Polisiku Sayang Polisiku Malang

3 menit waktu baca
Logo Polisi Republik Indonesia
Logo Polri

Cicak versus Buaya, itulah istilah yang dipakai oleh Kabareskrim Polri, Komjen. Pol. Susno Duaji, untuk menggambarkan perseteruan 2 lembaga penegak hukum, KPK vs Polri. Cicak tadinya adalah pihak yang terpojok karena 3 mantan pemimpinnya lagi “dipegang” Polri. Pertama, Antasari Azhar yang didakwa membunuh pengusaha yang dicurigai berusaha memerasnya. Sementara, 2 pimpinan lainnya, Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah, baru saja ditahan. Nah, penahanan Pak Bibit dan Pak Chandra ternyata ndak semudah menahan Pak Antasari karena sejak berita penahanan keduanya dipublikasikan, sontak masyarakat menjadi gemas. Sekarang, malah Buaya yang terancam.

Sebelum membaca lebih lanjut, saya mau bilang, bahwa saya ndak akan membahas masalah ini dari sisi hukum. Kalau anda masih bingung kenapa penahanan Pak Bibit dan Pak Chandra menjadi kontroversi, silahkan baca tulisan salah satu dosen Hukum UGM di sini. Kedua, saya akan berusaha menunjukkan keberpihakan saya kepada KPK tapi dari sudut pandang sebagai warga negara Indonesia yang berharap banyak dari Polri dan KPK. Ketiga, silahkan dibaca dan kalau memang perlu, silahkan ditanggapi.

Kepolisian Republik Indonesia memang lagi ada di titik terbawah dalam hal mendapatkan kepercayaan publik, selain DPR dan Lembaga Peradilan. Sejujurnya, saya menyayangi Polri. Bagaimana pun, saya dan negara ini membutuhkan Polri untuk menegakkan hukum, keamanan dan ketertiban. Tapi seringkali, setiap saya berhadapan dengan polisi, yang muncul bukan rasa aman, melainkan rasa waswas. Betul ndak?

Sekedar mengingat lagi, Polri adalah salah satu komponen penting dalam perjuangan bangsa merebut kemerdekaan. Hal ini terjadi karena Polri waktu itu merupakan satuan satuan bersenjata yang cukup lengkap. Pada 21 Agustus 1945, Pasukan Polisi Republik Indonesia diproklamasikan di bawah kepemimpinan Inspektur Kelas I Polisi Mochammad Jassin di Surabaya. Sejak saat itu, sudah banyak aksi yang dilakukan Polri untuk negara, mulai dari bekerja sama dengan TNI mempertahankan kemerdekaan, menumpas gerakan separatis, kudeta 30 September 1965 oleh PKI, sampai dengan penumpasan jaringan terorisme yang belakangan menjadi musuh utama negara.

Tapi, sekian banyak aksi heroik itu seakan hancur berantakan dengan ulah mereka sendiri yang seperti mau seenaknya sendiri. Ibarat kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Banyak cerita miring yang saya dengar tentang busuknya Polri, mulai dari teman-teman yang pernah melanggar rambu lalu-lintas, pengurusan SIM, kekerasan dalam menghadapi aksi mahasiswa sampai pada praktek penegakan hukum yang mereka lakukan. Termasuk, ya penahanan Pak Bibit dan Pak Chandra ini.

Saya pribadi sebenarnya yakin, blum ada lembaga di Indonesia yang bersih dari korupsi, termasuk juga KPK. Tapi, kalau dalam kasus KPK vs Polri saya membela KPK. Sebab, Polri ndak pernah benar-benar bisa menunjukkan kesalahan Pak Bibit dan Pak Chandra. Sangkaan Polri terhadap keduanya berubah-ubah terus. Jadi ada kesan, Polri memang mencari-cari kesalahan KPK, trus kemudian dicari buktinya. Kalau ternyata buktinya kurang lengkap, cari lagi sangkaan yang lain. Pokoknya mereka harus ditangkap dan diadili. Seperti itu kesan yang saya tangkap.

