Saya Menolak Esemka

1 menit waktu baca

Belakangan di media hangat diulas tentang mobil rakitan siswa-siswi sebuah SMK di Solo yang dinamai Esemka.

Berita ini juga dibumbui dengan kebijakan walikota Solo menjadikan Esemka sebagai mobil dinas walaupun semua uji kelayakan belum rampung.

Euforia ini pun berlanjut dengan rencana produksi massal mobil ini.

Jujur, kalau begini, saya menolak Esemka.

Mobil ini rencananya akan dijual seharga, paling mahal, 95 juta rupiah.

Dengan desain yang elegan dan performa yang – konon – tidak kalah dengan mobil impor, rasanya mobil ini akan laris manis di pasaran lokal.

Tapi pikiran saya kemudian tertuju pada jalanan ibukota Jakarta.

Bayangkan, tanpa mobil semurah Esemka saja jalanan penuh dengan kendaraan roda empat dan menyebabkan macet. Apa jadinya kalau Esemka hadir dan memudahkan masyarakat golongan menengah memiliki mobil pribadi?

Saya lebih setuju, kalau Esemka diproduksi terbatas untuk menjadi mobil dinas pejabat.

Apalagi sudah banyak pejabat yang berminat dengan mobil ini.

Kalau memang terbukti ketangguhannya, pemerintah sebaiknya mendukung Esemka untuk memproduksi kendaraan untuk transportasi umum, misalnya bis atau angkot.

Sehingga masyarakat bisa menikmati transportasi umum yang murah tapi nyaman dan aman, tentu dengan melewati prosedur uji kelayakan.

Daripada Esemka malah menambah kemacetan jalanan, saya berpendapat lebih Esemka tidak diproduksi untuk dijual bebas.

Tapi untuk kepentingan tertentu saja, misalnya untuk mobil dinas atau transportasi umum.

Kalau cuma untuk mobil pribadi, saya menolaknya.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012-2017 Agung Pushandaka

Related Post

15 thoughts on “Saya Menolak Esemka”

  1. Kalau memang mobilnya tangguh, kenapa tidak.
    Tapi tentu performa mesin belum bisa menandingi para senior ya. Seperti mobil Timor dulu, murah tapi performanya juga so so lah….

  2. Kemacetan itu adalah salah satu masalah, dan pasar mobil selama ini tetap memberikan ruang yang cukup besar untuk timbulnya potensi kemacetan.

    Salah satu kepentingan untuk menumbuhkan kompetisi lokal saya kira tidak bisa dihapus begitu saja karena bahaya kronis kemacetan lalu lintas. Bahkan tanpa mobil dalam negeri pun saya kira daya beli masyarakat tidak akan bisa dibendung untuk keberadaan lebih banyak kendaraan di jalanan.

    Mungkin pola pikir masyarakat yang perlu diubah, seperti di luar negeri, mobil hanya digunakan untuk bepergian jauh bersama keluarga. Namun jika ke kantor atau bekerja, maka angkutan umum lebih dipilih.

    Tapi kalau kita juga tidak membangun sarana dan prasarana umum yang bisa mendukung keperluan transportasi murah bagi rakyat, ya sia-sia juga, karena segala-sagalanya akan kembali ke pilihan kendaraan pribadi yang terasa lebih baik.

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya ndak bermaksud menghambat pertumbuhan kompetisi lokal cuma karena alasan kemacetan. Seperti yang anda bilang, tanpa mobil murah pun daya beli masyarakat ndak bisa dibendung, apalagi dengan kehadiran mobil lokal dengan harga terjangkau seperti Esemka, bukan macet lagi, tapi jadi buntu. Hihi!

    Maka itulah saya berpendapat, Esemka diubah dari produksi mobil pribadi menjadi mobil untuk transportasi umum. Cuma mengubah peruntukannya saja kok, misalnya Esemka diproduksi untuk dijadikan angkutan umum, tentu desainnya juga disesuaikan untuk tansportasi umum.

