Terpaksa Beli Permen

2 menit waktu baca

Selama bulan Juni dan setengah bulan Juli kemarin, saya mendapat kesempatan belajar di negeri Sakura, Jepang. Kebetulan selama di Jepang, saya berkesempatan untuk merasakan suasana 3 kota yang berbeda, yaitu Kobe, Kyoto dan Tokyo.

Ada satu hal kecil yang menarik perhatian saya, yaitu saat saya membeli sesuatu di Jepang.

 

Yang menarik adalah saat kita belanja, kita akan mendapat kembalian sesuai dengan apa yang kita bayar. Saya tidak pernah mendapat kembalian berupa permen.

Bahkan saat membayar taksi pun, sopir taksi di Jepang akan membayar uang kembalian dengan nilai yang seharusnya. Ini berbeda dengan taksi di Jakarta yang sering kali membulatkan harga.

Tanggung jawab pedagang seharusnya memberi apa yang menjadi hak pembeli, termasuk uang kembalian recehan. Dalam UU Konsumen, pelaku usaha (termasuk pedagang) dapat dipidana apabila “menjual barang/jasa dengan pemaksaan”

Lalu bagaimana dengan kembalian permen? Adalah suatu pemaksaan apabila pedagang secara serta merta tanpa persetujuan pembeli, memberi uang kembalian berupa permen.

Sebagai pembeli, kita bisa saja melaporkan hal ini ke instansi terkait, termasuk Kepolisian. Kecuali memang anda menerima kembalian berupa permen, maka itu bukan pelanggaran.

Dalam Undang-Undang Bank Indonesia (UU BI) juga tersirat mengatur tentang hal ini. Disebutkan bahwa transaksi/jual-beli di Indonesia harus menggunakan mata uang Rupiah.

Maka, mata uang lain tidak akan berlaku sebagai alat pembayaran di Indonesia, apalagi permen.

Lalu apa sanksi pidananya? Pelanggaran terhadap UU di atas dapat dipidana denda milyaran Rupiah lho!

Lalu kita harus bagaimana? Seringkali kita cuma bisa diam saat menerima kembalian dalam wujud permen, termasuk saya.

Kita tidak pernah berusaha untuk menolak permen, apalagi sampai mengancam si pedagang dengan sanksi pidana.

Ada solusi yang menarik yang saya temukan di Jepang. Di sana terdapat mesin (seperti mesin ATM) yang fungsinya sebagai penukar uang.

Jadi, saat saya membutuhkan pecahan kecil atau membutuhkan uang koin, saya dapat menukarkan uang kertas atau uang  koin dalam pecahan besar menjadi uang dalam pecahan kecil.

Saya rasa hal ini bisa dilakukan oleh Bank Indonesia atau bank lainnya.

Tapi berhubung mesin itu tidak ada, atau mungkin belum ada, yang bisa kita lakukan adalah menanyakan ke penjual, ada kembalian uang atau tidak?

Atau sampaikan ke pedagang, saya tidak mau kembalian permen. Kalau anda benar-benar pengen membela hak anda sebagai pembeli, anda bisa sebutkan pasal 62 ayat (1) tentang sanksi pidananya.

Tidak main-main, sanksi maksimal bisa 5 tahun penjara atau denda paling banyak 2 milyar Rupiah.

Beberapa kali, pedagang yang saya tolak kembalian permennya, memberi saya diskon beberapa rupiah. Seperti kemarin, saat pedagang tidak punya kembalian 200 Rupiah, saya tolak permennya, akhirnya si pedagang merelakan saya tidak membayar kelebihan harga barang yang saya beli.

Pedagangnya rugi? Ya maaf, saya juga tidak butuh permen. Hihi.

Seharusnya kita semua menghargai mata uang Rupiah.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2014-2017 Agung Pushandaka

Related Post