Sanksi Untuk Persib

2 menit waktu baca

Tragedi terjadi lagi di kancah sepakbola nasional. Seorang pendukung Persija, tewas dibunuh segerombolan barbarian berseragam Persib.

Banyak kecaman ditujukan kepada Persib dan bobotoh, suporter Persib, khususnya yang tergabung dalam Viking Persib Club (VPC). Kecaman tidak hanya datang dari Persija dan Jakmania, tapi juga dari klub kesebelasan atau suporter lainnya.

Ada pula yang menuntut agar Persib dijatuhi sanksi yang berat. Seperti menjalani laga usiran, tidak di kota Bandung atau sekitarnya, bahkan di luar pulau Jawa. Ada juga yang berharap agar suporter Persib tidak boleh hadir selama setahun dalam setiap pertandingan Persib.

Ada yang menuntut Persib didegradasi. Bahkan pembubaran kelompok suporternya.

***

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, anda perlu tahu bahwa saya adalah penggemar Persija. Walaupun saya bukan anggota Jakmania, bisa saja pembaca mengira bahkan menuduh saya memojokkan Persib demi keuntungan Persija.

Silakan saja. Tapi saya tidak seperti itu.

Pada prinsipnya, saya mengakui bahwa kejadian tewasnya suporter bukan cuma dialami oleh Persija dan Jakmania. Bahkan Jakmania pernah pula menjadi pelaku penganiayaan hingga tewasnya anggota bobotoh.

Tapi kenapa yang sekarang menjadi lebih gaduh?

Menurut saya karena kejadian ini bukan yang pertama kali. Mungkin di saat inilah, rasa muak banyak orang sudah melampaui batas yang bisa diterima akal sehat.

Apalagi tragedi ini melibatkan dua kelompok suporter dan klub sepakbola yang selama ini tidak pernah dingin. Kejadian apa pun yang melibatkan Persija dan Persib, pasti akan lebih riuh. Alasannya bisa dibaca di sini.

Dan, iya, saya setuju Persib mendapat sanksi berat untuk kejadian ini. Kalau Persib lolos dari sanksi, rasa iri hati dari klub sepakbola dan suporter lain akan semakin menjadi. Anggapan bahwa Persib adalah anak papah Glen akan semakin menguat.

Tapi, mungkin bisa dipertimbangkan kapan waktu untuk penerapan sanksinya.

Kalau dieksekusi musim ini, tuduhan lain akan ditujukan kepada Persija, atau pesaing Persib lainnya dalam perebutan gelar juara Liga 1 2018. Bisa saja pihak Persib menduga kejadian ini dimanfaatkan untuk menggagalkan upaya Persib merengkuh gelar juara.

Dugaan itu tidak akan meredakan suasana panas ini, malah mungkin menciptakan bibit kebencian baru.

Maka saya berpikir, apa pun sanksinya, bisa diterapkan mulai musim depan. Misalkan Persib dihukum menjalani partai usiran tanpa penonton selama setahun, maka itu bisa dimulai musim depan.

Dengan demikian, keinginan dan harapan seluruh pihak dapat terpenuhi. Bobotoh dan Viking serta Persib yang dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab, menerima hukumannya, tapi tidak memupus begitu saja harapan mereka untuk mendapatkan gelar juara tahun ini.

Apabila kejadian semacam ini terjadi lagi musim depan, dilakukan oleh kelompok suporter lain, sanksinya dapat dieksekusi saat itu juga. Seharusnya tidak ada lagi dispensasi kalau ada korban jiwa dalam sepakbola di tahun mendatang.

Tewasnya Haringga Sirila harus menjadi yang terakhir.

Kalau bobotoh mengulangi lagi perbuatan ini di tahun-tahun mendatang, saya mendukung Persib dan kelompok suporternya dibubarkan.

***

Tapi apalah saya ini.

Pikiran saya ini pun pasti akan sulit diterima oleh semua pihak. Apalagi saya bukan siapa-siapa di kancah sepakbola. Saya hanya penonton.

Sekalipun begitu, saya tidak akan pernah berhenti berdoa dan berharap agar sepakbola Indonesia tidak hanya sukses dalam prestasi, tapi juga berhasil sebagai alat pemersatu bangsa.

Demikian.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2018 Agung Pushandaka

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *