Pakai Helm

Kemarin, saya lihat di jalan, banyak sekali pengemudi sepeda motor di jalan yang berpakaian adat untuk bersembahyang tanpa helm dan dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan sepeda motor saya yang kira-kira cuma 40 km/jam.

Bolehkah mereka berkendara tanpa helm?

Saya temukan UU No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 23 huruf e, saya baca, pengemudi kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, wajib memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih, dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah.

Ketentuan yang sama juga saya baca di Peraturan Pemerintah (PP) No. 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, Pasal 70, pengemudi dan penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah, wajib menggunakan helm.

Pasal-pasal itu menyebutkan bahwa memakai helm adalah wajib bagi pengendara kendaraan bermotor roda dua. Maka seharusnya polisi tidak bisa membiarkan kecuali bila ada hal-hal yang mengecualikan.

Tapi kenapa mereka yang bersembahyang bebas berkendara tanpa helm? Dari orang-orang terdekat saya mendapat beberapa alasan. Pertama, tidak mungkin pakai helm karena pake destar atau penutup kepala lainnya untuk pemeluk agama lain.

Penutup kepala itu bisa dipakai saat di tempat ibadah saja, kan?

Alasan kedua, tujuan mereka kan sembahyang, jadi mereka pasti dilindungi Tuhan di jalan. Hehe! Masuk akal tidak, alasan itu?

Lalu ada pertanyaan, bagaimana dengan anak kecil yang membonceng sepeda motor tanpa helm? Menurut saya, mereka juga punya kewajiban yang sama.

Maksud saya, tentu saja kewajiban itu membebani si orang dewasa. Si orang dewasa wajib memakaikan helm ke anak-anak saat membonceng, dalam rangka menjaga keselamatan si anak.

Kalau ternyata tidak ada helm yang aman khusus untuk anak-anak, apalagi bayi, ya seharusnya ketentuannya menjadi “Dilarang membawa anak-anak (atau bayi) saat berkendara kendaraan bermotor roda dua

Mungkin saya berlebihan mengenai ketentuan pake helm ini. Tapi setelah saya tahu sendiri dampaknya ditabrak kendaraan lain di jalan tanpa helm, yang membuat saya gegar otak dan harus mendapat beberapa jahitan di kepala, saya jadi sadar pentingnya kewajiban memakai helm.

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

One thought on “Pakai Helm”

  1. Saya juga sering kalo sembahyang cuma pake peci doang, soalnya kalo pake helm pas sholat rasanya aneh gimannaa.. gitu.

    //ehm, ini tentang helm dan jalan raya mas.. bukan helm dan mesjid. nyambung dikit napa?//

Comments are closed.