Terima Kasih, Bu Sri

2 menit waktu baca

Sore ini (24/3), saya dan Rebecca serius memilah dan memilih kain batik di sebuah toko pakaian dan bahan batik terkemuka di mal Kota Kasablanka.

Setelah beberapa menit melihat-lihat, Rebecca tertarik dengan salah satu bahan batik berwarna pink dan berniat untuk memotretnya. Agak lama Rebecca merogoh ke dalam tas untuk mengambil handphone, tapi tidak menemukannya.

Setelah memastikan dengan teliti bahwa ponsel yang dicari memang tidak ada, maka kemungkinan terbesar dimana handphone itu berada adalah di toilet wanita. Sebab sebelum menuju toko batik Rebecca memang pergi ke toilet.

Saya mencoba menghubungi nomor ponselnya. Tersambung tapi tidak dijawab. Saya mencoba lagi.

Kali ini seseorang menjawab panggilan saya, seorang petugas customer service mal Kota Kasablanka. Dia mengarahkan saya untuk menuju concierge main lobby.

Akhirnya, handphone yang tertinggal tadi kembali ke tangan kami. Tidak lupa saya tanya kepada bapak petugas keamanan, siapa yang membawa handphone ini kepada pihak keamanan.

Katanya, housekeeper di toilet itu yang membawanya. Namanya Srimulat S.

Saya dan Rebecca bingung harus berbuat apa untuk kebaikan hati Bu Sri. Kami ingin memberinya sedikit uang sebagai “ucapan terima kasih” tapi takut akan membuatnya tersinggung.

Sementara ucapan terima kasih saja, menurut kami tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukannya.

Memang, apa yang dilakukan oleh Bu Sri sebenarnya bukan hal yang besar. Siapa pun yang menemukan handphone itu, bisa saja melakukan hal yang sama.

Tapi ini Jakarta. Beban hidup di Jakarta yang cukup berat, bisa saja menggoda Bu Sri untuk mengambil handphone itu.

Kami berdua memutuskan untuk memberinya sedikit uang “ucapan terima kasih” atas kebaikannya.

Setelah bertemu Bu Sri, Rebecca berkata “Dia tidak mau terima uangnya”

Dari cerita Rebecca, Bu Sri kurang lebih berkata, “Peraturan di mal ini, saya ngga boleh menerima tips. Lagian itu sudah kewajiban saya”

Seorang petugas housekeeping di toilet umum, yang mungkin penghasilannya tidak seberapa, merasa wajib mengembalikan barang yang bukan miliknya tanpa menuntut imbalan apapun.

Sebagai gambaran, seorang housekeeper toilet umum di mal Kota Kasablanka adalah mereka yang selalu berada di toilet, tapi sering tidak dipandang oleh pengguna toilet.

Bertugas untuk menjaga kebersihan toilet, mengeringkan setiap genangan atau tetesan air yang tercecer di lantai, membersihkan cermin, dll. Kadang mereka juga mengucapkan terima kasih kepada pengguna toilet yang meninggalkan toilet tanpa berharap ucapannya itu mendapat jawaban atau respon.

Bu Sri, selain menunaikan tugas rutinnya itu, juga menyempatkan diri untuk mengembalikan barang yang bukan miliknya.

Keberadaan kasih Tuhan di muka bumi, sekali lagi, telah terbukti dari hal kecil namun penuh berkat yang Bu Sri lakukan sore ini kepada kami.

Terima kasih, Bu Sri.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016-2017 Agung Pushandaka

Related Post