    Syukur kalau pabriknya bisa merakit sebuah minibus untuk angkutan yang lebih besar di dalam kota. Kalau memang teruji kelayakan, keamanan dan kenyamanannya, saya rasa akan banyak orang yang akan meninggalkan kendaraan pribadinya, bahkan termasuk sepeda motor, dan menikmati angkutan umum yang murah, nyaman dan aman seperti Esemka.

    Ujung-ujungnya, Esemka tetap bisa diproduksi, kemacetan bisa dikurangi.

    Cahya Reply:

    Saya setuju dengan hal itu, jika bisa direalisasikan akan sangat bagus :).

  3. kalau ane lebih setuju bikin mobil buat umum aja sob, terus mobil – mobil buatan luar negeri dilarang atau dikembalikan ke negara asalnya…hehehe ini hanya sekedar usul saya 🙂

    Artha Reply:

    hehehehe … dikembalikan ke asal serta mengirim esemka ke negara lain

  4. esemka adalah buah karya para siswa SMK, saya pikir sudah sepatutnya didukung dan dilepas ke pasar apa adanya, tak perlulah pemerintah pusat dan daerah turut campur tangan membatasi produksinya khusus utk kendaraan dinas. kadang campur tangan terlalu besar justru akan mematikan kreativitas akibat banyaknya ‘pesanan’. ini langkah pertama yang patut didukung, mesti concern saya lebih ke lingkungan. seandainya ke depannya mobil ini dapat menggunakan energi terbarukan, tentu lebih mantap lagi.

    kemacetan? itu memang kronis, tapi saya pikir tidak layak disandingkan dengan mobil ini. itu dua hal berbeda 🙂

    Agung Pushandaka Reply:

    Maaf, saya ndak setuju mas.

    Pertama, kenapa saya saran untuk mobil dinas? Sebab, satu, mobil ini blum layak diproduksi secara massal. Dua, kalau mobil dinas pakai mobil murah, anggaran untuk penyediaan mobil dinas bisa dihemat dan dipakai untuk hal lain yang lebih penting.

    Kedua, kemacetan bisa banget disandingkan dengan mobil ini dan mobil-mobil lainnya. Sebab, satu-satunya solusi mengurai kemacetan adalah mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya. Maka saya berpendapat, mobil sebagus ini kalau dipakai untuk transportasi umum pasti memudahkan masyarakat memilih naik transportasi umum dan meninggalkan kendaraan pribadinya.

    Jadi, sama-sama diuntungkan. Masyarakat senang dan siswa-siswi SMK pun bisa tetap melanjutkan hobinya merakit mobil. 🙂

  5. Awalnya memang lebih tepat digunakan untuk mobil dinas. Negara akan hemat miliaran rupiah. Tapi ketika pada akhirnya, warga berminat kenapa tidak diserahkan kepada mekanisme pasar? Toh, ini bisa mengurangi ketergantungan pada mobil impor. Tentu setelah semua proses uji kelayakan dan uji aman terlewatii…

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya justru melihat besarnya minat masyarakat terhadap mobil ini bisa diarahkan kepada memanfaatkan mobil ini sebagai angkutan kota. Lagipula, ndak banyak juga masyarakat yang akan mampu menikmati mobil ini sebagai kendaraan pribadi. Maka itu, lebih adil rasanya kalau mobil ini bisa dinikmati semua golongan masyarakat sebagai angkutan kota, yang tentu saja dapat mengurangi macet. :p

  6. Hmmm, menarik juga pendapat ini ya. Memang secara logika kalau ada mobil murah dengan kualitas setara denga mobil impor lainnya, maka kita semakin mudah membeli mobil dan ujung-ujungnya akan menjadi macet.

    Memang bisa jadi seperti itu. Tapi saya tidak terlalu setuju dengan pendapat anda ini, karena belum tentu mobil Esemka ini akan menimbulkan kemacetan, tapi dengan syarat-syarat yaitu pemerintah bisa memecahkan masalah dan penyebab macet lainnya.

