Setelah 2 Hari di Senayan..

4 menit waktu baca

Beberapa hari kemarin, terutama lagi 2 hari terakhir (2/3 dan 3/3), kita seperti dipaksa untuk ikut pasang mata dan kuping di Senayan. Bagaimana ndak, lhawong hampir semua berita mengarah ke Gedung MPR/DPR terutama Sidang Paripurna DPR menyangkut kasus Bank Century. Hari ini, suasana sudah sedikit lebih tenang (terutama suasana layar tivi saya, hehe!), walaupun sebenarnya masih ada berita dari beberapa daerah yang menderita ditimpa bencana. Maka, inilah yang saya dapat setelah membaca situasi di Senayan selama 2 hari terakhir..

1. Gedung MPR/DPR dan Gelora Bung Karno (GBK) memang sama-sama terletak di Senayan, tapi bukan dalam 1 gedung. Anehnya, suasana antara Gedung MPR/DPR kemarin ndak ada bedanya dengan suasana GBK saat sedang diadakan pertandingan sepakbola. Sorak sorai teriakan pendukung tim (opsi) A saling berbalas dengan teriakan pendukung tim (opsi) C.

Kalau di dalam pertandingan bola wasitnya dianggap curang, ndak jarang suporter nekat masuk ke lapangan menyerang wasit. Kalau sudah begitu, petugas keamanan juga berbondong-bondong masuk lapangan untuk menyelamatkan wasit. Anehnya, di Gedung MPR/DPR kejadiannya sama seperti itu. Saat wasit (ketua sidang) dianggap curang maka beberapa suporter pun langsung menyerbu “ke tengah lapangan” untuk memprotes keputusan wasit. Plus lemparan botolnya pun ada! Gile..

Setelah pertandingan berakhir, pasti ada tim yang kalah dan menang. Maka begitu juga di Gedung MPR/DPR. Sorak sorai nyanyian penggugah semangat dinyanyikan para pendukung tim (opsi) C setelah memenangkan pertandingan dengan skor 6-3. Dari tim pemenang biasanya ada Most Valuable Player atau Man of the Match atau bintang lapangan. Maka di sidang kemarin, yang jadi bintang lapangan adalah Lily Wahid yang menyumbangkan 1 gol untuk tim (opsi) C.

Intinya, suasana sidang dan pertandingan bola nyaris ndak ada bedanya. Kalau begitu, apa bedanya antara anggota dewan dengan bonek? Hehe, maaf kalau berlebihan..

2. Memperbarui definisi koalisi. Hari ini, kontroversi mengenai koalisi kembali menguat. Partai Demokrat sebagai pemimpin koalisi merasa partai lain ndak mengerti dengan makna koalisi. Kalau saya perhatikan, menurut mereka, koalisi seharusnya saling mendukung untuk memperkuat pemerintahan. Tapi menurut anggota koalisi yang “berkhianat” seperti Golkar, PKS dan PPP koalisi adalah kerja sama untuk membentuk pemerintahan yang bersih. Masih menurut mereka, koalisi seharusnya saling mengingatkan apabila ada yang berbuat salah. Tindakan mereka yang mendukung opsi C adalah bentuk peringatan itu. Saran saya sih, kalau mau bikin koalisi lagi, diperjelas definisinya.

Apakah koalisi itu cuma, “Ini jatah menteri buat kalian, setelah itu diamlah!”. Atau koalisi adalah, “Mari menyatukan tekad dan bertindak bersama-sama membentuk pemerintahan yang baik dan bersih”. Definisi ini selain agar ndak membingungkan partai peserta koalisi, juga untuk rakyat agar jelas apakah pengen mendukung koalisi atau malah menjadi pendukung oposisi.

3. Selanjutnya apa? Itu yang ada di benak saya saat melihat kegembiraan yang melanda fraksi-fraksi pengusung opsi C. Mereka ibarat tim yang baru saja menjuarai sebuah turnamen. Apakah ini klimaks kerja Pansus Century kemarin?

Beberapa pihak bilang, rekomendasi ini harus dijalankan oleh presiden dan para penegak hukum. Tapi, blum apa-apa para penegak hukum negara ini, KPK dan Kejaksaan, bilang bahwa kerja mereka ndak akan terpengaruh oleh rekomendasi DPR. Rekomendasi DPR adalah rekomendasi politik, sementara mereka, para penegak hukum itu, bukan lembaga politik. Menurut mereka, rekomendasi itu cuma berlaku untuk presiden, sebagai sesama lembaga politik.

