Tentang Sepeda Motor Saya

4 menit waktu baca

Mungkin anda akan mengatai saya aneh. Tapi beberapa kali dalam suatu perjalanan bersepada motor sendirian, saya melakukannya sambil (seperti) berbicara dengan seseorang.

Bukan melalui handphone yang diselipkan di dalam helm, seperti yang sering dilakukan beberapa orang di Bali.

Saya mengobrol dengan sepeda motor saya. Apa yang kami obrolkan, anda tidak akan mengerti sebab hanya saya yang bisa mendengar dan mengerti apa yang dikatakan oleh sepeda motor saya.

Saya dihadiahi sepeda motor oleh orang tua saat saya sukses menembus Universitas Gadjah Mada pada tahun 1998.

Begitu tiba di show room saya langsung menduduki sebuah sepeda motor sesuai tipe yang saya pilih. Sambil menyentuhnya saya berbisik, “Hai motor, saya pilih kamu untuk membantu saya selama saya kuliah di Jogja nanti. Saya harap kamu bersedia”.

Waktu itu kejadiannya sekitar bulan April 1998.

Karena sudah menjadi pilihan saya, maka tidak ada penyesalan saat belakangan saya tahu bahwa ada cacat tersembunyi.

Akhirnya, untuk memudahkan memanggilnya, saya memberinya nick name, Boy (walaupun kata teman, seharusnya saya memberinya nama perempuan karena sepeda motor tipe ini adalah sepeda motor untuk perempuan. Seperti itulah pendapatnya, tapi saya tidak peduli).

Saya semakin yakin dengan pilihan saya ini, sewaktu Boy berhasil kembali ke kekuasaan saya setelah sempat dilarikan maling waktu di Jogja.

Malam itu, saya bermain playstation di sebuah rental. Boy saya parkir di luar.

Setelah bermain 2 jam penuh, Boy sudah tidak ada di tempatnya lagi. Boy raib dilarikan orang tidak bertanggung jawab.

Waktu itu saya dan Boy baru bersama selama 6 bulan saja.

Tapi, 3 hari setelah kehilangan, seorang teman di Jogja menghubungi saya. Katanya sepeda motor saya telah ditemukan.

Saya rela membatalkan liburan 2 minggu di Bali untuk segera kembali ke Jogja.

Senangnya saat bisa kembali melihatnya, walaupun dengan kondisi yang cukup menyedihkan. Kaca spionnya raib. Kunci starternya pun rusak karena dijebol paksa oleh malingnya.

Saya bertanya kepada pak polisi, “Malingnya di mana pak?”

“Malingnya tidak ketemu dik. Motor adik ini ditemukan oleh peronda di Kayen (sekitar Jalan Kaliurang km 7) dalam keadaan mogok di pinggir sawah. Malingnya kehabisan bensin” ujar pak polisi.

Saya waktu itu memang sengaja tidak mengisi bensin penuh karena saya pikir Boy akan saya tinggalkan ke Bali selama 2 minggu.

Akhirnya, setelah menebus sebesar 500 ribu (sebenarnya saya berhadapan dengan polisi atau penculik ya, kok pakai tebusan segala, hehe..), Boy kembali dalam kekuasaan saya.

Saya perbaiki semua kerusakannya, begitu juga bagian-bagiannya yang hilang. Waktu itu sekitar bulan Desember 1998.

Believe it or not, saya merasa semakin dekat dengannya.

Pernah suatu kali pada posisi jauh dari kos di malam hari, si Boy mogok. Dia tidak mau menyala lagi.

Saya tidak tau di mana masalahnya, tapi saya pikir akan sangat melelahkan kalau saya pulang ke kos dengan menuntunnya.

Saya coba lihat isi tanki bensinnya. Masih ada bensinnya.

Kemudian saya melihat sticker dari bengkel Honda di balik sadel. Sticker itu adalah catatan kapan terakhir saya melakukan servis yang ternyata sudah berbulan-bulan lamanya saya tidak membawa Boy ke bengkel.

Akhirnya saya jongkok di sebelah Boy.

Saya berbisik, “Saya minta maaf. Tolong, jangan mogok malam ini. Mogoklah besok pagi saja, biar saya membawamu ke bengkel dengan menuntunmu. Saya butuh pulang ke kos secepatnya malam ini”

Sekali lagi, believe it or not, Boy menyala kembali seperti tidak ada masalah. Saya kembali ke kos dengan selamat.

Keesokan harinya, Boy sama sekali tidak mogok. Tapi karena saya sudah janji, saya menuntunnya menuju bengkel resmi Honda yang jaraknya kira-kira 2 km dari kos.

Mekaniknya heran, “Motor tidak mogok begini kok dituntun mas?!!”

Banyak lagi pengalaman yang saya alami, termasuk waktu kami dihantam sebuah mobil Panther yang membuat saya masuk UGD dan menderita gegar otak medium. Boy juga rusak parah sehingga harus diangkut mobil bak terbuka menuju kos.

Tapi, saya menolak saat orang tua menawari saya mobil dengan syarat Boy dijual. Orang tua setuju untuk membatalkan rencana penjualan tapi Boy harus diupacarai secara Hindu (karena orang tua saya memang seorang Hindu).

Saya sih tidak peduli mau diapakan saja, asal tidak dijual. Waktu itu kejadiannya sekitar bulan Mei 2001.

Waktu kembali ke Bali setelah lulus kuliah, Januari 2008, Boy yang dikendarai sepupu saya (sementara saya membonceng) sukses menabrak seorang polisi.

