Kecewa Soegija

Kemarin, Senin (18/6), saya membulatkan tekad pergi ke bioskop untuk menonton film Indonesia. Sudah sejak lama saya kurang berminat untuk menonton film produksi bangsa sendiri di bioskop. Terakhir kali, saya menonton film Tanah Air Beta sewaktu di Jogja. Apalagi, film Indonesia belakangan ini lebih banyak tentang setan dan belahan dada perempuan seksi. Kali ini, Soegija yang saya harap mampu memuaskan kerinduan saya akan film Indonesia yang bermutu baik, setidaknya di mata saya. Tapi, setelah menonton filmnya, saya kecewa..

Continue reading “Kecewa Soegija”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

Related Post

Mana Film Favorit Saya??

Membaca berita pemboikotan yang dilakukan oleh Motion Picture Association (MPA) terhadap Indonesia atas peredaran film-film Amerika membuat hati saya cenat-cenut. Bagaimana ndak? Hobi menonton ke bioskop yang selama ini saya lakukan setiap akhir pekan bisa berhenti sampai waktu yang blum ditentukan. Adanya pemboikotan ini membuat bioskop-bioskop di Indonesia ndak bisa lagi menayangkan film-film dari MPA terutama yang baru akan tayang. Sementara yang sudah tayang, cuma akan menyelesaikan masa tayangnya di bioskop untuk kemudian ditarik peredarannya. Saya sih blum melihat langsung ke bioskop terdekat, tapi konon, poster film berlabel Coming Soon sudah ndak ada lagi yang film asing.

Continue reading “Mana Film Favorit Saya??”

Related Post

Film-Film Terlarang

Akhirnya, film Menculik Miyabi selesai dibuat dan sekarang sedang beredar di bioskop-bioskop tanah air. Seperti sebelumnya, pro dan kontra pun muncul mengiringi film ini. Saya sih ndak tertarik untuk menilai film ini, lagi pula saya sudah ndak tertarik sejak awal beredarnya gosip tentang film ini. Tapi saya lebih tertarik untuk mengamati kebiasaan masyarakat kita untuk meributkan sebuah film. Dalam perjalanan negeri ini, sudah banyak film yang malah menimbulkan kontroversi, bahkan sampai ada yang dicekal. Banyak alasan yang dipakai oleh masyarakat atau lembaga sensor untuk menolak beredarnya sebuah film. Mulai dari masalah budaya, sejarah, agama, bahkan sampai masalah moral. Padahal, sebuah film ndak seharusnya dinilai seserius itu. Blue film tentu sebuah pengecualian. Hehe..

Related Post