Satu Gol Seribu Asa

Tahun ini Persija lebih banyak kalah. Tak banyak kejadian istimewa yang bisa saya pilih sebagai best moment untuk saya tulis dalam rangka mengikuti Kontes Blog Shopee Liga 1.

Harapan the Jakmania, suporter setia Persija, untuk melihat tim kesayangannya berprestasi seperti tahun lalu sempat tumbuh di awal tahun 2019. Kemenangan dan hasil positif lainnya di ajang Piala Presiden dan AFC Cup semakin menyuburkan harapan itu.

Persija berhasil mengalahkan Borneo FC dengan skor 5-0 di penyisihan Piala Presiden. Kemudian dilanjutkan dengan kemenangan atas kandidat juara, Bali United FC, di turnamen yang sama pada babak perempat final.

Di ajang Piala AFC, Persija juga tampil baik, salah satunya dengan kemenangan di kandang lawan saat menghadapi Shan United FC, tim asal Myanmar, dengan skor mencolok 1-3.

Tapi harapan itu mulai layu dengan hasil buruk yang diraih kemudian. Persija gagal mempertahankan performa di AFC Cup, tersingkir di babak penyisihan grup. Kekalahan back to back dari Ceres-Negros FC, tim kuat asal Filipina, membuat peringkat Persija semakin merosot.

Persija juga gagal meraih kemenangan di beberapa laga awal kompetisi Shopee Liga 1. Salah satunya adalah tumbangnya Persija oleh tim asal Semarang, PSIS, dengan skor 2-1.

Semuanya seperti berjalan tak menentu, sampai akhirnya Persija kalah di partai puncak Piala Indonesia, ditumbangkan oleh PSM di Makassar dengan berbagai drama yang menyertai.

Sejak saat itu, bisa dibilang bahwa harapan juara yang tertanam di hati ribuan the Jakmania telah mati.

Suasana kelam menyelimuti Persija. Hubungan antara pemain, pengurus dengan suporter tak lagi hangat. Bahkan the Jakmania memberi kritik keras menjurus hujatan kepada timnya sendiri di beberapa pertandingan kandang.

Sebagai penggemar Persija, saya pun merasakan kesedihan yang pekat melihat prestasi Persija tahun ini. Sampai pekan ke-25, Persija masih lebih banyak kalah daripada menang dan tertahan di papan bawah klasemen sementara.

Bahkan Persija harus kalah dari tim yang di atas kertas seharusnya bisa dikalahkan. Misalnya TIRA-Persikabo, yang sebelumnya dikalahkan Persija di turnamen Piala Indonesia, justru berhasil mengalahkan Persija dengan skor mencolok 5-3 di putaran pertama.

Begitu juga Perseru Badak Lampung FC, tim yang baru terbentuk menjelang bergulirnya Shopee Liga 1, justru mampu menumbangkan Persija di hadapan pendukungnya sendiri.

Prestasi buruk itu tak cuma membuat posisi Persija di klasemen sementara terpuruk, tapi juga menguatkan dugaan orang bahwa prestasi Persija di tahun sebelumnya terbantu oleh aksi kotor mafia sepakbola. Apalagi hasil-hasil negatif tersebut terjadi setelah pemilik saham Persija, Joko Driyono yang juga Plt. Ketua Umum PSSI, ditangkap dan divonis pidana penjara atas dakwaan perusakan dokumen. Suatu kebetulan yang sangat sempurna.

Dugaan bahwa Joko Driyono dan Persija terlibat dalam mafia bola yang semakin tumbuh kuat di benak rival Persija, semakin menambah berat tekanan kepada Persija dan terutama kepada the Jakmania. Tekanan yang besar itu seperti memastikan bahwa harapan juara tak hanya mati, tapi telah benar-benar musnah.

***

Walaupun begitu, ada satu peristiwa yang sangat berkesan di hati saya saat menonton Persija, yaitu saat menghadapi tuan rumah PSM di Makassar, 20 Oktober 2019 dalam lanjutan Shopee Liga 1. Saat itu hampir tak ada orang yang menjagokan Persija sebab PSM cukup tangguh bila bertanding di hadapan suporternya sendiri.

Apalagi di pertandingan sebelum menghadapi Persija, PSM mengalahkan tim kuat lainnya, Arema FC, dengan skor 6-2. Sementara Persija sendiri justru kalah oleh tim tamu, Semen Padang FC. Klasemen sementara Shopee Liga 1 saat itu juga menunjukkan bahwa PSM adalah tim superior.

Tapi ternyata Persija berhasil membalikkan keadaan. Gol tunggal Marko Simic membuyarkan semua prediksi, menumbangkan banyak tuduhan, sekaligus menumbuhkan harapan baru. Tak cuma satu, tapi ribuan harapan sekaligus.

Kemenangan ini memang bukan segalanya, sebab masih banyak pertandingan yang juga akan menentukan peringkat Persija di akhir musim kompetisi. Tapi satu gol kemenangan itu mampu menghidupkan suasana, menghangatkan hubungan tim dan suporternya, dan tentu saja menumbuhkan ribuan harapan baru.

Harapan juara yang yang telah mati, berganti dengan harapan baru dari ribuan the Jakmania bahwa Persija akan tetap bertahan di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Sekaligus harapan bahwa para pemain Persija akan terus bersungguh-sungguh berjuang, mempertaruhkan segalanya yang mereka miliki, demi mempertahankan nama baik dan kilau gemilang logo tugu Monas di dada.

Harapan-harapan baru itu mulai mencuat menunjukkan tunasnya dan akan terus tumbuh berkembang dipupuk oleh kemenangan demi kemenangan yang akan diraih oleh Persija sampai akhir musim.

Persija memang takkan juara lagi tahun ini, tapi dengan satu gol kemenangan itu, Persija menunjukkan kapasitasnya untuk tetap layak dipandang sebagai tim kuat yang pantang menyerah. Persija tak pantas diremehkan.

Persija adalah tim juara, yang tidak cuma dilihat dari deretan piala yang tersimpan di lemari, tapi juga dari cara Persija mempertahankan kehormatannya di hadapan lawan-lawannya. Persija layak mendapatkan respek.

Satu gol itu juga cukup kuat untuk membungkam banyak tuduhan yang ditujukan kepada Persija. Sekalipun majelis hakim dalam putusannya terhadap Joko Driyono juga menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak terbukti terlibat pengaturan skor, namun kemenangan atas salah satu rival nampaknya lebih berarti.

Semoga para pemain Persija dan the Jakmania tak pernah menyerah untuk sekadar mengejar dan mencetak satu gol. Sebab bisa jadi satu gol itu tidak hanya memenangkan sebuah pertandingan, tapi juga memenangkan hati dan perhatian para penggemar dan suporter, serta memenangkan respek dari para kompetitor.

Teruslah berjuang Persija, sang Macan Kemayoran!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2019 Agung Pushandaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *