Tanpa Alasan

2 menit waktu baca

Pengalaman saya berkunjung ke beberapa kota di negara lain, membuka mata saya bahwa negara lain juga punya banyak hal untuk mendatangkan turis ke negaranya. Sebelumnya, saya cuma tau bahwa Indonesia adalah surganya dunia. Banyak tempat di negara ini yang mungkin ndak tertandingi keindahan alamnya oleh negara lain. Tapi faktanya, negara lain juga punya bahkan mungkin sama indahnya dengan apa yang kita punya di sini. Selain itu, fasilitas penunjang yang mereka punya jauh lebih baik daripada yang tersedia di Indonesia. Transportasi umum yang aman, nyaman dan tepat waktu tentu menjadi andalan para wisatawan yang berkunjung ke sebuah negara, karena mereka ndak memiliki kendaraan pribadi selama berada di luar negeri. Kalaupun dana terbatas untuk membeli karcis transportasi umum, fasilitas pejalan kaki pun terjamin mutu dan kualitasnya. Itu tersedia dalam jumlah besar di negara lain yang saya pernah saya kunjungi.

Sementara di Indonesia, sebutlah Jakarta, semua seperti serba semrawut. Trotoar yang sempit diperparah dengan banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di atasnya. Transportasi umum juga ndak menyenangkan untuk ditumpangi. Blum lagi banyaknya pengendara yang melanggar peraturan karena ndak tegasnya aparat dalam menindak pelanggar. Mungkin saya berlebihan, tapi kualitas hidup di Jakarta jauh lebih buruk dibandingkan dengan kota besar-kota besar lain di dunia. Iya, New York punya masalah yang sama di sektor lalu lintas. Tapi pemerintahnya menyediakan trotoar yang luas bagi setiap orang yang akhirnya memilih untuk berjalan kaki untuk menghindari macet.

Banyak yang bilang orang Indonesia terkenal dengan keramah-tamahannya. Saya ndak akan membantah itu, tapi di luar negeri saya juga merasakan keramahan yang sama. Bahkan saya sering mendapat pertolongan tanpa diminta. Seperti kejadian saat saya berkunjung ke Sydney beberapa hari lalu. Saya cuma iseng membuka peta kota untuk memastikan saya ndak salah jalan. Tanpa saya duga, seseorang menghampiri saya dan menawarkan bantuan untuk menunjukkan arah. Mungkin dia pikir saya tersesat. Tapi intinya, mereka pun sebenarnya punya karakter ramah.

Di antara kota-kota yang pernah saya kunjungi, mungkin cuma Beijing yang mirip Jakarta. Lalu lintas Beijing sama ruwetnya dengan lalu lintas Jakarta. Pengguna jalan raya juga sama ndak disiplinnya dengan pengguna jalan di Jakarta. Tapi minimal Beijing lebih baik dalam hal kualitas transportasi umumnya.

Cuma anehnya, saat-saat menuju pulang ke Jakarta dari luar negeri adalah saat-saat paling menyenangkan dibandingkan saat akan berangkat menuju negara lain. Ntahlah, saya gampang banget untuk rindu negara ini. Semua keburukan negeri yang jelas terlihat oleh mata saya, sepertinya ndak bisa mengurangi semangat saya untuk pulang ke Indonesia. Mungkin saya benar-benar mencintai negeri ini dengan semua kekurangan dan sedikit kelebihannya.

Tapi kalau anda tanya, apa alasan saya begitu mengagumi negeri ini, saya ndak akan pernah bisa menjawabnya. Sebab rasanya jauh lebih banyak alasan untuk membenci kondisi negara ini. Tapi buat saya cuma Indonesia, tanpa alasan apapun. Itu saja.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

9 thoughts on “Tanpa Alasan”

  1. Kalau saya mungkin lagi pingin-pinginnya cabut saja dari sini. Karena mungkin di luar sana saya bisa menemukan sesuatu yang membuat saya ingin benar-benar tinggal di sini.

  2. Saya belum pernah keluar negeri. Tapi saya membayangkan rasanya akan sama dengan ketika saya keluar Bali. Pulang ke Bali (Indonesia) akan selalu lebih menyenangkan dibanding ketika kita keluar. Alasannya adalah karena rumah (tanah kelahiran, ibu pertiwi dan keluarga) saya adalah di Indonesia.

  3. yang saya baca adalah paradigma tentang sebuah kota yang menjadi bagian sebuah negara. saya kira semua kota besar di dunia punya substansi yang sama. transportasi, tata ruang, dan pola hidup penduduknya. meski ada perbedaan untuk mengatakan baik atau buruk. Membaca tulisan di atas, intinya saya semakin betah tinggal di desa. salam kenal mas Agung?

  4. Betul kata Bli Wira, biar gimanapun, tanah kelahiran selalu membuat kita kangen. Kayak saya selalu ingin pulang ke kampung halaman dan bela-belain macet puluhan jam ketika mudik Lebaran, hahahaha…

  5. Ini seharusnya jadi blogpost terbaik untuk merayakan hari Pahlawan, tidak perlu alasan untuk mencintai Indonesia, dan orang sibuk mencari alasan kenapa ia harus jauh-jauh mencari negeri lain di luar sana..

  6. Kalau saya disuruh tinggal di LN, asalkan keluarga support dan ready, g masalah. Memang beratnya adl adaptasi, tapi hidup kan memang begitu kan. Adaptasi seumur hidup.
    Tapi saya tetap lebih cinta Indonesia….. selalu kangen ingin pulang kalau lagi di luar negeri…

Comments are closed.