Perang di Layar Kaca

Ikut menyimak bursa pertarungan ketua umum partai Golkar belakangan ini? Di sana ada orang-orang besar yang memperebutkan kursi tertinggi di partai beringin itu selepas lengsernya Jusuf Kalla.

Mereka antara lain, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, dan Hutomo Mandala Putra, serta satu calon underdog, Yuddy Chrisnandi.

Tapi yang menarik buat saya adalah, bahwa semua calon memanfaatkan betul aset yang dimiliki sebagai kendaraan politiknya. Khususnya untuk Paloh dan Bakrie yang melibatkan dua stasiun tivi terkemuka di Indonesia.

Paloh dengan Metro TV dan Bakrie dengan ANTV. Kebetulan, Paloh adalah presiden komisaris Metro TV, sementara grup Bakrie adalah pemilik ANTV.

Nah, jadilah kedua tivi berusaha menayangkan program-program yang berbau dukungan kepada jagoannya masing-masing. Seperti ANTV yang membuat program khusus untuk Bakrie. Metro TV memang tidak segarang ANTV dalam mendukung jagoannya, tapi dalam tayangan berita, tetap saja terlihat keberpihakan tivi berita ini kepada Paloh.

Saya tidak mempermasalahkan itu. Saya sejak lama sudah menyadari bahwa tivi dan/atau media lainnya tidak akan pernah obyektif. Bahkan, bisa dibilang bahwa tivi adalah alat propaganda yang paling efektif.

pro·pa·gan·da n 1 penerangan (paham, pendapat, dsb) yg benar atau salah yg dikembangkan dng tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu: — biasanya disertai dng janji yg muluk-muluk; 2 cak reklame (spt menawarkan obat, barang dagangan, dsb): perusahaan itu giat melakukan — produknya;

Bagaimana dengan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto? Sebenarnya dia pun punya akses di TPI yang dipimpin oleh keponakannya, Dandy Nugroho. Tapi, berhubung saya jarang menonton TPI, saya tidak tahu seberapa besar dukungan TPI kepada Tommy.

Saya berharap stasiun tivi lain yang tidak berkepentingan mampu berdiri di tengah. Sehingga masyarakat luas bisa mendapat informasi yang lebih adil terutama untuk berita-berita politik seperti ini yang seringkali membingungkan orang awam seperti saya dan mungkin sebagian besar masyarakat kita.

Di situasi negara seperti ini, saya sih sebenarnya lebih berharap tivi bisa menjadi alat pendidikan dan pemersatu bangsa, selain sebagai media hiburan, di atas segala kepentingan pribadi maupun kelompok.

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

13 thoughts on “Perang di Layar Kaca”

  1. Saya nggak percaya tivi. Kalo orang-orang itu mulai kampanye di tivi, saya langsung ganti channel. Menurut saya, tidak keliatan kapasitas intelektual seseorang kalau belum nulis di media massa.

Comments are closed.