu menuntut Nurdin turun dari kursi ketua. Sesuatu yang bertolak belakang tentu saja. Bagaimana pun, kalau timnas berprestasi, itu akan menjadikan posisi tawar Nurdin semakin kuat. Ndak ada lagi alasan untuk menolaknya sebagai ketua PSSI apabila sepakbola kita berprestasi. Sebaliknya, kemundurannya akan mendekati kenyataan kalau prestasi timnas jeblok, yang sudah pasti ndak diinginkan oleh pecinta sejati timnas sepakbola Indonesia.

Ada sisi lain di bathin saya yang berharap timnas Indonesia gagal lagi menjadi juara AFF tahun ini. Sebab, kalau timnas gagal lagi — apalagi yang juara adalah malaysia — tentu tuntutan mundur terhadap Nurdin akan semakin membabi buta. Maka ndak ada alasan lagi bagi Nurdin untuk duduk sebagai ketua PSSI. Tapi apakah saya sanggup melihat timnas Indonesia gagal lagi? Apalagi final besok diadakan di Jakarta dan menghadapi lawan yang sama sekali sulit dimaafkan, malaysia? Rasanya saya ndak sanggup.

Maka sisi bathin saya yang lain lagi berujar, saya lebih senang melihat kepongahan Nurdin semakin menjadi-jadi yang penting timnas berprestasi. Walaupun prestasi itu mungkin ndak diraih secara sistematis, tanpa kompetisi dalam negeri yang memadai, tanpa profesionalisme, juga tanpa pembinaan yang berkesinambungan, melainkan cuma mengandalkan semangat dan nasionalisme para pemain dan suporter. Minimal, gelar juara AFF 2010 akan mengobati sedikit luka menganga yang sudah sekian lama diderita oleh saya dan pecinta sepakbola Indonesia.

Terbanglah Garuda, raih prestasi tertinggi! Garuda akan selalu di dada!!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

6 thoughts on “Timnas vs Nurdin”

  1. Kalau permainannya masih seperti kemarin, ya kemungkinan akan kalah Bli :).

    Kalau PSSI sudah bobrok, ndak usah-lah jabatan ketuanya dipertahankan. Yang membuat Timnas maju sekarang menurut saya adalah arsitektur pelatih, bukan ketua PSSI. Bahkan gara-gara ketua PSSI dan elit politik, malah jadi kacau suasananya – seperti yang kita dengar di media masa. Tadi pagi juga MetroTV membongkar seputar masalah ini.

  2. Kalau saya mau jujur, saya kurang tahu apa kesalahan Nurdin sehingga dia dituntut mundur oleh pecinta sepakbola.

    Tapi ada beberapa hal yang membuat saya ikut mendukung agar Nurdin turun.

    1. Masalah penjualan tiket kemarin yang amburadul, Nurdin sebagai ketua PSSI harus bertanggung jawab, tapi dia malah menyalahkan pembeli tiket.

    2. Prestasi Timnas yang kurang bagus (kecuali saat ini).

    3. Nama baik Nurdin yang sudah tercoreng karena (kalau tidak salah) memimpin PSSI dari dalam penjara.

    Jadi, kalau Indonesia bisa juara nanti malam, mungkin kita berikan Nurdin kesempatan beberapa waktu lagi, tapi kalau Indonesia gagal lagi, Nurdin HARUS mundur.

Comments are closed.