Scudetto Terbaik

Setelah sebelas tahun, akhirnya Inter Milan kembali menjadi juara di kompetisi sepak bola tertinggi di Italia, Serie A.

Terakhir kali Inter meraih Scudetto, simbol gelar juara Liga Italia, adalah pada musim kompetisi 2009/2010. Setahun kemudian, gelar juara direbut rival sekota, AC Milan. Selanjutnya Juventus mendominasi Italia dengan raihan juara sembilan kali berturut-turut sampai tahun 2020.

Saya pribadi, yang telah menggemari dan setia menyaksikan pertandingan-pertandingan Inter Milan di layar kaca sejak tahun 1990, sangat bersukacita dengan gelar juara musim ini. Bahkan saya menganggap ini adalah Scudetto terbaik yang pernah saya rasakan. Mengapa begitu, berikut alasannya:

Dimulai dari nol dan status medioker.

Untuk meraih gelar juara musim ini, Inter seperti memulai segalanya dari nol. Penggantian pelatih/manajer di musim lalu dari tangan Luciano Spalletti kepada Antonio Conte, memaksa manajemen mengubah komposisi pemain. Tidak secara drastis memang, tapi beberapa pemain kunci di musim sebelumnya terpaksa didepak karena tidak sesuai dengan kebutuhan Conte. Drama yang paling menyorot perhatian tentu hengkangnya Mauro Icardi, mesin gol Inter sejak tahun 2013, ke Paris Saint Germain.

Satu per satu beberapa pemain lain menyusul. Meskipun dengan status peminjaman tapi itu berarti mereka tidak dibutuhkan lagi. Sebut saja Joao Miranda, Joao Mario, Radja Nainggolan, dan Ivan Perisic yang sekarang telah kembali ke Inter. Pemain-pemain itu tidak dijual secara permanen karena klub peminat juga kesulitan finansial.

Komposisi starting eleven juga didominasi muka-muka baru. Sebutlah Alessandro Bastoni, Stefano Sensi, Nicolo Barella, dan Romelo Lukaku. Lebih serunya lagi, pemain inti Inter tidak ada yang berpengalaman menjuarai Liga Italia, atau liga negara lain. Arturo Vidal dihadirkan untuk menularkan mental juara. Ia pernah juara di Italia sebelumnya bersama Juventus, di Spanyol, di Jerman, dan juara bersama timnas Chile.

Dengan pemain-pemain medioker, yang dalam arti kata bukanlah pemain juara, justru Inter berhasil menyisihkan tim-tim lain yang diperkuat pemain juara. Misalnya AC Milan bersama Zlatan Ibrahimovic yang pernah juara Italia di musim 2010/2011, dan tentu saja Juventus bersama Cristiano Ronaldo. Mereka berdua pernah juara di Italia dan di negara-negara lainnya.

Rival dalam kondisi terkuat.

Berbeda dengan Scudetto yang diraih Inter pada tahun 2006 sampai dengan 2010, gelar musim ini diraih Inter dengan mengadang para rival yang berada dalam keadaan terbaiknya. Dibandingkan dengan kondisi 2006-2010, yang saat itu mungkin hanya AS Roma yang tidak terpengaruh kisruh Calciopoli, kali ini semua klub pesaing dalam kondisi yang baik dan bersaing dari garis start yang sama.

Musim lalu, dalam proses transisi, Inter langsung mengejar sang juara bertahan Juventus di papan klasemen. Akhirnya tetap tertinggal satu poin di akhir musim. Plus menjadi finalis Liga Eropa. Tentu semakin menebalkan harapan saya dan Interisti di seluruh dunia untuk pencapaian yang lebih baik di musim selanjutnya.

Musim ini juga Inter mengalahkan langsung rival-rivalnya di atas lapangan. Inter menang secara meyakinkan atas AC Milan, Juventus, Napoli, Atalanta dan juga Lazio. Sehingga secara head to head, Inter juga tetap akan bercokol di atas, meskipun Serie A belum menuntaskan seluruh pertandingannya.

Isu finansial Inter.

Inter musim ini juga berhasil mengalahkan kelemahan mereka sendiri, salah satunya adalah kondisi finansial yang tidak sehat. Memang, kondisi ini juga dialami oleh klub-klub lain terutama semenjak merebaknya pandemi Covid-19. Tapi isu yang berkembang di luar, Inter akan mengalami dampak terburuk. Inter tak akan mampu membeli pemain baru, apalagi pemain bintang, dan membayar gaji/bonus kepada pemain tepat waktu. Bahkan Inter disinyalir akan bangkrut.

Sampai dengan kepastian Inter meraih Scudetto musim ini, isu finansial masih simpang siur. Suning, perusahaan asal Tiongkok yang menguasai saham mayoritas Inter, terus diberitakan bernegosiasi dengan perusahaan lain untuk jual-beli saham Inter. Sementara di luar kantor Inter, hembusan isu bahwa Inter akan menjual pemain-pemainnya dengan harga miring demi menekan gaji dan biaya operasional selalu terdengar.

