Pengalaman Interview Gagal

4 menit waktu baca

Kemarin (8/10), untuk pertama kalinya saya menempuh ujian interview seleksi cpns deplu melalui jalur khusus di kampus ugm. Sekali lagi, ini benar-benar pengalaman pertama saya untuk seleksi deplu. Di tulisan kali ini, juga untuk pertama kalinya, saya pengen berbagi pengalaman pribadi selama saya menjalani hari kemarin yang menurut saya, menyebalkan dan memalukan banget. Sebenarnya bukan tabiat saya berbagi pengalaman pribadi di blog seperti ini. Tapi untuk sekali ini ndak apa-apalah. Hehe!

Ujian kemarin diawali dengan pengumuman jadwal ujian yang mepet banget. Untuk ujian hari kamis, saya baru mendapatkan pemberitahuannya di internet pada selasa malam pukul 8.  Tapi karena rasa penasaran saya setelah gagal di seleksi deplu tahun lalu, saya pun memutuskan berangkat ke jogja secara mendadak dengan segala keterbatasan. Keterbatasan? Iya, saya merasa diri saya sudah ndak seperti dulu menguasai materi hukum internasional.

Jujur, setelah lepas masa kuliah, saya ndak pernah lagi mengasah teori hukum internasional. Hal itu diperparah dengan ndak update-nya saya tentang masalah-masalah internasional belakangan ini. Saya benar-benar cuma mengandalkan penguasaan materi hukum diplomatik yang menjadi topik thesis saya. Jadi sebenarnya, saya ndak pantas disebut master hukum internasional, karena saya sebenarnya cuma menguasai materi hukum diplomatik. Hehe!

Segala keterbatasan itu diperparah dengan kegugupan luar biasa yang saya alami selama hari ujian kemarin. Saya berada di kampus lokasi ujian sejak pukul 7:45, karena menurut pengumuman, ujian akan dilakukan mulai pukul 8:30. Tapi ujian baru dimulai pukul 9:30 dan saya baru memperoleh giliran diwawancara pukul 10:45. Selama 3 jam penantian itu, benar-benar menjadi masa yang ndak nyaman untuk saya.

Anda pernah merasa gugup? Semoga saja ndak. Hehe! Pakaian yang saya pakai jadi terasa ndak nyaman. Dada seperti penuh sesak karena detak jantung yang semakin cepat dan keras seperti akan meletus di dalam. Dasi pun seperti menjerat leher. Ya, kurang lebih seperti itulah yang saya rasakan selama menanti giliran masuk ke ruang ujian. Rini yang setia mendampingi dan menyamangati saya, cuma berusaha menghibur dan menenangkan pikiran saya. Walaupun mungkin dia tau, ndak akan ada orang yang mampu melepaskan saya dari kegugupan, bahkan mungkin diri saya sendiri sekali pun.

Setelah masuk ruang ujian, semua ndak menjadi lebih baik. Walaupun 2 orang penguji dari deplu yang hadir di sana berusaha mengajak saya rileks, tapi ndak ada pengaruhnya untuk saya. Tenggorokan menjadi semakin kering, otak juga terasa membeku ndak berfungsi sehingga saya merasa ndak mampu lagi berpikir, dan lidah seperti mati rasa ndak mampu membantu saya berbicara. Berlebihan? Yah, namanya juga gugup. Semua hal jelek pun seperti benar-benar terjadi. Hehe!

Terbukti, kegugupan cuma membuat saya rugi sendiri. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang hukum diplomatik pun saya rasa ndak terjawab maksimal. Pertanyaan tentang kekebalan, keistimewaan, persona non grata, dan beberapa kasus diplomatik yang sebenarnya menjadi andalan saya meraih nilai baik pada ujian kali ini, malah jadi ndak maksimal karena lidah seperti bergerak sendiri melawan segala perintah otak saya yang juga ndak bekerja maksimal karena saya seperti sesak nafas sehingga otak ndak mendapat pasokan oksigen yang cukup. Hehe!

Begitu juga untuk pertanyaan lain yang sebenarnya cukup saya kuasai, tapi jadi menguap dan menghilang tanpa bekas dari memori saya. Misalnya, pertanyaan mengenai kapan berdirinya asean. Padahal baru malam sebelumnya saya sempatkan baca kembali sejarah asean, tapi saya benar-benar lupa kapan asean berdiri. Mau contoh lain bagaimana parahnya kegugupan saya kemarin? Bahkan saya ndak bisa menjawab dengan tegas, waktu saya ditanya kapan saya lulus kuliah. Parah kan? Haha!

Kegugupan juga membuat bahasa inggris saya yang standar semakin menurun kualitasnya. Wah, pokoknya parah banget ujian kemarin. Ditambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang masalah yang jujur saja, ndak pernah saya ikuti selama ini. Misalnya tentang amandemen uud 45. Bukan karena saya fanatik dengan uud 45 asli yang menjadi alasan saya ndak mengikuti perkembangannya, tapi memang saya merasa ndak ada pentingnya untuk saya perubahan uud 45. Begitu juga masalah lain tentang politik nasional, tokoh nasional, dan beberapa masalah nasional lainnya.

Intinya, kali ini saya mendapat pelajaran yang penting banget dalam hidup saya. Bahwa gugup, cuma merugikan diri sendiri. Walaupun saya harus akui, susah banget menekan rasa gugup yang membekap pikiran. Bahkan, berdoa pun ndak membuat saya jadi lebih baik. Tapi ya itulah, saya harus menemukan cara yang lebih efektif untuk menanggulangi kegugupan, yaitu dengan menguasai materi dan masalah yang mungkin diujikan dengan sebaik-baiknya meskipun kita ndak akan pernah tau persoalan yang akan diujikan.