    Maksud saya, ok kita kembangkan mobil nasional Esemka, tapi masalah kemacetan juga harus diatasi, bukan dengan menyetop perkembangan mobil Esemka, tapi dengan memperbaiki transportasi publik, memperbaiki fasilitas umum, dll.

    Jadi nanti silahkan rakyat yang memilih, membeli mobil Esemka atau mau naik kendaraan umum yang sudah memadai.

    Karena dalam pikiran saya, kalau rakyat memang sudah mampu membeli mobil, tidak ada mobil Esemka pun mereka akan tetap beli mobil impor.

    Begitu, kurang lebih mohon maaf.

    Agung Pushandaka Reply:

    Iya Pak Wira, saya maafkan. Hihi..

    Tapi begini Pak, mengurai kemacetan memang tugas pemerintah. Selama ini Pemerintah taunya cuma bikin jalan dan bikin jalan. Di jakarta, jalanan sudah bertingkat 3 pun masih tetap macet. Giliran diminta sediain kendaraan umum yang bagus, cuma bisa beli dari luar negeri dengan harga mahal, itu pun cuma bekas. Contoh saja, bus transjakarta.

    Nah, ini mumpung ada putera-puteri yang bisa merakit mobil, kenapa ndak dimanfaatkan dulu untuk kepentingan umum yaitu dengan memproduksi Esemka tapi diperuntukkan ke kendaraan umum, bukan cuma dijual sebagai kendaraan pribadi yang nantinya akan cuma bisa dinikmati oleh segelintir saja masyarakat (yg punya duit 150 juta), tapi macetnya dirasakan lebih banyak orang.

    Sekali lagi, saya bukan menolak Esemka untuk diproduksi. Saya mendukung tapi peruntukannya bukan menjadi mobil pribadi dulu, tapi kendaraan umum.

    Saya juga minta maaf untuk semua kurang dan lebihnya. hehe..

    adin Reply:

    setuju mas dengan pendapatnya, soal kemacetan emang udah parah, g cuma di jakarta, di jogja aja sekarang rasanya udah makin sumpek, macetnya minta ampun.

    Pembangunan jalan sedikit banyak bisa bantu ngurangi macet, tapi gak lama, kendaraan makin banyak, jalan yang udah diperbanyak jadi terasa kurang luas lagi, saya setuju kalo lebih difokuskan memperbaiki infrastruktur publik seperti kendaraan umum, dll, plus kesadaran masyarakat untuk ‘tidak gengsi’ menggunakan kendaraan umum atau kendaraan yang ramah lingkungan, seperti sepeda

  7. saya sih pesimis, heboh tentang mobil ini saat ini banyak yang mencari popularitas saja, termasuk saya (kebetulan saya juga menulis topik ESEMKA di blog saya)

    lihat pengalaman tentang KIA Timor yg dulu dibikin Tommy Soeharto, yang nota bene bukan merupakan pengusaha kacangan, gimana pamornya sekarang? maaf saya bukan tidak mendukung ESEMKA, tetapi lebih baik kita memikirkan hal lain yang lebih menyangkut hajat hidup orang banyak.

    kepada pejabat yang membeli mobil ini, silahkan saja, tetapi sebaiknya tidak usah digembar gemborkan di media, jujur, kita jauh tertinggal oleh India yang dengan merek “Bajaj” nya sudah mendunia, padahal India dulu termasuk negara miskin.

    lebih baik kita introspeksi diri, kembangkan sumberdaya alam kita yang maha melimpah ruah di bumi pertiwi ini, apa yang tidak dimiliki oleh Indonesia? saya rasa hanya dedikasi untuk bangsa yang belum dimiliki oleh orang2 kita.

    maaf, komentar saya ini hanyalah komentar tidak penting dari seorang rakyat jelata…

Comments are closed.