Jadilah motor tua ini ngos-ngosan dikejar pak polisi (bodohnya saya tidak menghentikan sepupu saya).

Setelah tertangkap, Boy hampir saja ditahan secara tidak resmi.

“Motor ini tidak akan bisa kamu temukan lagi, sekalipun kamu minta tolong kepada Tuhan!” ujar pak polisi ketus sambil merampas kunci motor.

Karena saya pikir hal itu akan menyulitkan dan akan membuat orang tua saya marah, akhirnya saya tanyakan apa yang bisa saya lakukan agar Boy tidak ditahan.

Pak polisi menawarkan perdamaian. Akhirnya saya membayar 30 ribu untuk meloloskan Boy dari tawanan pak polisi itu.

Saya juga sempat tawarkan sepupu saya untuk ditahan karena menabrak petugas, tapi polisi itu menolak mentah-mentah dan pergi.

Tahun ini, 2010, artinya sudah hampir genap 12 tahun Boy bersama saya.

Boy termasuk sepeda motor yang tahan banting. Walaupun terakhir dia diservis beberapa bulan lalu di tahun 2009, dia belum pernah mogok.

Catnya juga mulai memudar.

Kemarin, saya membawa sepeda motor ini ke bengkel untuk menyegarkan penampilannya. Saya memperbarui catnya yang sudah kusam.

Biaya di atas 1 juta saya anggap wajar untuk pengabdiannya selama 12 tahun. Maka, sejak kemarin sampai seminggu ke depan, sepeda motor saya akan mendapat servis sebesar-besarnya.

Semoga setelah itu dia semakin kuat lagi mengantar saya ke mana pun.

Sepeda motor saya pada 2007 di Kos Amalia Pogung Baru. Terima kasih kepada Di’al untuk foto ini.

Related Post

16 thoughts on “Tentang Sepeda Motor Saya”

  1. He he, Jupi bisa mendengar saya dengan baik, kadang rewel kalau lama tidak masuk bengkel…, tapi di sini bengkel Yamaha memang agak mahal.

    Sering merasa bersalah karena tidak merawat dengan baik, kemarin dapat anggaran beli yang baru, tapi ga tega saya jual, akhirnya anggarannya saya pakai beli laptop 😀
    .-= Cahya´s last blog ..Mengelola Publikasi Blog Terjadwal =-.

  2. saya juga pernah kehilangan honda grand, tahun 2001 di jogja, di gang lupa namanya, pokoknya jalan kaliurang kilometer 7. kata orang pintar si motor itu sebelum dipreteli ngendon dulu di sebuah bengkel besar di jakal. sampe sekarang motor saya ga ketemu, masih untung si boy 😀
    .-= yudi´s last blog ..Komisi Affiliasi berderet dalam 1 hari =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Wah, saya ikut berduka cita untuk hilangnya motor anda, bli. Saya beruntung banget bisa mendapatkan lagi sepeda motor yang sudah sempat hilang.

  3. Benda mati juga punya nyawa, banyak yang bilang begitu karena ternyata saat kita benar2 butuh, dia ada untuk kita.
    Hebad motor kamu ya…. awas nanti suatu saat ketika dia pergi untuk selamanya, kamu akan sedih…

    Agung Pushandaka Reply:

    Iya mbak. Ndak ada yang awet. Apalagi cuma sepeda motor, pasti suatu hari akan ndak bisa difungsikan lagi.
    .-= Agung Pushandaka´s last blog ..Tentang Sepeda Motor Saya =-.

  4. Teringat motor lama saya yg dulu menemani saya kuliah bahkan jatuh bangun cium jalanan. Sayang karena umurnya yang udah tua serta kondisi yg tidak lagi memungkinkan akhirnya motor itupun dilego ….

  5. Membaca artikel ini, jadi menguatkan kembali pengalaman2 waktu kita masih menuntut ilmu di Yogya. Sama Gung.. Yamaha F-1 1995 saya(si Boy pasti kenal baik), juga masih idup, dan masih mengabdi, tapi sudah setahun terakhir dia diambil alih Bapak.

  6. menurut saya, inilah salah satu kelebihan kita yang bisa “memanusiakan” barang, saya pun begitu, ya walaupun tidak “sehebat” itu, hehehe. Motor saya dijuluki “kereta senja” oleh teman2. Dia mengabdi pada saya sejak tahun 1998 (Honda Prima, beli bekas) ketika saya baru SMA dan ikut ke surabaya hingga saya lulus kuliah tahun 2005. Akhir tahun 2005 dia terpaksa saya jual karena sudah sangat berumur, terus terang saya juga merasa sedih karena saya melihat dia “hidup” layakya makhluk hidup lainnya. Tapi apa daya saya butuh dana untuk uang muka Jupiter Z yang akhirnya saya beli akhir tahun 2005 dan lunas 3 tahun kemudian.

    **kok jadi panjang ya? hehe
    .-= imadewira´s last blog ..Terima Kasih Tuhan =-.

  7. Motor, sadar nggak sadar, udah jadi kayak pacar kita :p kemana2 ama mereka meskipun kondisinya parah (paling parah motor saya, bang :p) hwakakakak. Motor saya, F1 tahun 1995 atau 1994 tuh… sebelomnya ada tuh Suzuki Bravo yang temani saya ke SMA tiap hari hahahaha… waktu itu belom jaman motormatic 😀 ahaha… F1 menjadi barang tertua yang saya miliki juga… dari uang sendiri pula. bukan hadiah 😀

Comments are closed.