Well, begitulah pengalaman interview saya. Walaupun blum ada pengumuman resmi, tapi dari ujian yang saya jalani kemarin, saya bisa memprediksi kegagalan saya sendiri. Saya bukan pesimis, tapi cuma berusaha realistis. Masih ada kesempatan lain di seleksi deplu jalur umum di jakarta nanti. Semoga saya bisa berbuat lebih baik di sana. Tapi sekarang saya semakin tau, walaupun konon gaji sebagai pegawai negeri sipil kecil banget dibandingkan profesi lainnya, ternyata mendapatkan posisi di sana sulit banget. Tapi justru dengan status “sulit banget” itu yang membuat saya semakin penasaran untuk menaklukkannya. Hehe! Saya harus angkat topi untuk orang-orang yang sudah sukses menempatkan dirinya sendiri di instansi plat merah sebagai pns.

Saya harap, pengalaman ini akan bermanfaat besar untuk langkah saya selanjutnya, atau bahkan mungkin bermanfaat bagi orang lain yang membacanya di blog ini..

Related Post

21 thoughts on “Pengalaman Interview Gagal”

  1. Ya semoga saja dengan di curhatin di blog ini gugupnya hilang, hehehe. Saya setuju dengan cara mengurangi gugup adalah menguasai materi, seperti ketika saya mengajar di kelas, kalau materi sudah dikuasai maka proses mengajar pun menjadi menyenangkan dan ada kepuasan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.. *halah..

    oya, untuk pengalaman lulus plat merah, ini pengalaman saya
    http://wirautama.net/saya-lulus-murni-terserah-anda-bilang-apa/
    .-= wira´s last blog ..Plugin WordPress Thread Comment Untuk Menjawab Komentar =-.

    pushandaka Reply:

    Cuma yang jadi masalah dalam mempersiapkan materi untuk ujian, kita ndak pernah benar-benar tau materi apa saja yang akan diujikan. Beda banget waktu jaman kuliah, kita sudah pasti dengan materi ujiannya.

    *kangen masa kuliah..

  2. terlepas dari lolos tidaknya interview kemaren, tuhan memberi semuanya itu ada maksudnya, gung…
    mungkin nggak boleh jadi pejabat deplu… malah nanti jadi menlu lewat jalur yang lain…
    hehehehhe… semangad..!!!

    pushandaka Reply:

    Wah, sampeyan ini memang bijaksana banget mas.. 🙂

  3. Ada juga orang yang biarpun sudah sering interview, masih gugup juga. Biasanya sih karena udah keder duluan dengan jabatan atau posisi yang mau dilamar. Kalau saya dulu gak grogi-grogi banged, hanya di 5mnt pertama saja grogi, habis itu santai… Tp itu kan dulu ya… Kalo sekarang mungkin gugup banged 😀
    .-= zee´s last blog ..Uangku Bukan Uangmu – part 2 =-.

    pushandaka Reply:

    Saya sebelumnya pernah menjalani ujian interview di instansi non-pemerintah. Lebih mepet lagi panggilannya. Ujian jam 4 sore, diberitahu jam 2 siang. Tapi, waktu itu malah ndak ada gugup-gugupnya. Aneh.. 🙂

  4. kalo pekerjaan masih banyak yg menanti, gung. jadi kalau ternyata tidak lolos, maka masih ada kerjaan lain yg menunggumu.

    yg sedih kan kalo lamaranmu pada anak orang itu ditolak. itu dia baru gawat. wahahaha..

    ayo. ndang dilamar anaknya orang. jangan lupa persiapkan diri baik2 biar tidak gagap lagi. :p
    .-= a!´s last blog ..Karena Warga Berhak Bertanya =-.

    pushandaka Reply:

    Lah, justru mendapatkan pekerjaan adalah salah satu persiapan dan bekal untuk melamar dia, ton. Hehe!

  5. wah sharing yang jujur, suatu saat nanti aku juga akan interview untuk kerjaan, jadi tau gimana rasanya gugup dan gimana mengatasi jawaban yang harus diberikan tanpa bisa menebak apa yang akan ditanyakan.
    Memang ga seperti ujian wawancara biasanya ya….. hehe!
    .-= putriastiti´s last blog ..Bulletin Gereja, Efek Genovese =-.

  6. Kuncinya jangan takut gagal, mudah-mudahan gugup hilang, interview lancar, diplomasi pun berjalan.
    Salam kenal

    pushandaka Reply:

    Jangan takut gagal. Hmm.., rasanya ada benarnya juga. Terima kasih..

  7. Ya ampun…aku juga pernah mengalaminya gung, detik2 menjelang akad nikah….ada teman yang nanya no rumah kostan sampek nggak inget…ck…ck…

    pushandaka Reply:

    Memang parah ya, kalau sudah gugup. Apalagi kalau sampai kalut. Kacau banget..

  8. kalau saya diinterview selalu gugup, ntah kenapa padahal sudah hafal materi…jeg, selalu gugup… waktu Pecha Kucha Night di UBud Writer, saya sempet presentasi disana, langsung gugup, kata-kata susah banget keluar, padahal udah hafal materi…mungkin karena tamunya sebagian besar bule, pikiran jadi ngaco…
    .-= ekabelog´s last blog ..Rahajeng Galungan lan Kuningan =-.

    pushandaka Reply:

    Terima kasih untuk berbagi pengalamannya, ka..

Comments are closed.