Si Bapak Petugas Bandara

Sore itu, pesawat dengan penerbangan GA 408 dari Cengkareng ke Denpasar sudah menutup pintu siap meninggalkan tempat parkirnya. Dari jendela kursi nomor 1A, saya melihat tiga petugas bandara yang mengenakan rompi warna jingga terang, masih berada di bawah badan pesawat.

Tak lama kemudian, mereka bergerak menjauhi pesawat. Dua orang petugas pergi menjauh sambil setengah berlari, sementara yang satunya berjalan mundur sambil mengangkat tinggi dua jempol tangannya ke arah pilot.

Mungkin dia memberi tanda kepada pilot bahwa pesawat sudah siap diterbangkan. Petugas ini berpenampilan sudah agak tua, jadi saya menyebutnya si bapak petugas.

Beberapa saat setelah jempol tangannya diturunkan, pesawat bergerak perlahan. Si bapak petugas itu dengan sebuah senyum terkembang di wajahnya, kemudian mengangkat tangan kanannya dan melambai ke arah pesawat yang bergerak meninggalkannya.

Seperti seorang bapak yang melepas kepergian anggota keluarganya menuju ke dalam sebuah perjalanan. Saya senang melihatnya.

Saya jadi merasa didoakan dengan lambaian tangannya, yang seperti berkata “Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan”

Saya juga merasakan sebuah ketulusan dari bapak itu. Melambaikan tangan kepada orang yang dia tidak kenal. Kepada orang-orang yang dia tahu mungkin tidak peduli dengan lambaian tangannya, apalagi sampai melakukan hal yang sama kepadanya.

Hal kecil yang dilakukan si bapak petugas itu membuat saya merasa teberkati.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

30 thoughts on “Si Bapak Petugas Bandara”

  1. Kematangan jiwa apa memang tiba hanya seiring bertambah usia, jika membaca kisah atau mendengar cerita yang seperti Bli Gung sampaikan, rasanya sebagian besar hanya melibatkan orang yang telah cukup berusia.

  2. Keramahan petugas ground handling seperti itu memang selalu ditunjukkan oleh Garuda. Saya tidak melihat petugas airline lain melakukan hal itu ya. Jadi sepertinya memang sudah jadi semacam tatakrama yang berlaku di Garuda 😀

  3. Wah, kalau naik pesawat, saya tidak terlalu memperhatikan hal2 semacam itu. Jadi luput dari pandangan saya. Nantilah kalau ada kesempatan lagi naik pesawat, saya akan memperhatikan lambaian tsb.

  4. Bli Gung,
    kebetulan saya pernah menyaksikan petugas darat yang melambaikan tangannya saat pesawat beranjak perlahan kelandasan pacu (kebetulan juga sudah cukup berusia).

    Benar Bli, kita sebagai penumpang serasa dido’akan keselamatan perjalanan kita. Dan saya percaya, mayoritas petugas pasti mengharapkan dan berdo’a agar kita selamat sampai tujuan.

  5. masih kebawa suasana idul fitri ,jd kebawa sampai bandara hehe 🙂
    tapi kadang hal kecil yg ngga biasa kita sadari menjadi sangat berarti dan penuh makna di saat tertentu 🙂

  6. kpn ya pra tukang parkir bsa mencontoh bapak ptugas itu ?
    jd klo qta uda kluar parkir’an qta bsa d lambai2’in sma tukang parkir 🙂

    1. Maaf, anda salah orang. Saya bukan dokter dan nama saya Pushandaka, bukan adaka. Tapi terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. 🙂

  7. Saya rasa juga saya akan merasakan hal yg sama, akhir2 ini memang banyak tempat yg mengharuskan pegawainya u/beramah tamah dgn customernya tpi sulit sekali menemukan yg tulus 🙂

  8. Mengenai senyum mestinya bisa ditempatkan dimana saja. Gak perlu di atas landasan bandara dengan panas menyengat tapi bisa di mulai dari sini, diri kita sendiri 😉
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Comments are closed.