Malang banget nasib Polri kali ini. Polri cuma jadi bulan-bulanan masyarakat. Segala caci maki ditumpahkan kepada korps baju cokelat ini. Reformasi saja rasanya ndak cukup untuk memperbaiki segala kesalahan yang ada. Rasanya perlu ada revolusi di tubuh Polri. Ibarat benang yang kusut, segala keruwetan itu sudah ndak bisa diurai lagi kecuali digunting dulu. Itulah yang saya maksud revolusi. Seorang presiden yang berani dan tegas juga diperlukan untuk merevolusi Polri, walaupun hal ini harus dilakukan dengan hati-hati banget.

Kembali ke kasus Cicak versus Buaya, saya berharap Polri benar-benar menunjukkan keseriusan dan itikad baiknya. Saya bukan orang yang yakin Pak Bibit dan Pak Chandra ndak bersalah. Tapi kalau keduanya memang benar bersalah, harus disertai bukti-bukti yang kuat. Kumpulkan dulu buktinya, baru jadikan keduanya sebagai tersangka. Bukan malah sebaliknya. Andaikata Pak Bibit dan Pak Chandra ternyata ndak bisa dibuktikan bahwa mereka bersalah, Polri harus legowo mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab. Bebaskan mereka, dan minta maaf secara terbuka. Kalau ternyata kesalahan itu harus dipertanggungjawabkan di muka hukum, Polri harus berani.

Semoga yang baik akan menjadi pihak yang benar. Bukan untuk siapa-siapa kecuali untuk keselamatan Indonesia.

20 thoughts on “Polisiku Sayang Polisiku Malang”

  1. Saya ndak terlalu ngerti masalah cicak vs buaya ini, tapi pada intinya keberadaan KPK harus tetap dipertahankan, sudah lumayan banyak prestasi KPK dalam mengusut KKN, jangan sampai KPK hanya menjadi macan ompong.
    .-= wira´s last blog ..Penyebab Page Rank Turun =-.

  2. “kisah” penangkapan pak Antasari Azhar dulu itu aja, menurut saya, aneh dan infotainment banget. :mrgreen:

    kok bisa-bisanya seorang mantan Kajati terjebak dalam intrik perebutan wanita. :mrgreen:

    mending polisi mulai memperbaiki diri dari yang kecil2 dulu. seperti: tidak mencari2 kesalahan pengendara motor yang sebenarnya tidak melakukan pelanggaran… 😀
    .-= morishige´s last blog ..Langkah (24): Pagi di Ngadisari =-.

  3. Hmmmm…..

    Melihat hal ini kok Negara ku ky sinetron yah???
    Seperti tidak ada hal yg real di Negara ini…
    Semua bisa di rekayasa termasuk bukti-bukti untuk menangkap seseorang
    .-= Miranda´s last blog ..Khayal =-.

    1. Di situlah kita butuh hukum yang kuat. Soalnya hukum akan masuk ke dalam semua bidang kehidupan bangsa, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, keamanan dan juga politik. Jadi, meskipun banyak kepentingan di dalamnya, hukum tetap bisa berdiri tegak.

      Tapi sayangnya, pembuat hukum kita (parlemen) blum bisa melepaskan kepentingan parpolnya pada saat membentuk hukum. Jadilah hukum kita sekarang cuma mengikuti keinginan politik mereka.

      Terima kasih komentarnya mas..

  4. Nah, baru ngerti saya. Seharusnya kan ada bukti dulu baru ditangkap, bukan ditangkap dulu baru cari bukti2 yang terus berubah…

    Ah… mimpi Indonesia tuk jadi lebih baik kayaknya masih jauh…
    .-= tuteh´s last blog ..Boogie Woogie =-.

    1. Keduanya dianggap menyalahgunakan wewenang dalam kasus yang berbeda mas. KPK dianggap menyalahgunakan wewenang untuk kasus Anggoro Widjojo, sementara Polri untuk kasus penahanan Bibit dan Chandra.

Comments are closed.