No English No Fb

Hari ini, Sabtu, 8 Juni, adalah hari yang saya harapkan bisa menyenangkan untuk saya. Kenapa? Sebab untuk pertama kalinya saya mengujungi negeri tirai bambu, Cina.

Iya, saya berada di sini setelah terpilih untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Kementerian Perdagangan Cina selama tiga minggu, sejak hari ini sampai akhir bulan nanti.

Tapi, apa yang saya temui di hari pertama tidak terlalu menyenangkan sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya. Banyak kendala yang menyulitkan adaptasi saya di hari pertama.

Pertama tentu saja kendala bahasa.

Di negeri panda ini, tidak banyak orang yang bisa ditanyai dalam bahasa Inggris. Hampir mirip dengan Jepang sebenarnya. Tapi, kendala lain yang menambah kesulitan itu adalah banyaknya situs atau konten internet yang diblok oleh pemerintah Cina.

Misalnya saja facebook.

Sementara hasil pencarian melalui google.com.hk lebih banyak memuat hasil bertulis huruf kanji. Tentu tidak ada gunanya untuk saya memelototi tulisan-tulisan itu, karena saya tak mengerti.

Misalnya, sore ini, ketika tv di kamar saya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, teknisi buru-buru menolak telepon saya waktu saya menyapanya dengan bahasa Inggris.

Mereka segera menjawab, “No english, sorry..”

Bisa bayangkan bagaimana sulitnya hidup saya di sini selama tiga minggu ke depan. Seperti menjadi alien di tengah keramaian. Bahkan untuk sekedar minta gelas pun bisa jadi masalah di sini.

Sebenarnya ada sih, dua orang anggota panitia yang bisa membantu semua masalah peserta seminar.

Mereka bernama Xun (dibaca Suin) dan Tonks. Tapi mereka berdua ini cewe, saya tentu saja tidak enak kalau setiap masalah kecil harus menghubungi mereka. Walaupun mereka bilang akan siap membantu semua masalah.

Jadilah kadang saya cuma bisa diam saja di kamar karena tidak ada yang bisa membantu masalah yang saya hadapi.

Sekarang bayangkan, bagaimana saya harus minta bantuan untuk mengaktifkan paket blackberry messenger saya dengan kartu lokal China Mobile?

Bisa-bisa malah stres sendiri jadinya.

Akhirnya, yang bisa saya lakukan sekarang adalah berbagi lewat blog ini. Sebab, seperti yang saya bilang tadi, facebook pun diblok. Jadi untuk berbagi masalah di internet pun di sini sulit luar biasa.

Begitu juga akun twitter dan mungkin media sosial lainnya. Saya seperti masuk ke dalam penjara. Beda sekali dengan Jakarta.

Tapi ya sudahlah.

Mungkin di sinilah letak menyenangkannya berada di Cina. Cuma saya saja yang belum terbiasa dengan keadaan ini.

Xie xie.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

8 thoughts on “No English No Fb”

  1. Aku malah penasaran sama bagian ini >> This article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka
    Itu apaan sih, push? Aku coba klik linknya, tapi kosong *ya emang inet kantorku lagi down, sih*

    Etapi kalo di China apa2 emang di-sensor. DoTA aja harus menyensor gambar darah dan gambar sejata.

    1. Hai lea, maaf baru balas pertanyaanmu.

      Digiprove itu semacam perlindungan hak cipta kali ya. Aku juga ndak tau pasti. Jadi semacam perlindungan terhadap konten yang kita tulis dan muat di blog. Tapi sejujurnya, aku juga ndak tau bagaimana cara kerjanya. Hehe..

  2. gak kebayang deh sebulan kayak gitu. masih mending ke pulau terpencil yg gak dapet sinyal, kita pasrah krn emang gak bisa. tapi ini bisa, tapi gak boleh sama pemerintah. dohhh

  3. Mantap juga tuh pemerintah China melindungi bahasanya. Saya pikir ini sama dengan negeri Prancis, warga negaranya lebih bangga memakai bahasa sendiri.

Comments are closed.