Saat Nakal Menjadi Kriminal

2 menit waktu baca

Beberapa hari ini, sebuah video kekerasan yang melibatkan beberapa gadis remaja beredar di internet.

Video ini menambah panjang deretan bukti kenakalan remaja jaman sekarang. Mulai dari pencurian, penganiayaan, perusakan, perkosaan, pelacuran bahkan pembunuhan.

Apa memang seperti ini standar kenakalan remaja sekarang?

Atau mereka memang pelaku kriminal?

Pertama, kita harus tahu perbedaan antara nakal dan kriminal.

Menurut saya, seorang remaja disebut nakal di saat mereka melakukan perbuatan yang mengabaikan aturan sosial yang berlaku di keluarga atau lingkungan masyarakat.

Penyebabnya adalah karena mereka (harus dianggap) belum mampu berpikir dan bertindak dengan matang.

Sedangkan pengertian kriminal, adalah suatu perbuatan yang melawan hukum.

Tapi masalahnya kemudian, banyak aturan sosial yang ditegakkan menjadi aturan hukum.

Saya ingat seorang dosen di kampus pernah mengatakan bahwa saat aturan (norma) sosial – juga norma agama – dibuat menjadi aturan hukum, maka itu bukti bahwa moral masyarakatnya cenderung merosot.

Masyarakat tidak lagi takut dengan sanksi sosial bahkan sanksi akhirat (agama), maka oleh penguasa disusunlah aturan hukum dengan sanksi yang lebih tegas dan nyata.

Lalu bagaimana dengan fenomena remaja yang terjadi sekarang ini?

Kita harus tahu kapan mereka nakal dan kriminal, di luar aturan hukumnya.

Saat seorang remaja laki-laki melakukan kenakalan menggoda teman perempuannya dengan mencolek pinggulnya, itu bisa menjadi kriminal menurut hukum.

Tapi bisa saja itu hanya sebuah kenakalan remaja.

Sekarang yang penting bagaimana kita memberi maaf yang wajar terhadap kenakalan mereka.

Saya ingat kasus seorang anak yang diadili karena menempelkan tawon di pipi temannya. Secara hukum, itu termasuk penganiayaan.

Tapi menyeretnya ke meja hijau sangatlah berlebihan. Seorang anak pasti merasa dihukum saat melihat temannya kesakitan.

Begitu juga dengan aksi kekerasan yang terjadi Bali kemarin. Mereka para pelaku ketakutan dengan apa yang mereka lihat di video.

Saya rasa itu sudah cukup sebagai hukuman untuk mereka.

Kalaupun ternyata moral mereka sekarang mengalami degradasi, mengingat banyak sekali aturan hukum yang mereka abaikan, itu tidak sepenuhnya salah mereka.

Salah kita juga, salah penguasa juga.

Kita tidak bisa memberikan kesenangan yang pantas untuk usia mereka.

Pelaku aksi kekerasan dalam video diduga adalah anggota sebuah komunitas motor. Lah, umur belasan kok sudah dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya?

Itu artinya, para orang tua ndak bisa menyenangkan anak-anaknya dengan tepat!

Maka, kesimpulan saya adalah bahwa mereka para remaja membutuhkan kesenangan yang pas.

Saat kita tidak bisa memberikan kesenangan yang tepat, mereka akan mencarinya sendiri di luar pengawasan kita yang mungkin lebih tidak tepat bagi mereka.

Kalaupun akhirnya mereka melakukan tindakan yang di luar kewajaran, mereka membutuhkan tindakan yang tepat.

Mengadili di meja hijau bukanlah sesuatu yang salah, tapi seharusnya itu jadi upaya terakhir dan hanya untuk kenakalan yang benar-benar jauh di luar kewajaran.

Kita sebagai orang yang (dianggap) mampu berpikir dan bertindak secara dewasa seharusnya bisa memilah mana yang bisa dimaafkan dan mana yang tidak.

Akhirnya saya cuma bisa mendoakan agar kita semua terhindar dari hal-hal buruk entah sebagai pelaku ataupun korban.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012-2017 Agung Pushandaka

8 thoughts on “Saat Nakal Menjadi Kriminal”

  1. Zaman sekarang, entah kenapa kesannya kok susah ya jadi orang tua. Ada yang ndak mau repot mendengar rengekan anak, dari kecil sudah ini langsung dikasih, itu dikasih, anak yang merengek/memaksa di warung langsung dibelikan camilan agar diam.

    Mungkin anak-anak yang merasa dari kecil bisa mendapatkan “sesuatu yang menyenangkan” dengan mudah, akan merasa tidak keliru jika ia memaksakan kehendaknya untuk sesuatu yang ia pikir bisa memuaskannya. Apalagi kalau orang tua keduanya sibuk, ndak sempat memikirkan perkembangan anak, perlu apa-apa semuanya diganti dengan materi yang seketika.

    Anak yang dididik dengan baik saja kadang masih melakukan kenakalan, apalagi anak yang dibiarkan. Jadi kadang jika anak melakukan kenakalan hingga tindak kriminal, yang salah siapa? – Saya jadi sering bingung.

    Agung Pushandaka Reply:

    Yang salah siapa? Pertanyaan yang menarik dan juga tercetus di otak saya.

    Saya pengen sebenarnya mengalihkan tanggung jawab si anak/remaja kepada orang dewasa yang mengawasinya. Misalnya, remaja penabrak belasan orang di Makassar, atas kejadian itu maka orang tuanyalah yang dihukum atas dasar kelalaian. Sekaligus itu juga hukuman dan pelajaran utk si remaja, yaitu melihat orang tuanya dihukum secara pidana karena tindakan nakalnya.

    Tapi saya rasa itu juga ndak sepenuhnya adil utk si dewasa dan menambah beban si dewasa di jaman yang berat ini. Walaupun seharusnya mereka sudah siap dengan konsekuensi dan tanggung jawab saat memiliki anak berusia remaja.

    Terima kasih Mas Cahya.

    Cahya Reply:

    Mas Pushandaka,

    Saya pernah nonton berita bahwa di luar negeri ada orang tua yang disidangkan karena lalai membuat anaknya menjadi obesitas, pengadilan mencabut hak-nya sebagai orang tua karena tidak mampu membesarkan anaknya dengan baik selayaknya orang tua.

    Kadang saya ingin tahu, apa kasus-kasus seperti ini mungkin muncul di negeri ini.

    Agung Pushandaka Reply:

    Kayanya sulit. Kalau kasus yang anda bilang di atas, tindakan orang tuanya telah menyebabkan berkurangnya kesehatan si anak. Si anak murni sebagai korban. Sementara kasus yang kebanyakan terjadi belakangan, si anak/remaja menjadi pelaku tanpa ada suruhan orang dewasa.

  2. Saya setuju bila kejadian yang terekam video itu merupakan sebuah “hasil” dari sekian banyak sebab. Kita tidak bisa menyalahkan langsung pelaku begitu saja, ada banyak faktor lain yang mungkin bisa kita pertimbangkan, khususnya tentang lingkungan dan pendidikan remaja itu dari kecil hingga sekarang.

    Betul juga tentang kejadian seperti ini sudah ada sejak dulu, cuma baru jaman sekarang ada fasilitas untuk merekam. Disamping itu derasnya informasi yang kita terima tanpa disaring dengan baik ikut menjadi penyebab perubahan prilaku.

    Saya sendiri ketika SD, SMP, SMA beberapa kali melihat perkelahian diantara teman-teman, bahkan ada yang sampai berdarah-darah. Tapi ya begitulah, tidak sampai ada yang dimejahijaukan. Hampir semua berakhir damai. Itu jaman labil.

    Sekarang menjadi tugas kita semua yang merasa diri sudah tidak labil lagi untuk ikut berperan serta mengawasi, mendidik dan juga memberi contoh yang baik bagi anak, adik saudara yang semua yang kita anggap masih labil itu. Bisa?

  3. kiatnya ok nih, faslitas motornya dicabut 😀 untung saya cuma tergabung sama klub sepeda, hehe lebih sehat dan anti kekerasan

  4. your post is nice.. 🙂
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. 🙂

Comments are closed.