Tapi presiden pun ternyata ndak harus “terpenjara” dengan rekomendasi itu kok. Secara logika, daya paksa rekomendasi tentu ndak sama dengan perintah. Rekomendasi bisa disamakan dengan saran. Ndak ada seorang pun yang bisa memaksakan pelaksanaan sebuah saran kepada orang lain. Iya ndak? Contoh nyatanya sudah terjadi saat DPR memberi rekomendasi kepada presiden tentang kasus penghilangan orang selama tahun 1997-1998. Tapi presiden ndak pernah melaksanakan rekomendasi itu sampai sekarang. Apakah rekomendasi DPR tentang kasus Bank Century bisa seperti itu? Kemungkinannya terbuka banget..

3. Demo rusuh masih terus terjadi. Mereka yang mendemo seperti yakin banget bahwa mereka pihak yang benar. Bahkan untuk membela kebenaran yang mereka yakini, mereka ndak segan berbuat onar. Saya merasa prihatin melihat keadaan itu. Pertama, saya prihatin karena pelaku kerusuhan itu justru berstatus kaum intelektual negeri ini. Mereka adalah kaum muda yang akan menjadi pemimpin negeri ini. Kalau sekarang saja mereka sepemarah itu, bagaimana di saat mereka menjadi pemimpin nanti? Jangan-jangan mereka cuma akan menjadi pemimpin yang mau menang sendiri (otoriter), yang kalau keinginannya ndak dituruti mereka akan mengamuk membabi buta. Bukan pemimpin idaman kita semua tentu saja.

Saya juga menyayangkan jumlah aparat yang mengamankan aksi unjuk rasa. Saya merasa, jumlah polisi sebanyak itu akan lebih berguna kalau ditempatkan di daerah perbatasan NKRI dengan negara lain, bukan di perbatasan (baca: gerbang) Gedung MPR/DPR. Tapi saya menyadari dilema yang dihadapi pihak Kepolisian. Intinya, ndak ada rasa saling pengertian yang cukup baik di antara mereka dan itu harus diperbaiki mulai dari sekarang.

***

Mungkin hal-hal di atas yang bisa saya dapatkan dari hasil 2 hari “berada” di Senayan. Silahkan buat teman-teman yang mendapat hikmah lain dari apa yang ditampilkan layar tivi kita dari Senayan, untuk menyampaikannya di komentar. Akhirnya, saya cuma bisa berharap setelah rusuh dan ribut-ribut 2 hari ini, selanjutnya yang terjadi adalah kebaikan dan kedamaian terutama untuk negeri ini..

Related Post

17 thoughts on “Setelah 2 Hari di Senayan..”

  1. Saya bener-bener kadang dibuat pusing kalau mesti mikirin politik, tapi kalau kemarin malah kamar saya berubah jadi tempat “nontong” bareng dagelan voting suara… Cekaka cekiki ala anak kost yang ga ngerti apa-apa kecuali keramaiannya saja…

    Entahlah, saya berpikir rasa-rasanya pandangan atau pun hasil itu tidak akan membawa banyak dampak apa pun. Atau saya terlalu pesimis ya… 🙁
    .-= Cahya´s last blog ..Dari TUGZip ke PeaZip =-.

  2. Untuk point 1… nanti Adjie Masid marah loh mas dibilang kayak mempertontonkan pertandingan sepak bola…hihihihihi

    Gua pun geli nonton sidang paripurna…hanya untuk sebuah rekomendasi yang kemungkinan bisa diselesaikan oleh para penegak hukum kok sampai membuat dagelan yang cukup dramatis…biaya pembuatan dagelan ini mgk mengalahi biaya pembuatan film…

    Luar biasa wakil rakyat kita yang selalu mengatasnamakan rakyat tapi ketika berbicara di ruang sidang selalu menyebutkan atas nama fraksi….

    ini mo cari kebenaran ato ingin mencari sapa yang dapat dipersalahkan….
    .-= Miranda´s last blog ..30 =-.

  3. masih males ngomongin senayan…
    tetep dengan alasanku bahwa sudah tepat pilihan untuk tidak memilih itu.
    hasilnya juga gini-gini aja. 😀
    .-= Yanuar´s last blog ..Sahabat =-.

  4. beneran, saya udah nggak peduli lagi sama berita2 politik, kasus century, atau berita2 lain yang melibatkan pemerintah. nggak ada bedanya sama nonton ekstravaganza, OVJ, acaranya budi anduk, bukan empat mata, dll.. :mrgreen:

    udah terlanjur eneg.. 🙁
    .-= morishige´s last blog ..Langkah (41): Dreamland =-.

  5. Diperlukan sikap arif, bijaksana, obyektif, bagi siapapun untuk memahami kebijakan publik yg telah diputuskan oleh para pemimpin negara untuk kemajuan bangsa tercinta…

Comments are closed.