Semua Salah Perempuan

https://pushandaka.com

Dulu ada yang bilang, perempuan tak pernah salah. Tapi nampaknya sekarang tak lagi demikian.

Kasus viral yang terjadi di salah satu gerai Starbucks menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat justru menyudutkan kaum perempuan sebagai pemicu kejahatan terhadap mereka sendiri.

Katanya, pelecehan seksual terjadi justru disebabkan oleh pakaian mereka yang memancing tindakan kriminal tersebut.

Contoh lain, KDRT yang dilakukan suami kepada istri disebabkan oleh keengganan sangat istri untuk melayani kebutuhan batin si suami.

Atau pemerkosaan terhadap anak perempuan karena ibunya bekerja di luar rumah.

Duh!

Tepatkah pemikiran seperti itu?

Menurut saya, korban kejahatan adalah korban. Pemicunya ada di pikiran pelaku kejahatan itu, bukan dari korban.

Bolehkah kita menganiaya seseorang lalu malah menyalahkan si korban karena mukanya ngeselin?

Seseorang yang memakai kalung emas di tempat umum tidak bisa disalahkan saat menjadi korban jambret, meskipun sebagian orang berpandangan lebih baik tak memakai perhiasan di keramaian.

Korban, terutama perempuan dan anak-anak, akan mengalami trauma dari kejahatan yang mereka alami.

Siapa pun yang menjadi korban harus dilindungi, dikuatkan, dipulihkan lagi kepercayaan dirinya, salah satunya dengan mengadili si pelaku tanpa mencari pembenaran dengan menyalahkan korban.

***

Memang tabiat manusia saat melakukan kesalahan akan selalu mencari pembenaran, termasuk menyalahkan korban.

Jangankan korban, seringkali pelaku malah menyalahkan setan setelah melakukan perbuatan kriminal atau dosa.

“Emang setan!”

Digiprove sealDigiproved

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

26 thoughts on “Semua Salah Perempuan

  1. Hahahahaha ketawa baca kalimat terakhir, memang setan ya, mas ? hahahaha. Saya kalau baca berita yang selalu menyalahkan begitu cuma bisa geleng kepala.

    Kenapa hobi banget menyalahkan orang instead of refleksi kesalahan ? dan suka merasa sedih juga especially perihal pelecehan karena acap kali korban yang disalahkan atas kebrengsekan otak dan ulah pelakunya. Huftttt ~

    1. Sekarang kejahatan ada bukan hanya karena ada kesempatan tapi kejahatan ada karena dipaksa ada oleh si pelaku. Jadi waspada saja tak cukup, karena kini sudah banyak setan kasak mata.

      1. Ha..ha… Bener mas, zaman sekarang bentuk kejahatan makin banyak jenisnya dan cara membela diri pun makin banyak nggak benernya. Nyalahin korban sampai nyalahin setan?
        Padahal itu membuktikan kalau dia juga takluk sama setan.
        Namanya aja pembenaran. Berarti untuk hal benar yang disalahkan, bukan hal salah yang mau dibenarkan.
        Ckckck….

        1. Pembenaran itu berarti membenar-benarkan sesuatu yang seharusnya salah.
          Sebenarnya beda tipis dengan pembelaan, tapi pembelaan lebih kepada penyampaian fakta bahwa pelaku sebenarnya tidak bersalah.
          Kalau pembenaran, si pelaku mengaku salah tapi membuat hal lain sebagai alasan yang seharusnya bisa membenarkan kesalahan dia.

  2. Laki-laki yang demen memperkosa itulah setan sebenarnya.
    Setan berwujud lahir sebagai manusia.

    Pelaku kejahatan seksual menurutku memang pantas dapat hukuman kebiri.
    Biar jadi contoh terbaik.
    Eh, benar ngga sih usulanku itu … ,kalau ngga punya ‘itu’ lagi lalu gimana tuh ya ? ?

  3. Enak itu yang salah setan semua saja kalau begitu, hahahaha… tapi kedengarannya enak perempuan selalu benar… kalau kalimat diatas itu kok kayaknya laki-laki yang jadi menang sendiri.

  4. Sudah menjadi korban, disalahin pula ama sebagian netijen yang asal jeplak nda tahu kronologisnya bagaimana #ya makin remuk redamlah psikologis korbannya itu…hiks….#sedih

    Yah, memang di era yang semakin apa-apa semua mua seakan menjadi mudah untuk dikomentari ini, cukup membuat kita harus bener-bener memakai logika dulu ya bli sebelum keluar kata-kata, saya aja kalau ada berita viral apa mendingan ga komen aneh-aneh deh, soalnya suka memposisikan diri sebagai subjek yang diomongkan gitu, yang mana tentunya psikologisnya bakal terguncang hebat loh kalau sampai dikomenin aneh-aneh oleh netijen tak bertanggung jawab se-Indonesia raya pula..huhu

    1. Betul Mbak, dalam beberapa hal memang kita harus mengontrol nafsu kita untuk bicara dan berkomentar kalau tidak berada di dalam situasi tersebut.
      Tapi apapun alasannya, korban kejahatan seharusnya dilindungi lebih dulu, termasuk dari komentar dan sanksi sosial netijen.
      Kalaupun ada hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kejadian yang menimpa korban, biarlah kita simpan dalam hati dan kita terapkan di keseharian kita tanpa perlu menyalahkan korban.

  5. Kelewatan kalau menyalahkan perempuan, atau tepatnya menyalahkan kondisi. Tapi otak manusia kalau sudah kepepet (alias dipepet setan) pasti menyalahkan kondisi, bilang bahwa perempuan itu menggoda dia, atau kenapa mamak2 itu pake kalung emas.
    Coba dibalik, ada cowok (bener2 cowok) pake celana gemez ketat sama tshirt jala-jala masuk kede kopi lalu diintip juga dari cctv (alasannya karena suka), kira2 bakal salahkan cowoknya gak yaaa…

    1. Kalau dibalik situasinya pasti komentar orang akan berbeda kak.
      Kalau cowok itu menjadi korban pelecehan oleh cewek, pasti sanksi sosialnya adalah “cewek apaan kok agresif amat”
      Atau kalau korban cowok dilecehkan oleh sesama cowok juga, pasti kak Zizy tahu vonis sosial yang akan diterima oleh si pelaku.

  6. Jaman akhir seperti ini memang ribet
    Dan semua serba jelemet
    Antara yang salah dan benar, sekatnya beda tipis
    Dan paling asek yang itu, jemari menunjuk hidung orang lain daripada hidung sendiri 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *