Setelah Delapan Bulan Semua Jadi Sia-Sia

https://pushandaka.com

Setelah sejak bulan April sampai dengan saat saya menulis ini, saya dan mungkin banyak orang yang bertahan dalam pembatasan aktivitas demi mencegah penularan Covid-19, merasa sia-sia dan tak dihargai sepantasnya.

Kurang lebih sudah delapan bulan lamanya, saya dan keluarga, mungkin juga anda yang membaca ini, telah berjuang dan bertahan dengan segala keterbatasan, menjaga dan melindungi kesehatan diri sendiri serta keluarga dari penularan virus Corona. Jangankan ke luar kota, bahkan saya memilih untuk sangat mengurangi aktivitas saya dan keluarga di luar rumah.

Kalaupun terpaksa keluar, saya menerapkan protokol kesehatan yang ketat sesuai anjuran pemerintah. Mulai dari memakai masker, menjaga jarak, sampai dengan membatasi diri untuk menyentuh benda-benda yang tidak penting untuk disentuh. Bila terpaksa harus menyentuh barang yang saya pikir juga banyak disentuh orang lain, seperti tombol lift, gagang pintu, bahkan sepeda motor saya sendiri yang diparkir di tempat umum, saya langsung mencuci tangan atau setidaknya memakai hand sanitizer sesaat setelah menyentuh barang tersebut.

Saya juga sangat mendukung dan mematuhi segala kebijakan dan keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang menerapkan PSBB, sekalipun keputusan tersebut banyak dipertanyakan, bahkan oleh para menteri di kabinet pemerintah pusat. Saya menyambut gembira, setiap kali membaca berita bagaimana aksi Satpol PP Provinsi Jakarta membubarkan kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa, menindak restoran yang tidak taat aturan dan melakukan operasi penegakan protokol kesehatan di jalan raya.

Saya termasuk orang yang menyayangkan pelaksanaan Pilkada serentak di tengah situasi tidak sehat seperti ini. Meskipun Pilkada adalah amanat undang-undang, sehingga ada dasar hukum yang kuat untuk tetap melaksanakannya, saya tetap berharap agar pelaksanaannya menghindarkan pengumpulan massa dan tetap dengan aturan ketat terkait protokol kesehatan.

Di level kantor, khususnya di instansi saya bekerja, saya termasuk pegawai yang aktif mengusulkan pemberlakuan work from home secara ketat kepada direktur.

Tapi percuma,

Setelah melakukan segalanya yang saya mampu, lalu melihat apa yang terjadi di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta, saya merasa apa yang telah dilakukan banyak orang demi mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Jakarta tidak mendapat apresiasi yang layak.

Bukan, saya bukan mengharapkan penghargaan, tapi saya ingin kebijakan itu diberlakukan dengan adil, sama rasa kepada semua warga Jakarta atau siapa pun yang berada di wilayah Jakarta. Pembiaran kerumunan secara besar-besaran seperti itu seperti mematikan harapan saya untuk bebas dari pandemi dan melihat Jakarta tidak lagi bertengger di tempat teratas sebagai wilayah dengan kasus positif harian tertinggi se-Indonesia.

Pemerintah beralasan, massa yang berkumpul terlalu banyak, mencapai ribuan orang, sehingga sulit dibubarkan. Tentu sulit membubarkan kerumunan sebesar itu, tapi seharusnya pemerintah bisa mencegah terjadinya kerumunan tersebut karena gelagatnya sudah nampak sejak jauh-jauh hari. Gubernur Jakarta, bisa berkoordinasi dengan gubernur provinsi sekitar untuk bersama-sama mencegah kedatangan orang-orang menuju Jakarta.

Bisa juga dengan minta dukungan pemerintah pusat penambahan bantuan tenaga keamanan untuk mencegah masuknya banyak orang dari daerah sekitar menuju Jakarta.

Sudahlah,

Semua sudah terjadi.

Katanya denda sudah dijatuhkan kepada penggagas kegiatan, walaupun saya pribadi merasa denda itu tetap tidak adil bagi banyak orang lainnya. Banyak orang mungkin berpikir kalau mampu membayar denda 50 juta itu berarti boleh membuat kegiatan yang menciptakan keramaian. Padahal seharusnya bukan seperti itu pesan moral yang bisa diambil kalau pemerintah tegas dengan penegakan setiap tahapan pencegahan dan aturan yang dibuat.

Saya masih menunggu respon pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jakarta terhadap ide atau rencana pelaksanaan pengumpulan massa bertajuk ‘reuni’ di Monas, sebab di sisi lain, Pemerintah Jakarta sudah tegas melarang pengumpulan massa untuk merayakan Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah seharusnya tegas dan adil. Dalam situasi seperti ini seharusnya musuh kita sama, yaitu Covid-19. Jangan biarkan banyak orang jadi saling curiga bahkan membenci karena standar ganda dan keputusan pemerintah yang pilih kasih.

Digiprove sealDigiproved

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

6 thoughts on “Setelah Delapan Bulan Semua Jadi Sia-Sia

  1. Aku juga sangat menyayangkan atas kejadian ini 🙁
    Rasanya makin ke sini, orang-orang malah semakin tidak peduli dengan virus ini. Malah menganggap semua udah berlalu/hoaks belaka, padahal setiap harinya jumlah orang yang terpapar semakin tinggi di Indonesia ini. Pemerintah tegas, nanti rakyat marah. Pemerintah tidak tegas, rakyat juga jadi korban. Serba salah ya, Kak ?

  2. Semua orang sudah mulai stress mas, jadi mulai masuk ke mazhab halusinasi..
    Diperparah dengan tokoh masyarakat yang merasa diri kebal sehingga membuat yang lain terhalu kebal juga :))..
    Sepertinya ke depan yg berlaku adalah seleksi alam…

  3. Sedih mas baca berita belakangan ini, entah kapan kita bisa dapat kebebasan kita lagi ? Semakin ke sini harapan yang ada bukannya semakin baik, tapi semakin luntur karena nggak tau siapa akan seperti apa Indonesia dikemudian hari ?

  4. benar sekali saya sendiri sampai sekarang masih tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk diri pribadi serta keluarga betapa sangat disayangkan kegiatan tersebut

  5. Sudah tak bisa ngomong lagi mas.. Soalnya kalau bahas yang itu nanti kata kata kasar dan kotor yang keluar dari mulut.

    Sayang mulut saya ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *