Rudy yang Bukan Habibie

Saya baru membuat kategori tulisan di blog ini, yaitu: Teman. Segala tulisan saya di kategori ini saya bikin untuk bercerita tentang seorang teman yang saya kenal dan saya kagumi. Ini adalah tulisan pertama saya, yang akan bercerita tentang Ngudiono Prasetyo.

Saya mengenal Rudy, panggilannya, tapi bukan Habibie, di suatu komunitas suporter klub sepakbola, Inter Milan. Waktu itu di Bali.

Orangnya tak terlalu banyak bicara, saya pikir dia sombong, tapi ternyata saya salah. Atau mungkin ia lebih banyak diam lebih karena kurang percaya diri. Tapi ternyata tak tepat juga.

Sebenarnya saya tak banyak bergaul dengannya karena selama di Bali saya memiliki kesibukan pekerjaan sehingga tak banyak waktu untuk berbaur dengan teman-teman di komunitas suporter itu. Pertemuan cuma saat mengikuti kegiatan futsal seminggu sekali, itu pun tak banyak bicara satu sama lain.

Untuk menjaga hubungan pertemanan, saya dan Rudy, juga beberapa teman lain dari komunitas tersebut, saling berteman juga di media sosial.

Dari sini saya bisa sedikit lebih jauh mengenalnya, terutama dari apa yang dia tampilkan di akun medsosnya. Meskipun banyak yang bilang, jangan mudah percaya dengan apa yang ditampilkan orang di medsos, tapi sulit rasanya menolak untuk mengakui capaian Rudy.

Tak banyak yang saya ingat dari apa yang dia tampilkan di medsos, kecuali perjalanannya ke Italia. Belum apa-apa sudah ke Italia.

Dengan bahasa Inggris yang apa adanya, ah siapa yang peduli dengan bahasa Inggris, Rudy bahkan bisa masuk ke hampir setiap sudut stadion Giuseppe Meazza, di San Siro, Milan, dan bertemu dengan bintang-bintang klub Inter Milan, yang mungkin tak banyak orang bisa melakukannya.

Beruntung juga kawan ini, begitu saya pikir pada awalnya.

Semakin lama berteman dengannya, yang lebih banyak melalui media sosial, saya merasa semakin salah menilainya. Mungkin memang benar dia beruntung, tapi menurut saya keberuntungan tak akan datang begitu saja kepada orang yang tak berusaha.

Itulah yang saya kenal tentangnya kemudian, pekerja keras.

***

Saat ini, Rudy tengah merintis usahanya di negeri seberang, Australia. Tepatnya usaha ternak sapi.

Ternak sapi yang tentu tak sembarangan, mengingat kualitas daging sapi dari Australia sangat baik, asumsi saya usaha ternak di Australia harus memenuhi kualifikasi dan ketentuan yang ketat. Ternaknya pun diekspor juga ke beberapa negara, termasuk Indonesia.

Meskipun, sekali lagi, keberuntungan sering kali berada di dekatnya dengan mengenalkannya kepada orang-orang yang bisa membukakan jalan bagi Rudy merintis usaha ternak di Australia, tapi rasanya orang-orang itu tak akan segila itu mempercayai Rudy kalau dia hanya ‘orang biasa saja’.

Saya yakin Rudy memiliki track record yang membuat orang-orang itu yakin dengan kapasitasnya, atau mungkin orang-orang itu memang sudah mengenal dekat sosoknya.

Dari sini, saya juga melihatnya sebagai orang yang mudah bergaul dan banyak temannya. Benar kata orang, Tuhan bisa menurunkan berkat-Nya kepada kita melalui teman.

Hmmm,, sebenarnya itu kata saya, sih. Mungkin memang benar pernah ada orang yang bilang seperti itu, tapi saya tak menyonteknya.

Salah satu kunci yang membuatnya banyak teman adalah komunikasi yang baik. Segala masukan dan koreksi dari teman yang dia percaya akan dia dengarkan. Rudy selalu memosisikan dirinya ‘sedang belajar’ sehingga dia tak segan bertanya dan tak sakit hati saat dikoreksi.

Saya menilai, karakter ‘sedang belajar’ itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang rendah hati dan disukai banyak teman-temannya.

***

Walaupun ada duka yang dia alami di Australia, terutama karena jauh dari keluarga dan sendirian pula, tanpa pacar atau istri, mungkin nanti Tuhan akan mengirimkan pacar atau istri melalui seorang teman, tapi tak bisa dipungkiri hidup Rudy di Australia sudah enak.

Misalnya dari segi finansial Rudy sudah cukup mapan. Bisa merawat dan ‘menafkahi’ seekor anjing lucu bernama Java adalah buktinya. Pasti tak murah biayanya.

Selain mapan finansial, sekarang Rudy juga telah mendapatkan status sebagai permanent resident di Australia. Tentu status ini istimewa, sebab banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh paspor permanent resident.

Jadi nikmat apalagi yang bisa ia dustakan?

Tapi walaupun saya melihat kehidupannya di Australia sudah enak, Rudy tetap merindukan Indonesia. Tanah kelahirannya, Melung Larangan, di sekitar Purbalingga, adalah tempat terfavoritnya.

Meskipun kedua orang tuanya sudah tak lagi menunggunya di rumah karena telah berpulang ke surga, tapi Rudy selalu merindukan saat-saat pulang ke kampung halaman. Berkumpul bersama kerabat dan sanak saudara yang masih setia menantinya pulang.

Selain Melung, Rudy juga mencintai Bali. Segala riuh rendah industri pariwisata Bali yang menurut saya cenderung gagal, serta dengan semua ketidaktertiban dan ketidakdisiplinan yang tersedia di sana, Rudy tetap merasa punya hubungan yang istimewa dengan Bali.

Mungkin jodohmu menanti di Bali, Rud.

***

Sekarang, di situasi tak menentu karena mewabahnya Covid-19 di beberapa penjuru dunia, saya cuma bisa berdoa agar Rudy bisa selalu menjaga kesehatannya sendiri dan pasangannya, Java.

Termasuk juga sapi-sapinya.

Kalau ada kesempatan, bolehlah saya dan keluarga nanti berkunjung ke Queensland, menikmati suasana peternakan seperti yang saya lihat di film-film dan membiarkan K, anak saya, bermain bersama Java.

Sukses untukmu, kawan!

Silakan kunjungi channel Youtube Ngudiono Prasetyo kalau ingin mengenalnya.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2020 Agung Pushandaka

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

8 thoughts on “Rudy yang Bukan Habibie”

  1. Terima Kasih Bli Gung, Terima Kasih Untuk Tulisannya, Saya Masih Jauh Dari Kata Sukses,Dan Masih Terus Belajar, Semoga Bli Gung Dan Keluarga Sehat Sehat Selalu.

  2. Trima kasih Agung…tulisanmu bikin sy melow membaca…satu kalima utk” mungkin jodohmua mnanti di bali rudy” AAMIIN YRA?

  3. Bagus tulisannya mas Agung, jarang saya baca post khusus untuk teman seperti yang mas Agung tuliskan ? saya jadi bisa ikut merasakan bagaimana ketulusan pertemanan mas Agung dan mas Rudy yang diceritakan di atas. Semoga bisa terus saling memberikan inspirasi satu sama lainnya ya, mas ?

    Sukses untuk mas Agung dan mas Rudy. Dan saya turut mengaminkan doa mas Agung agar mas Rudy bisa segera diberikan jodohnya. Amiiin ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *