Apa Salahnya Teori Konspirasi?

Media sosial belakangan ini sedang heboh tentang teori konspirasi di balik pandemi Covid-19. Seorang figur publik menjadi pusat perhatian karena ia menyampaikan opininya dengan cukup keras terkait teori konspirasi di belakang pandemi Covid-19. Banyak yang mendukungnya, tapi tak sedikit pula yang mencemoohnya.

Ada yang salah dengan teori konspirasi? Menurut saya tidak. Maka saya tak ingin meributkan atau mendebat suatu teori konspirasi yang diyakini seseorang, walaupun kadang gregetan juga.

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, sudah banyak sekali dugaan adanya konspirasi di balik suatu kejadian. Misalnya, apakah suatu kebetulan jika serial The Simpsons bisa memprediksi dengan tepat tidak hanya satu, tapi banyak kejadian di masa depan.

Salah satunya adalah penampilan karakter mirip Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, pada suatu episode The Simpsons di tahun 2000, beberapa tahun sebelum Trump memenangkan pemilu Amerika Serikat.

Adakah konspirasi di balik itu? Bisa saja.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak kejadian yang dicurigai banyak orang memiliki latar belakang yang berbeda dan jauh lebih rumit dibandingkan latar belakang yang selama ini diketahui publik.

Misalnya, kejadian pembunuhan beberapa jenderal Angkatan Darat pada tanggal 30 September 1965. Ada banyak sekali dugaan teori konspirasi terkait peristiwa itu.

Jadi menurut saya, tak ada yang salah dengan teori konspirasi. Setiap orang memiliki dugaan dan analisis mengenai suatu kejadian. Sekalipun itu tak masuk akal bagi banyak orang.

***

Kembali kepada isu konspirasi di balik pandemi Covid-19. Sebenarnya banyak sekali teori konspirasi yang berkembang, termasuk dugaan bahwa ada elite global yang memanfaatkan situasi ini demi keuntungan kelompoknya.

Sekali lagi, saya sebenarnya menikmati teori konspirasi di balik pandemi Covid-19 ini walaupun saya tak ingin mempercayai sepenuhnya. Setiap orang pasti punya pemikiran dan keyakinannya masing-masing.

Sama halnya dengan kelompok anti-vaksin, yang salah satu alasannya adalah keyakinan mereka bahwa ada konspirasi Yahudi dan negara barat di balik beredarnya vaksin-vaksin yang ada sekarang. Sehingga beberapa orang yang meyakini itu memutuskan untuk menolak vaksin yang dianjurkan oleh ahli kesehatan.

***

Tapi yang kurang tepat apabila keyakinan akan suatu konspirasi atas suatu kejadian membuat kita menyerang pihak lain yang berseberangan. Apalagi bila menyerang kelompok yang sebenarnya tidak punya kepentingan apalagi keuntungan dari teori konspirasi yang diduga, seperti dokter dan petugas kesehatan yang selama ini tidak berada di posisi yang menolak teori konspirasi tertentu.

Meneriakkan keyakinan tentu sah-sah saja, apalagi bila dilengkapi dengan data yang valid dan akurat. Tapi jangan sampai teriakan itu memekakkan telinga mereka yang seharusnya tak perlu diteriaki.

Di tengah situasi yang tidak sehat ini, menjadi semakin tak menentu dengan banyaknya teori konspirasi yang berkembang, alangkah baiknya kita semua tidak sampai memaksakan dugaan atau teori konspirasi yang kita yakini apalagi sampai merugikan kesehatan dan keselamatan orang lain.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2020 Agung Pushandaka

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

21 thoughts on “Apa Salahnya Teori Konspirasi?”

  1. Saya juga senang baca-baca cerita soal teori konspirasi, Bli. Tapi cuma untuk wawasan, bukan sebuah informasi/pengetahuan valid/benar/akurat, karena pengetahuan saja perlu proses yang panjang dan sistematis untuk dianggap benar. Ya, meskipun dalam pandangan ini bisa dibilang saya terhegemoni Descartes. Hehehe.

    Kadang saya pikir begini, Bli: sebelum mencari landasan suatu fenomena, pecandu teori konspirasi sudah buru-buru merangkai cerita. Rasa-rasanya bukan masalah akses, karena kalangan menengah punya pustaka dalam genggaman tangan. Tapi, ada juga sebagian yang percaya teori konspirasi sebagai ekspresi dari menolak tunduk pada hegemoni. Yang ini saya salut, sih. Bahayanya, jika cerita-cerita teori konspirasi itu dimakan mentah-mentah oleh publik luas, bisa kacau semuanya.

    1. Saya sangat percaya, orang dengan kegemaran membaca seperti anda ini, sudah pasti wawasannya luas Mas.
      Betul Mas, berusaha lepas dari hegemoni itu salah satunya bisa dilakukan dengan mencari sudut pandang lain dari suatu kejadian, termasuk dengan mengaitkannya dengan teori konspirasi. Tapi menurut saya, kadang ada pula yang menciptakan teori konspirasi cuma untuk membuat pembenaran atas kepentingan yang sedang dijalankan si pembuat teori. Setuju dengan anda Mas, kalau itu dimakan mentah-mentah terutama oleh orang yang tidak sabaran, bisa ribut dengan teman sendiri nanti.

  2. Bisa jadi teori konspirasi itu ada. Sejauh yang saya ketahui, teori-teori konspirasi yang banyak bertebaran di media sosial hanya perkara pencocokan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Sehingga narasinya kadang-kadang logis di kepala awam seperti saya. Padahal, menurut saya, tidak sesederhana itu.

    Namun, jika mengacu situasi seperti saat ini, menjaga diri dan keluarga adalah langkah yang terbaik. Toh, setiap zaman selalu ada peristiwa-peristiwa sebagai penanda.

    Salam…

    1. Setuju Mas. Kalau dipikir-pikir, teori konspirasi yang berkembang memang masuk akal.
      Tapi memang kita harus matang memilih dan memilah, mana teori yang harus kita percaya, sekalipun tidak serta merta kita ikuti.

      Btw Mas, saya sempat bingung kenapa komentar Mas Sukman ini masuk list moderasi. Ternyata Mas Sukman salah memasukkan alamat email. Hehe.

  3. Saya pribadi kadang suka baca teori konspirasi, dari jaman konspirasi 9/11 sampai konspirasi MH-17 dan lain-lainnya ~ tapi ya cukup membaca saja, nggak sampai tahap percaya 100% dan nggak sampai memaksa orang lain untuk membaca / percaya / tau teori konspirasi yang saya baca ?

    By the way, maaf baru berkunjung balik ya mas ~ salam kenal.

    1. Emote-nya nggak muncul ternyata, itu yang tanda baca ‘?’ setelah kata baca maksudnya emote senyum, mas ehehehe. Maaf kalau komentar saya jadi rancu dibacanya ~

      1. Halo Mbak, terima kasih ya untuk kunjungannya.

        Kalau begitu kita sama Mbak, menyukai teori konspirasi tapi tak terlalu mudah percaya apalagi memaksa orang lain untuk percaya. Cukup untuk menambah wawasan dan sudut pandang yang berbeda di balik suatu kejadian. Begitu ya, Mbak?

        Emotnya tidak muncul ya. Tidak apa-apa Mbak. Hehe.
        Komentarnya jelas dan tegas saya terima maksudnya.

  4. Saya juga suka membaca teori konspirasi. Tapi hanya sebatas membaca cerita di novel.
    Ada keasikan sendiri menganalisa menduga-duga sendiri suatu teori A akan jadi teori B, atau juga akan jadi teori C.

    Terimakasih kunjungan ke blogku, mas …, eh# bli Agung.

    1. Betul Mas, teori konspirasi itu menambah keseruan dalam melihat suatu peristiwa. Sekaligus menambah wawasan baru.
      Siap Mas, nanti saya juga akan berkunjung lagi ke blognya yang seru.

  5. kalau dulu saya sering juga baca2 atau nonton acara teori konspirasi di acara tv kabel, tapi makin ke sini udah makin jarang bgt..

    terkait Jrx ni rame bgt dibahas di-mana2, termasuk di twitter,, saya sih memilih diam saja menyimak opini dari sana-sini,, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar..

    -traveler paruh waktu

  6. Yang namanya konspirasi itu akan selalu ada. Dan tidak semua orang tau, pokoknya ruwet. Akhirnya orang hanya bisa meraba-raba atau bahkan yang lebih parah lagi menyudutkan kelompok tertentu. Akhirnya terjadi konspirasi-konpirasian.

  7. Saya senang sekali dengan beberapa konspirasi yang digaungkan oleh beberapa orang atau kelompok.

    Tapi saya bukan tipe senang lalu lantas menyukai dengan tanpa alasan.

    Artinya saya mencoba menelaah lagi teori konspirasi yang digaungkan. Meski secara alamiah otak saya tidak bisa menerimanya.

    Namun di sisi lain saya menghargai pendapat orang lain tentang adanya konspirasi dalam sebuah kejadin.

    Kesimpulannya saya justru mengumpulkan dari berbagai sudut pandang untuk memperkaya pemikiran saya.

    Menurut saya, semakin banyak kita berdamai dengan macam sudut semakin luwes kita memandang sebuah kejadian.

    Terimakasih Mas ulasannya. Sangat menarik dan ijin bookmark yang buat koleksi. Salam kenal dari uncchu.

  8. Selama ini saya paling ya cuma sekedar tertarik buat baca saja. Nggak sepenuhnya percaya juga. Misal teori yang disampaikan rasional dan bisa diterima otak saya, mungkin bakal jadi sudut pandang baru buat saya pribadi. Tapi misal teori yang disampaikan aneh, mungkin saya cuma bisa berkomentar : “oke, cukup tahu saja” 🙂

    1. Betul Mas. Saya juga cuma sekadar menyimak dari sudut pandang yang netral supaya lebih mudah menerima opini atau teori lain. Kalau tak netral bisa jadi malah masuk terlalu dalam bahkan terlibat dalam konspirasi tersebut. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *