Persija Klub Mafia

3 menit waktu baca
Persija juara Liga 1 2018. Tapi banyak orang bilang, juaranya settingan. Persija mafia?

Kalau saya lihat keriuhan media sosial tentang isu ini, ada dua tuduhan yang dikenakan kepada Persija.

Pertama, Persija sudah diatur untuk menjadi juara oleh kekuatan besar di sana. Kedua, Persija secara aktif ikut mengatur jalannya liga, alias mafia.

Saya sebagai penggemar Persija, yang tidak rela mati demi Persija, agak cerdas dan cukup tenang dalam berpikir, punya pandangan sendiri tentang tuduhan-tuduhan itu.

***

Mengenai liga yang sudah diatur. Saya sebenarnya sudah curiga sejak dulu. Bahkan di era Galatama.

Saya lupa detailnya, karena waktu itu saya masih anak-anak.

Tapi kecurigaan itu tidak membuat saya menjadi antipati dengan sepakbola nasional. Saya tetap menggemari pertandingan sepakbola, termasuk mendukung satu klub di kota setempat, waktu itu Gelora Dewata dan Perseden.

Saya selalu berusaha berpikir positif, kalau melihat ada pertandingan yang janggal, bahwa kesalahan wasit adalah kesalahan manusiawi, lalai, bukan disengaja. Sekalipun sempat terbukti ada skandal mafia perwasitan, pikiran positif tetap saya pupuk.

Jadi untuk 2018 lalu, saya hanya tetap berusaha berpikir baik, apalagi yang menjadi juara adalah Persija, klub kegemaran saya sekarang.

Tapi kecurigaan itu tetap ada.

Kecurigaan itu yang membuat saya akhirnya memutuskan, kalau memang terbukti telah diatur, saya akan menjadi penggemar Persija yang berharap agar Persija melepas gelar juara tahun 2018.

Klub sebesar Persija tak pantas menggenggam tropi berlumur noda seperti ini.

Bagaimana dengan gelar juara Persija yang lainnya?

Posisi saya sama. Kalau terbukti bahwa gelar itu diraih dari kompetisi liga yang tidak bersih, sebaiknya Persija menanggalkan gelar itu dan membuangnya di bak sampah.

Gelar juara klub lain di tahun-tahun sebelumnya?

Saya tidak peduli klub lain. Terserah mereka, saya hanya cinta Persija.

***

Tapi apakah Persija adalah mafia?

Joko Driyono, penguasa Persija sudah jadi tersangka. Dia dituduh merusak bukti-bukti yang patut diduga akan menguatkan dugaan adanya pengaturan pertandingan.

Gede Widiade, direktur utama Persija, juga sudah mengundurkan diri secara mendadak. Ini dianggap banyak orang sebagai aksi cari selamat.

Pemain bintang musim lalu juga gagal dipertahankan, seperti Jaimerson Xavier, Renan Silva dan Rohit Chand, sekalipun yang terakhir ini katanya akan kembali ke Jakarta. Banyak orang menilai, mereka pergi karena keuangan Persija sudah tidak sehat karena habis-habisan terlibat aksi mafia tahun lalu.

Menurut saya? Bisa saja.

Semua anggapan dan penilaian itu masuk akal. Tapi saya tetap tidak percaya, bahwa Persija yang bukan hanya sebuah perusahaan, tapi juga paguyuban, bergerak secara sistematis untuk ikut terlibat dalam skandal itu.

Persija bukan hanya Joko Driyono atau Gede Widiade, yang juga sempat diisukan terlibat dalam kekisruhan Persebaya.

Di sana ada mantan Wakapolri, Komjen Sjafruddin, selaku pembina Persija, ada juga Marsma TNI Ardhi Tjahjoko, manajer Persija, di jajaran pengurus.

Ada pula Mustaqim, legenda sepakbola Surabaya yang sekarang menjadi asisten pelatih Persija, juga Bambang Pamungkas, legenda hidup sepakbola Indonesia, serta beberapa pemain potensial seperti Rezaldi Hehanusa, Andritany, Sandi Sute atau Riko Simanjuntak.

Saya yakin mereka akan menolak untuk tetap berada di Persija kalau memang secara lembaga, Persija ikut bergerak mengatur pertandingan.

Selain itu, pada tahun 1928 lampau, Persija dibentuk oleh sekumpulan pejuang, patriot, yang menyatukan diri untuk melakukan perlawanan terhadap imperialisme di lapangan rumput. Ikut juga mendirikan PSSI.

Tim yang berjuluk Macan Kemayoran, yang terinspirasi dari kisah seorang pejuang dan pahlawan bagi kaum pribumi di masa lalu.

Kalau sampai Persija sekarang menjadi mafia, orang Jakarta sendiri yang akan marah kalau Persija merusak nama baik dan perjuangan para pendiri.

Jadi sulit rasanya bagi saya, bisa menerima tuduhan bahwa Persija adalah mafia. Justru Persija adalah korban dari mafia, karena tindakan mereka telah mempermalukan Persija.

Poinnya, saya tidak percaya Persija adalah mafia. Kalau salah urus, iya.

Kalaupun Persija terbantu, sekali lagi: terbantu, menjadi juara karena ulah mafia, ya jangan salahkan Persija. Saya yakin, bukan keinginan Persija untuk dibantu mafia.

***

Saya berharap, Satgas Anti Mafia Sepakbola yang sudah dibentuk dan bekerja dengan sangat keras, bisa menumpas kaki tangan mafia yang ada di tubuh sepakbola kita.

Demi sepakbola Indonesia yang lebih baik dan lebih maju.

Damai!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2019 Agung Pushandaka

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *