Saat Musibah Datang.. (2)

2 menit waktu baca

Judul tulisan ini memang mirip dengan judul tulisan saya sebelumnya tentang film Trust. Temanya mirip sih, tapi kasusnya berbeda. Saya terpikir menulis ini waktu menonton di tivi, Adang Daradjatun menolak memberi tau dimana istrinya, Nunun Nurbaeti berada. Bu Nunun sekarang lagi dicari KPK karena disangka terlibat dalam kasus dugaan suap cek perjalanan dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia.  Pasti serba salah ya, kalau ada anggota keluarga terdekat kita yang terlibat masalah hukum.

Tadinya saya berpikir, apa yang dilakukan oleh Pak Adang melindungi istrinya yang tersangka adalah salah secara hukum. Bukankah melindungi/menyembunyikan tersangka itu ndak boleh? Eh ternyata malah saya yang salah. Pasal 221 KUHP bilang, perbuatan yang dimaksud dengan menyembunyikan tersangka itu ada pengecualian kalau dilakukan oleh anggota keluarga sedarah, suami/istri, bahkan bekas suami/istri. Artinya, Pak Adang boleh melakukan itu, bukan?

Tapi bagaimana dari sudut pandang moral? Apakah memenuhi rasa keadilan kalau Pak Adang tetap teguh menjaga rahasia dimana istrinya berada sementara aparat negara sibuk mencarinya untuk membuktikan sebuah kebenaran? Sejujurnya, saya sendiri susah menjawabnya. Tapi kalau boleh berpendapat, seharusnya kalau Pak Adang yakin istrinya ndak bersalah, justru Pak Adang membantu penyidikan biar kasusnya cepat selesai dan bisa berkumpul lagi bersama istrinya di Jakarta. Iya ndak?

Tapi bagaimana kalau apa yang disangkakan terhadap Bu Nunun terbukti benar? Hmmm, ini nih yang berat. Saya takutnya, apa yang dilakukan Pak Adang adalah semata-mata karena dia tau apa yang disangkakan kepada istrinya adalah benar adanya. Kalau itu terjadi, maka ndak ada lagi rasa keadilan yang ditegakkan oleh Pak Adang sebagai seorang mantan pejabat polisi.

Cuma masalahnya kemudian ndak akan semudah itu tentu saja. Saya sendiri kalau berada di posisi Pak Adang mungkin akan berada di posisi yang serba salah. Saya ndak mau jadi sok hebat dengan bilang, bahwa saya akan menyarankan istri saya untuk menyerahkan diri ke KPK. Tapi rasanya saya lebih ndak tega kalau istri saya sendirian di luar sana, sementara saya juga ndak tenang di rumah. Apalagi, saya ndak punya uang banyak untuk membiayai hidup istri saya di luar sana.

Maka saya jadi berpikir mungkin ndak ya, pesan moral di film Trust yang saya tulis sebelumnya bisa dipakai di kasus ini? Saat musibah datang menimpa orang yang kita sayangi, sebaiknya kita tetap bersama untuk saling menguatkan dan mendukung dalam keadaan apapun (baca: terlibat kasus ataupun ndak terlibat). Bisa ndak ya?

Semoga Tuhan melindungi keluarga kita dari hal-hal buruk..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

8 thoughts on “Saat Musibah Datang.. (2)”

  1. berarti memang pak Adang tau klo istrinya bersalah, terbukti dari sikapnya yang ikut menyembunyikan keberadaan istrinya, y tapi emang bikin serba salah sih klo di posisi dia

  2. Saya ndak memperhatikan kasus yang anda ceritakan diatas. Dari dari apa yang anda jelaskan, kalau saya yang menjadi Adang Daradjatun memang akan jadi serba salah. Tapi mengingat yang bermasalah dengan hukum adalah istri sendiri, maka faktor hukum akan dinomorsekiankan.

  3. Mas Pushandaka, di negeri ini banyak yang terbalik. Yang tidak bersalah bisa terbukti bersalah dan sebaliknya. Kalau saya yakin istri saya tidak bersalah, namun saya tidak yakin hukum bisa memberikan perlindungan ataupun mengungkap kebenaran apalagi karena hukum tidak lagi bisa dipercaya. Maka saya mungkin sekali akan seperti Pak Adang.

    yunaelis Reply:

    saya sih setuju sm cahya..
    banyak kemungkinan yang bisa terjadi.
    bisa jadi pak Adang berkaca pada kasus Antasari, yang (mungkin)tidak bersalah tapi tetap dinyatakan bersalah walau berdasar pada bukti2 yang tidak kuat.
    siapa yang tau?? 😀

  4. Kalau sudah menyangkut keluarga sendiri memang berat untuk menentukan akan berpihak kemana. Tapi kan keyakinan seorang suami akan istrinya itu tidak bisa dicampuri juga.

Comments are closed.