Rawon Setan Memang Setan

Siang ini, perut lapar saya memaksa untuk segera mencari makan siang. Sebenarnya, saya paling malas berlama-lama di jalan Teuku Umar Denpasar. Tapi karena perut yang seperti ndak pernah bosan berteriak minta subsidi pangan, maka saya pun memperlambat laju sepeda motor saya untuk sekedar mencari tempat makan yang enak dan nyaman di sekitar sana.

Di antara sekian banyak toko handphone dan toko elektronik lainnya di jalan itu, terselip sebuah tempat makan yang saya lihat dari luar bukanlah sekelas warung apalagi kaki lima. Lagipula, saya pernah mendengar nama restoran ini waktu saya berkunjung ke Surabaya walaupun blum pernah mengunjunginya. Namanya: Rawon Setan.

Testimoni: Bali Blogger Community

Siang itu, seonggok surat elektronik (e-mail) nangkring di mailbox saya. Saya perhatikan nama pengirimnya beberapa kali, karena saya merasa ndak pernah berhubungan dengan siapa pun di dunia maya selain dengan keluarga di Bali. Oh ya, waktu itu saya masih kuliah di Jogja. Seingat saya, peristiwa itu terjadi di bulan Juni 2007, sebulan setelah saya mulai membuat blog baru di blogspot. Rini, pacar saya bertanya, “Siapa sih, kok bacanya sampai segitu nempelnya mukamu di layar monitor?”

Hehe, maaf.., pertanyaan yang itu saya lebih-lebihkan. Tapi seriusnya, waktu itu saya memang sampai lupa kalau ada Rini di samping saya karena e-mail itu. “Baliblogger, baby..” jawab saya waktu dia tanya tentang isi e-mail itu. Maka, mulai dari situ saya mengenal nama ini: Bali Blogger.