Cerita di Balik Plakat BKPM: The 4th JCTI IETO-TETO

4 menit waktu baca

Hari Sabtu kemarin (24/3) saya menghabiskan waktu untuk mencari jasa pembuat grafir atau ukiran untuk membuat plakat.

Ceritanya begini:

Jadi kantor saya, BKPM, menjadi penyelenggara rangkaian pertemuan Joint Committee Trade and Investment (JCTI) antara Indonesia Economic and Trade Office (IETO) dan Taipei Economic and Trade Office (TETO) mulai tanggal 26-28 Maret 2018 di Bali. Semua persiapan sudah dilakukan, kecuali untuk agenda pertukaran cinderamata yang diminta pihak TETO secara mendadak.

Karena stok suvenir di kantor sudah habis, maka dicarilah suvenir di toko cinderamata yang lumayan hitz di Jakarta. Seorang teman membeli sebuah plakat berbentuk Gunungan. Tapi tentu saja plakat itu tidak ada identitas BKPM.

Plakat Gunungan yang dibeli dari sebuah toko cinderamata di Jakarta.

Hari Jumat sore, 23 Maret, saya ditugaskan untuk mencari jasa grafir untuk menambah identitas BKPM pada plakat itu.

Pertama kali saya berpikir mencari jasa grafir di Bali sekalian. Saya mendapatkan banyak info mengenai jasa grafir di Bali dari teman-teman Bali Blogger Community.

Tapi kemudian saya berubah pikiran. Kalau grafir baru dibuat di Bali, hanya beberapa jam sebelum event dimulai, saya khawatir tidak ada waktu lagi untuk antisipasi apabila terjadi kesalahan.

Akhirnya saya memutuskan mencari jasa grafir di Jakarta. Pilihan saya jatuh ke Toko Prapatan, jasa digital printing, di Jatinegara. Dekat rumah.

Sebelum ke Jatinegara, sejak pagi hari saya selesaikan dulu urusan pribadi di kantor Samsat Jakarta Timur dan Polda Metro. Cerita tentang urusan ini akan saya tulis lain waktu.

Selesai urusan di Polda Metro pukul 12 siang, saya segera menuju ke Jatinegara menggunakan transportasi KRL dari stasiun Sudirman. Turun di stasiun Jatinegara.

Tokonya tak jauh dari stasiun. Keluar pintu stasiun, berjalan 100m ke arah kanan. Tokonya sederetan stasiun, jadi tidak perlu menyeberang jalan raya Jatinegara.

Pukul 2 siang, grafir pada plakat sudah selesai. Grafir dibuat langsung pada dasar kayu plakat tersebut. Biayanya 50ribu Rupiah.

Berhubung saya belum pernah bersentuhan dengan urusan grafir, maka saya tidak tahu apakah harga itu termasuk mahal atau murah.

Satu pesan dari si pembuatnya, sampai rumah hasil grafirnya dibersihkan dengan kain kasa basah untuk menghilangkan debu atau serpihan kayu yang masih menempel. Bukan masalah rumit saya pikir.

Kemudian saya berinisiatif mencari box untuk plakatnya, sebab box yang diperoleh dari tokonya terdapat nama toko di bagian depannya.  Maka saya berkeliling sejenak di pasar Jatinegara.

Tapi saya tidak menemukan kotak plakat yang saya cari.

Sambil beristirahat saya cari info tempat membeli kotak plakat di internet. Saya temukan satu toko di Blok M Square. Selebihnya di luar kota, bahkan di Surabaya.

Tapi waktu saya hubungi via telepon, tokonya tidak menyediakan box yang dijual satuan. Katanya box dibuat sesuai ukuran plakat.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sendiri ke Blok M. Dari Jatinegara saya menumpang bus Transjakarta menuju Blok M, transit di Kampung Melayu dan Harmoni.

Pukul 16.00 saya tiba di terminal Blok M. Rasa kangen kepada Kay, anak saya, sudah hampir tak tertahan. Ingin segera pulang rasanya.

Ternyata di Blok M Square lantai basement, ada banyak sekali toko pembuat plakat. Tapi sayangnya mereka tidak menjual kotaknya. Akhirnya saya memutuskan berkeliling siapa tahu ada toko yang punya kotak plakat seukuran yang saya punya.

Setelah bertanya di sekian banyak toko, akhirnya saya menemukan sebuah kotak plakat agak besar di sudut suatu toko. Kotaknya sudah berdebu.

“Pak, saya beli kotak plakat yang biru itu ya” kata saya.

Si pemilik toko agak ragu sebab sepertinya kotak yang saya mau merupakan sisa dari pesanan orang.

Puji Tuhan, ukuran kotaknya pas dengan ukuran plakatnya. Maka saya minta si pemilik toko untuk membersihkan kotak plakat itu.

Sambil menunggu kotak dibersihkan, saya berinisiatif membersihkan grafir pada plakat seperti pesanan si pembuatnya di Jatinegara.

Celaka! Grafiran terkelupas sedikit. Sangat kecil tapi nampak mencolok di mata.

Grafir pada logo BKPM terkelupas sedikit tapi nampak sangat jelas.

Si pemilik toko menawarkan solusi dibuat grafir yang sama di atas plat yang nanti akan ditempel menutupi grafir yang rusak itu. Bukan ide yang jelek, walaupun saya tahu itu akan menambah biaya.

Kali ini saya mendapat harga yang lumayan mahal menurut saya, 150ribu. Tapi karena sudah lelah, dan enggan berputar-putar lagi untuk mencari jasa pembuat plakat, saya sepakat dengan harga itu.

Maka, si pemilik toko membawa plakat Gunungan itu ke studionya. Waktu pengerjaan sekitar 30 menit. Saya menunggunya sambil makan di food court lantai 5.

Sekitar pukul 17.30, plakat selesai. Grafir logo dan nama BKPM, serta event JCTI IETO-TETO, terpampang jelas di plat berwarna emas karena dibuat sesuai warna logo dan nama BKPM.

Saya cukup puas walaupun mungkin hasilnya tidak sempurna. Mungkin karena melihat wajah lelah saya, si pemilik toko merasa iba dan memberi diskon 25ribu. Jadi untuk grafir dan box, saya membayar 175ribu.

Plakat BKPM untuk acara JCTI IETO-TETO

Maka saya pun beranjak pulang. Setelah menempuh perjalanan menggunakan bus Transjakarta dan KRL, ditambah ojek pangkalan di stasiun Cakung, saya tiba di rumah pukul 19.30.

Melepas rindu kepada Kay setelah sejak pagi pergi meninggalkan rumah.

Puji Tuhan.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2018 Agung Pushandaka

Related Post