Saya Menolak Esemka

Belakangan di media hangat diulas tentang mobil rakitan siswa-siswi sebuah SMK di Solo yang dinamai Esemka.

Berita ini juga dibumbui dengan kebijakan walikota Solo menjadikan Esemka sebagai mobil dinas walaupun semua uji kelayakan belum rampung.

Euforia ini pun berlanjut dengan rencana produksi massal mobil ini.

Jujur, kalau begini, saya menolak Esemka.

Continue reading “Saya Menolak Esemka”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012-2017 Agung Pushandaka

Mudik: Senang dan Sedih

Lebaran identik dengan mudik alias pulang ke kampung halaman. Saya sekarang memang ndak lagi mengalami nikmatnya saat-saat menuju hari keberangkatan dan selama dalam perjalanan pulang. Tapi, saya masih bisa merasakan bagaimana senangnya pulang untuk bertemu keluarga di rumah. Iya, waktu saya masih kuliah di Jogja, hampir di setiap libur Lebaran saya menyempatkan pulang ke kota halaman, Denpasar. Apalagi kalau pulang bersama-sama teman senasib sepenanggungan di perantauan, senangnya terasa lebih. Cuma sekarang, berhubung sejak 2008 saya masih terjebak di Denpasar, maka masa-masa itu ndak bisa saya nikmati secara langsung.

Continue reading “Mudik: Senang dan Sedih”

Lampu Lalin Mati Sanksinya Apa?

Siang ini saya terjebak macet di sebuah perempatan Jalan Teuku Umar Barat. Beruntung saya cuma mengendarai sepeda motor, jadi saya bisa meloloskan diri dari perempatan itu dengan meliuk-liuk di celah antrian mobil yang berjejer ndak rapi sampai jauh ke belakang. Tapi, lepas dari perempatan pertama tadi, ndak membuat saya terbebas 100% dari keruwetan itu karena biang kemacetan ternyata bukan di sana. Beberapa meter ke sebelah barat, saya temui sumber kemacetan itu. Ternyata bukan kecelakaan lalu-lintas (lalin) yang menjadi penyebabnya, melainkan matinya lampu lalin yang seharusnya mengatur lalu lalangnya kendaraan. Ditambah lagi, ndak seorang pun petugas Kepolisian yang berjaga di sana. Jadilah para pengendara berebut untuk melepaskan diri dari kemacetan itu.

Setelah tiba di tujuan dengan keringat bercucuran karena terik sinar matahari, saya segera mencari Undang-Undang (UU) No. 22 Tahun 2009 (UU 22/2009) tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UULLAJ). UU ini cukup beken belakangan ini terutama di Denpasar karena ada pasal yang mengatur tentang penyalaan lampu bagi sepeda motor di jalan raya pada siang hari (Pasal 107 ayat 2).  Tapi saya ndak pengen menulis tentang itu. Saya pengen tau, siapa yang harus bertanggung jawab atas lampu lalin dan apa sanksinya menurut UULLAJ ini.