Surat Untuk The Jakmania

3 menit waktu baca

Terima kasih Jak, untuk semua hal baik yang telah kalian upayakan sejauh ini.

Jak, pertama kali saya mengenal kalian dari media berita belasan tahun lalu. Tapi kesan pertama yang saya tahu tentang kalian bukanlah kesan yang baik.

Beberapa orang berseragam Persija, atau mungkin segelintir dari kalian dulu bersikap urakan, tak tau aturan, bahkan ada yang terlibat tindakan kriminal di lingkup sepakbola. Seperti naik ke atap bus, tawuran, bahkan penganiayaan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Tapi dua tahun belakangan, kalian mulai berubah ke arah yang lebih baik. Tak ada lagi nyanyian rasis, kata-kata kasar apalagi tindakan rusuh. Bahkan kalian juga tertib sekali dengan gerakan tribun tanpa asap.

Hal itu pula yang memberanikan saya untuk mengajak istri dan anak saya yang waktu itu masih berumur 9 bulan, untuk menyaksikan langsung laga Persija di GBK, tahun lalu.

Kemudian menonton lagi laga Persija saat menghadapi Persib Bandung, di tahun 2019 ini, juga bersama anak dan istri saya. Semuanya tertib dan aman, padahal hasil pertandingannya tak cukup memuaskan kalian semua.

Tapi, kejadian di Makassar saat final Piala Indonesia 2018 leg 2 sedikit mengubah keadaan. Beberapa dari kalian, setidaknya itu yang saya lihat dari foto akun sosmednya, terlibat adu hina dengan beberapa suporter Makassar, juga Bandung dan sebagian lagi Surabaya.

Kondisi semakin buruk karena kejadian penyerangan yang dialami suporter Makassar di Tebet.

***

Jak, saya memang bukan siapa-siapa kecuali warga Jakarta yang sangat menggemari sepakbola dan Persija. Saya juga bukan anggota the Jakmania.

Tapi kalau boleh saya memohon, kalian tidak meneruskan hal buruk yang pernah terjadi, apalagi sampai melakukan tindakan balasan atas semua hal tak enak yang pernah kalian atau Persija alami.

Kalian sendiri tahu, bahwa Persija sangat sulit mendapat izin untuk menggelar pertandingan di Jakarta. Kalau kalian adalah pendukung Persija, maka bantulah Persija dengan menjaga pertandingan berjalan dengan aman dan nyaman.

Termasuk juga menjaga tim dan suporter tamu yang bertandang ke Jakarta.

***

Jak, sekarang saya sedang meneruskan minat saya terhadap sepakbola kepada anak laki-laki saya, yang bulan ini akan berumur dua tahun. Salah satu cara mengenalkan sepakbola kepadanya adalah dengan mengenalkannya kepada tim tanah kelahirannya, yaitu Persija.

Sekarang ini, setiap kali dia melihat saya menyaksikan sepakbola di televisi, dia akan bilang saya sedang menonton Persija. Itu menunjukkan bahwa dia lebih dulu tahu Persija daripada sepakbola.

Saya sangat berharap dia nanti akan menjadi penyuka olahraga ini, karena sejak dini berkenalan dengan sisi baik sepakbola, termasuk dengan kalian, the Jakmania.

Saya mengandalkan kalian untuk menunjukkan kepada anak saya dan mungkin anak-anak lain di seluruh Jakarta dan Indonesia, bahwa sepakbola itu indah. Saya ingin menunjukkan bahwa sebuah laga sepakbola, terutama pertandingan Persija, adalah sebuah pesta besar.

Pesta dimana hanya keriangan dan suka cita yang kita rasakan di sana, apa pun hasil pertandingannya.

***

Jak, saya juga merasa sedih dan sakit hati saat melihat pemain Persija diperlakukan tak baik di kota lain.

Tapi saya lebih sedih bila perlakuan itu lalu mengubah kalian menjadi kelompok yang sama saja kualitasnya dengan mereka yang menyakiti Persija. Apalagi hal buruk itu bisa saja dilakukan pihak ketiga yang sengaja berbuat untuk merusak hubungan kalian dengan kelompok suporter lain.

Kalian tak cuma jadi sorotan kami sekeluarga, atau insan sepakbola se-Indonesia, tapi seluruh dunia telah menyorot kreatifitas kalian. Setiap kali saya menonton pertandingan internasional Persija di televisi, saya memilih untuk menonton di saluran televisi luar negeri, karena pasti akan tercetus kalimat pujian dan kekaguman dari komentator atau reporter atas penampilan kalian di tribun.

Itu membuat saya bangga.

Tak perlu membalas perlakuan buruk dengan hal yang sama, apalagi hanya untuk membuktikan bahwa kalian berani, kuat dan buas. Itu hanya akan menyenangkan pembenci kalian sekaligus mengecewakan kami warga Jakarta dan akan merugikan Persija sendiri.

Balaslah perbuatan mereka dengan perbuatan yang jauh lebih baik, sampai mereka bosan melakukan itu, atau kalau perlu sampai mereka malu atas sikap diri mereka sendiri.

***

Kepada kalian, the Jakmania…,

Tulisan ini saya buat untuk meminta kalian terus berbuat baik seperti yang telah kalian usahakan belakangan ini. Penampilan kalian saat laga Persija v. Persib di Liga 1 tahun 2019 dan Persija v. PSM di final leg 1 Piala Indonesia 2018, sangat mengagumkan.

Kalian telah banyak menutup noda kotor yang selama ini melekat di nama dan seragam kalian, dengan dukungan aksi yang memukau. Sekaligus juga seharusnya membuat tim tamu dan suporter mengangkat topi tanda hormat kepada kalian.

Ijinkan saya, istri dan anak saya, menggemari Persija bukan hanya karena prestasi dan nama besar Persija, tetapi juga karena kekaguman kami kepada kalian, pemain ke-12.

Saya tak lagi peduli, siapa yang lebih dulu menyulut permusuhan antara kalian dan kelompok suporter lain. Yang saya mau lihat adalah kalian menjadi perintis suporter sepakbola yang menghibur dan mempersatukan kita semua.

Saya yakin kalian mau dan mampu.

***

Terima kasih, the Jakmania.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2019 Agung Pushandaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *