Tari Pendet Milik Indonesia?

3 menit waktu baca

Baiklah, untuk kesekian kalinya malaysia mencoba melempar manggis tapi mangga yang mereka dapat. Niatnya menarik turis, tapi marahnya tetangga yang mereka dapat. Ada apa lagi dengan malaysia? Setelah berkali-kali diprotes oleh banyak pihak di Indonesia akibat penggunaan bahkan pengakuan sepihak atas kepemilikan kebudayaan Indonesia, mereka melakukannya sekali lagi. Kali ini, Tari Pendet yang berasal dan diciptakan oleh seniman daerah Bali, dipakai sebagai salah satu ikon pariwisata malaysia. Trus bagaimana?

Kalau secara pribadi, walaupun bukan pemerhati tarian daerah, saya yakin 100% bahwa Tari Pendet berasal dari Bali, Indonesia. Menurut Guru Besar Institut Seni (ISI) Denpasar, I Wayan Dibia, Tari Pendet lahir pada tahun 1950. Tarian ini diciptakan sebagai tari penyambutan yang ditujukan kepada tamu. Pada akhir tariannya, para penari menaburkan bunga-bunga yang mereka bawa ke arah penonton, sebagai wujud ungkapan dan ucapan selamat datang.

Tari Pendet diciptakan pertama kali oleh I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng, seniman dari daerah Sumerta, Denpasar. Pada tahun 1961, I Wayan Beratha mengolah kembali tarian ini yang bertahan sampai sekarang. Oleh Pak Beratha penarinya ditambah menjadi 5 orang dari yang sebelumnya cuma 4 orang. Bahkan, pada tahun 1962, Pak Beratha mementaskan Tari Pendet massal dengan melibatkan sekitar 800 penari pada pembukaan Asian Games di Jakarta.

Sekarang, malaysia mengklaim Tari Pendet sebagai ikon pariwisatanya. Menyebalkan banget memang. Tapi saya harus berani mengatakan satu hal mengenai masalah ini; kita ndak bisa selalu menyalahkan malaysia..

Maksud saya begini. Selama ini yang saya tau, slogan pariwisata malaysia adalah Truly Asia atau kira-kira artinya Asia yang sesungguhnya. Kalau malaysia ingin menunjukkan dirinya sebagai Asia yang sebenarnya, ya seharusnya semua yang dimiliki Asia ada di malaysia. Termasuk juga Tari Pendet, menyusul beberapa kebudayaan Indonesia yang sudah diklaim sebelumnya seperti lagu Rasa Sayange, keris, Batik, sampai dengan angklung, dsb.

Kalau kita mau protes, seharusnya kita memprotes slogan Truly Asia yang malaysia pakai. Kasarnya, masa’ sih malaysia adalah Asia yang sesungguhnya. Padahal malaysia di benua Asia mungkin ndak lebih dari Kalimantan-nya Indonesia. Tapi di situlah kecerdikan mereka. Mereka mengaku sebagai Asia yang sesungguhnya, walaupun akhirnya mereka ‘mencuri’ budaya negara lain untuk dipakai sebagai ikon pariwisata bahkan diakui sebagai budaya asli malaysia. Atau, Indonesia membuat slogan pariwisata atau ‘Branding Image’ yang lebih hebat dari Truly Asia. Kita bisa contoh slogan “Never Ending Asia”-nya Jogja. Rasanya itu lebih hebat dari Truly Asia.

Saya bukan ndak mendukung marahnya seniman dan masyarakat Indonesia atas perbuatan negara tempat kelahiran teroris Noordin M. Top itu. Tapi inti masalahnya adalah, kenapa malaysia nekat berbuat seperti itu berkali-kali padahal masyarakat Indonesia sudah gregetan banget? Ya karena marah kita cuma marah yang sporadis kemudian hilang. Apa yang sudah kita lakukan sejak masalah seperti ini terjadi untuk pertama kalinya? Ndak ada, kan?

Dulu Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jro Wacik pernah bilang akan mendaftarkan semua aset budaya Indonesia sebagai milik Indonesia. Tapi, apa sekarang sudah dia lakukan? Rasanya kok ndak ada ya. Begitu juga masyarakat yang serempak menyumpahserapahi malaysia sebagai pencuri. Mereka memang pencuri kelas tengik, tapi setengik-tengiknya pencuri ndak akan nekat mencuri di rumah yang sama kalau pemilik rumah lebih waspada setelah kecurian pertama kali kan?

Saya juga yakin bahwa sebagian besar masyarakat yang marah malah ndak tau Tari Pendet itu seperti apa. Jangankan masyarakat luar Bali, masyarakat Bali pun rasanya sama saja. Maaf kalau saya kasar, tapi rasanya pertunjukan sexy dance lebih ramai penontonnya daripada pementasan Tari Pendet.

Saya sih setuju dan mendukung upaya kita menunjukkan rasa ndak suka kita terhadap perbuatan malaysia. Tapi setelah itu apa? Seharusnya marah kita menghasilkan sesuatu yang dapat menghindarkan kita dari kejadian serupa di masa mendatang donk. Tapi kenyataannya, kita cuma bisa marah dan marah, tanpa melakukan tindakan yang konkret. Maka kalau boleh saran, selain marah-marah kepada malaysia, jangan lupa untuk memarahi pemerintah negara sendiri yang ndak pernah waspada akan terulangnya kejadian seperti ini. Ndak cuma budaya, malaysia masih akan terus mengancam hak milik Indonesia lainnya.

Mungkin sekarang, orang lain jadi bertanya, apakah Tari Pendet milik Indonesia? Atau malah milik malaysia? Rasanya ndak akan ada orang malaysia yang mampu menarikan tarian daerah kita sebaik para penari kita. Semoga dengan fakta itu, orang lain tetap percaya bahwa tarian Indonesia memang benar milik masyarakat Indonesia, termasuk Tari Pendet.

Semoga dari momen ini, bangsa kita semakin kuat dan kompak. Ndak saatnya lagi kita memusuhi saudara sendiri, karena kita punya musuh yang harus kita hadapi bersama.

Related Post

8 thoughts on “Tari Pendet Milik Indonesia?”

  1. Ini dia pendapat yang menarik menurut saya, marah juga harus terkontrol, jangan hanya bisa ikut-ikutan dan nasionalisme membabi buta tanpa pernah introspeksi diri.

    Kritik tentang bahwa tidak sedikit bahkan orang Bali sendiri tidak tahu tari pendet itu seperti apa memang sangat menusuk, tapi itulah kenyataannya.

    Sebenarnya saya juga pengen marah dengan tingkah polah malaysia. Tapi, saya merasa ndak mungkin kita cuma marah terus. Tapi bagaimana caranya biar kejadian ini ndak terulang lagi, sehingga kita ndak perlu marah-marah lagi.

  2. mungkin karna dari kita sendiri kurang memperhatikan ya…,
    tapi biar bagaimana pun itu milik kita jangan sampai negri lain merebutnya..,
    jayalah negriku indonesia..,

    Betul Mas Tyan. Jayalah negeri kita, Indonesia..

  3. marahnya Indonesia anget-anget tai ayam bli….

    Iya nih, Ka. Jadi capek sendiri..

    pushandaka Reply:

    Saya menulis komentar ini sambil menonton tayangan di tv one, yang sedang membahas masalah Tari Pendet yang ‘terpasang’ di salah satu iklan pariwisata malaysia. Ternyata itu bukanlah iklan resmi pemerintah malaysia, tapi cuma bikinan swasta. Dalam tayangan itu, pemilik rumah produksi yang membuat tayangan itu sudah minta maaf. Kesalahan itu ternyata cuma karena kealpaan.

    Tapi saya ndak pengen mengomentari pernyataan pemilik rumah produksi itu. Saya kali ini harus memuji kinerja pemerintah. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, pemerintah kita sudah membantu mendaftarkan kekayaan budaya kita ke UNESCO, sebagai bagian dari PBB yang mengurusi masalah budaya. Dari tindakan pemerintah, UNESCO sudah mengakui bahwa keris, batik, dan hasil kreasi budaya Indonesia lainnya yang sempat diklaim negara lain, dinyatakan adalah milik bangsa dan rakyat Indonesia.

    Oleh karena itu, ijinkan saya mengucapkan terima kasih dan pujian yang setinggi-tingginya kepada pemerintah kita yang sudah bereaksi dengan lebih bijaksana. Selain sudah mendaftarkan semua aset budaya yang sempat diklaim negara sebelah, pemerintah juga sudah mengirimkan surat keberatan kepada pemerintah malaysia dengan menuntut jawaban dari surat itu cuma pernyataan minta maaf. Semoga apa yang dikatakan Pak Menteri memang benar adanya. Semoga kejadian seperti ini, ndak terulang lagi. Kalaupun malaysia masih nekat, kita ndak perlu marah-marah lagi, karena kita sudah punya dasar hukum yang sudah diakui dunia. (UNESCO)

  4. Salam bahagia, saya setuju dengan pendapat mengatakan malaysia adalah pencuri, tapi yang lebih penting kita harus berkaca mengapa mereka leluasa mencuri, yah…mungkin kita tidak menghargai milik kita sendiri. Lah kalau memang milik kita toh …di jaga, dirawat. Dan tidak akan terjadi pencurian berulang-ulang dirumah kita… kecuali kita sendiri yang memberikan peluang kepada pencuri tersebut…oke….

    Oke banget Pakwo.. Terima kasih.

  5. wawancara permadi sh di tv mengenai klaim2 malaysia sore td, mengingatkan bung karno yg mengajak rakyat untuk ganyang malaysia…

    Saya ndak sempat nonton Gus..

  6. sebentar lagi kita juga akan melarang malaysia menyanyi lagu dangdut. sebentar lagi kita akan melarang malaysia pake TKI. soale itu semua kan milik indonesia. hehe..

    Hehe! Mungkin cuma kamu yang bisa membiarkan orang lain memakai hak milikmu tanpa ijinmu untuk kepentingan orang itu, persis seperti yang dilakukan malaysia terhadap hak milik Indonesia. Salut deh!

Comments are closed.