Sesuatu Yang Tertunda

2 menit waktu baca

Kemarin saya membaca sebuah artikel terkait perayaan Hari Ibu. Artikel itu mengumpulkan beberapa opini dan pengalaman bintang-bintang sepakbola dunia tentang ibu mereka. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah kutipan pengalaman Javier Zanetti.

Kenangan tentang ibu saya? Ketika kami memenangkan Piala Italia melawan Palermo, dia mengirimkan sebuah pesan ke teleponku: ‘Anakku, selamat, aku bahagia untukmu, aku mencintaimu.’ Pesta di Milan berakhir telat, saya berpikir untuk meneleponnya keesokan harinya. Tapi, saya tak memiliki kesempatan lagi, karena dia meninggal dalam tidurnya.

Saya sedih membaca kutipan pernyataan di atas. Sebab saya punya pengalaman yang tidak terlalu berbeda dengan yang dialami mantan pemain nasional Argentina itu.

***

Waktu itu, menjelang akhir 2013, saya tugas dinas ke Australia. Seperti biasa, sebelum berangkat kemana pun saya pergi, saya selalu berkirim pesan ke ibu saya untuk mohon doa restunya.

Waktu itu, selain merestui perjalanan dinas saya, ibu juga titip oleh-oleh topi hangat.

Ibu saya menderita kanker yang sangat akut.

Mungkin akibat perawatan dan pengobatan yang dia jalani selama bertahun-tahun, rambutnya rontok sehingga membutuhkan penutup kepala agar kepalanya tetap hangat.

Singkat cerita, pulang dari Australia, saya simpan topi wol yang saya beli di Sydney untuk ibu.

Sengaja saya beli beberapa potong topi wol agar ibu punya banyak pilihan topi yang ingin dipakainya.

Ada keinginan untuk segera mengirimkannya ke Denpasar, tapi saya berpikir untuk menyerahkannya langsung kepada ibu saat saya pulang liburan Natal yang tinggal sebulan lagi.

Waktu terus berjalan, hari berganti, bulan Desember pun tiba.

Saya sudah membeli tiket pesawat ke Bali untuk tanggal 26 Desember 2013. Saya sudah siapkan topi wol dan oleh-oleh lain untuk ibu dan adik-adik saya di dalam koper yang akan saya bawa pulang ke Denpasar.

Tapi saya hanya bisa berencana…

Bangun pagi di hari suci Natal, tanggal 25 Desember 2013, saya sudah bersiap ambil handphone untuk mengucapkan selamat Natal kepada ibu.

Belum juga saya sempat melakukannya, salah satu adik saya menghubungi lebih dulu dan mengabarkan berita duka itu.

Ibu meninggal dunia.

Akhirnya, saya cuma bisa sampaikan topi wol untuk ibu di peti matinya.

***

Saya berbagi cerita ini bukan untuk menarik simpati siapa pun. Saya hanya ingin mengingatkan, jangan pernah menunda sedetik pun niat anda untuk ungkapkan kasih sayang anda kepada orang-orang yang anda kasihi, apalagi ibu anda.

Ungkapan itu tidak harus mahal dan rumit.

Saat anda tinggal berjauhan dengannya, anda bisa menelponnya atau mengiriminya pesan singkat sms, bbm, whatsapp, atau apapun itu caranya.

Kalau anda masih tinggal berdekatan dengan ibu, ungkapan rasa kasih bisa anda lakukan dengan mengunjunginya, menemaninya ngobrol, dll.

Apalagi kalau masih tinggal serumah dengannya, tentu lebih banyak lagi cara yang bisa anda lakukan untuk menyampaikan kasih sayang anda.

Jangan pernah menunda.

Sebab, sesuatu yang anda tunda itu bisa membebani anda sepanjang hidup.

Sekalipun saya yakin, ibu akan selalu menjadi orang pertama yang memaafkan setiap kesalahan dan kekhilafan anak-anaknya, tapi ungkapan yang tertunda itu akan selalu membuat anda menyesal.

Jangan pernah menunda.

 

*selamat Hari Natal, Ibu. Damailah di surga.
Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2015-2017 Agung Pushandaka

4 thoughts on “Sesuatu Yang Tertunda”

  1. Sedih bacanya, jadi pelajaran dan pesannya dalem banget, utk berpikir ulang saat lagi bete sm mama dan utk tdk mnunda untuk menunjukkan kasih sayang ke orang terdekat terlebih orang tua.
    Sederhana tapi maknanya mengena sekali.
    Mas hebat.

  2. Cerita yang menginspirasi sob.. saya setuju.. Jangan pernah menunda untuk ungkapkan kasih sayang kita kepada orang-orang yang kita kasihi,

  3. saya termasuk orang yang anti hari ibu, maksudnya tidak harus menunggu hari ibu untuk mengungkapkan sayang kepada ibu, kapan pun bisa, cinta kasih tak kenal waktu

Comments are closed.