Bahkan isu lain tersiar, bahwa para pemain terpaksa tidak mendapat bonus juara dari manajemen. Andaikata Inter belum juara, isu ini akan menjadi bulan-bulanan oleh suporter klub rival, yang sebenarnya biasa saja, tapi kadang-kadang membuat hati panas.

Membungkam mulut besar suporter Milan.

Satu hal terakhir tapi tidak kalah penting yang membuat saya sangat puas dengan pencapaian Inter musim ini adalah Inter telah berhasil membungkam mulut besar suporter Milan di Indonesia, terutama di media sosial. Memang betul, pernyataan-pernyataan mereka tidak mewakili Milan atau klub suporter secara resmi, tapi apa yang mereka katakan bukanlah wujud optimisme, tapi kesombongan.

Misalnya ungkapan “menang ora umuk, kalah ora ngamuk” yang diubah menjadi “menang ora umuk, kalah ora mungkin” saat Milan unbeaten, atau “Milan rindu kalah”, “Liga ini terlalu mudah”, dan lain sebagainya, banyak bertebaran di media sosial. Bahkan ada penggemar Milan menantang taruhan nyawa. Lucu sebenarnya kalau diperhatikan, atau bila ungkapan-ungkapan itu ditujukan di lingkungan mereka sendiri.

Tapi apapun alasannya, kesombongan mereka mulai meredup saat Milan tumbang secara telak 0-3 dari Inter dan posisinya terus merosot sampai sempat ke peringkat kelima. Beberapa akun media sosial yang pada awalnya sangat jemawa, lalu berubah menjadi bijak dan bahkan tidak sedikit yang mengunci akunnya sehingga tidak bisa diakses secara bebas lagi.

Setidaknya sekarang mereka lebih tahu diri bahwa Milan sempat berada di atas bukan karena kehebatan mereka sendiri, tapi karena tim lain yang belum menunjukkan kekuatan terbaiknya. Bahkan melawan Spezia pun mereka kalah 0-2.

Gelar juara Inter yang lain.

Tentu saya tidak akan begitu saja mengabaikan prestasi Inter yang lainnya. Sejak tahun 1990, saya ikut merasakan beberapa prestasi Inter. Semuanya berkesan tapi tidak semuanya istimewa.

Gelar pertama yang cukup istimewa adalah gelar juara Piala UEFA tahun 1998. Gelar itu sedikit melegakan karena terhindar dari gagal total kehadiran Ronaldo. Saat itu kedatangan Ronaldo heboh menghiasi surat kabar namun ternyata tetap gagal meraih gelar juara Liga Italia. Kemenangan di final Piala UEFA atas Lazio, cukup mengamankan nama besar Inter dan potensi Ronaldo, walaupun pada akhirnya itu menjadi satu-satunya gelar juara yang dipersembahkan Ronaldo bagi Inter.

Gelar selanjutnya yang berkesan tentu saja saat Inter meraih treble winner. Sampai saat ini, belum ada klub Italia yang bisa menyamai prestasi itu, dimana dalam satu musim kompetisi, Inter berhasil meraih tiga gelar utama, yaitu dua gelar domestik dan satu lagi adalah juara Liga Champions. Sayangnya, prestasi itu seperti menjadi pintu masuk bagi Inter kembali menjadi klub medioker, yang lebih sering menempati papan tengah daripada menjadi pesaing serius bagi Juventus dalam perebutan Scudetto.

Bagaimana selanjutnya?

Apakah Scudetto ini akan menjadi satu-satunya dalam sepuluh atau sebelas tahun ke depan? Bisa saja.

Lihatlah bagaimana Inter agak kesulitan memenangkan pertandingan di beberapa pekan terakhir. Setelah kemenangan di laga derby, Inter tak lagi bisa menang dengan meyakinkan. Inter sering menang dengan skor tipis, bahkan pernah ditahan imbang Spezia, dengan skor 1-1. Apakah strategi permainan Inter telah diketahui oleh tim lawan? Mungkin saja.

Apabila hal itu dibiarkan terus, Inter bisa saja memulai kompetisi musim depan dengan kesulitan yang sama seperti yang terjadi beberapa pekan terakhir. Bila itu terjadi, peluang Inter untuk mempertahankan gelar juara musim depan semakin kecil.

Tapi apapun yang akan terjadi, saya ucapkan selamat kepada semua Interisti di seluruh Indonesia. Janganlah khawatir hari esok, nikmatilah dulu gelar juara musim ini.

Digiprove sealDigiproved

Comments

  • Selamat untuk Inter yang udah dipastikan meraih scudetto Serie A musim ini

  • Leave a Reply

    Newsletter

    Twitter

    Melihat perayaan suporter atau pemain atas prestasi klubnya, yg nyinyir:

    "Halah cuma piala pramusim"

    atau

    "Wkwkwk, baru scudetto sekali aja girang amat"

    Mereka bilang begitu ya krn klub favoritnya lagi kalah. Biarin aja..

    Load More...