Pasal 44 Ayat 1 KUHP

Masih tentang KUHP. Kemarin saya baca-baca tentang pasal 1 ayat 1 yang mengecualikan pemidanaan terhadap suatu perbuatan. Bahwa sebuah perbuatan tidak dapat dipidana kalau belum ada ketentuan perundang-undangan yang mengatur perbuatan itu.

Kali ini saya menemukan yang mirip-mirip seperti itu, yaitu tentang perbuatan yang tidak dipidana. Di dalam Bab III Buku Kesatu KUHP diatur mengenai Hal-Hal yang Menghapuskan, Mengurangi atau Memberatkan Pidana.

Pasal 44 ayat 1 KUHP:

Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana.

Kurang lebih artinya, bahwa siapa pun tidak bisa dipidana kalau jiwanya cacat, atau sakit jiwa.

Tapi yang jadi masalah kemudian adalah bahwa status kegilaan seseorang ini tdak diatur tegas dan jelas dalam hukum.

Apakah sakit jiwa harus bersifat permanen? Ataukah yang bersifat sementara, misalnya stress berat, dapat dikategorikan sebagai sakit jiwa?

Apakah artis sinetron Marshanda seperti yang kita lihat di youtube bisa dibilang sakit jiwa?

Bagimana dengan Robot Gedek atau Sumanto si manusia kanibal?

Apakah Ariel Peterpan yang diduga senang merekam persetubuhannya bisa dianggap sakit jiwa?

Rasanya cuma ahli jiwa yang bisa lebih baik menjelaskan hal itu.