Normalnya ‘New Normal’

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta masih akan berlangsung sampai dengan tanggal 4 Juni 2020, tapi wacana untuk pelonggaran PSBB dengan ketentuan ‘new normal’ semakin sering dibahas. Normalkah new normal sekarang?

Saya sendiri memang tak bisa memungkiri bahwa penerapan PSBB di Jakarta membawa dampak yang tidak menyenangkan terutama dari segi ekonomi, baik yang dialami oleh pelaku usaha maupun para pekerjanya. Banyak pengusaha yang gulung tikar, disusul dengan pemutusan hubungan kerja kepada para pekerja.

Tapi kita semua tentu tak bisa menutup mata bahwa penyebaran virus Corona di Indonesia masih terus meluas dan jumlah orang positif Corona semakin banyak. Masih ada belasan ribu orang yang belum dinyatakan sembuh.

***

New normal sendiri adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Begitu kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, yang saya kutip dari kompas.com.

Idenya mirip dengan tulisan saya sebelumnya [bisa dibaca di sini], yang kurang lebih dapat disimpulkan bahwa kita harus melakukan penyesuaian di keseharian kita untuk tetap beraktivitas dengan ‘teman baru’, virus Corona.

Tapi tepatkah penerapannya saat ini, di saat grafik kasusnya masih menanjak terus, yang kita bahkan tak tahu kapan akan mencapai puncaknya?

New normal seyogyanya dilakukan setelah ada data yang memastikan bahwa kasus positif Corona sudah mencapai puncak tertinggi. Atau bisa juga saat semua orang sudah terdata jelas dan hampir dapat dipastikan tak ada lagi hidden carrier di antara kita.

Selain itu, penerapan new normal sangat tidak mudah, apalagi kalau dilakukan pada saat masih pandemi seperti ini. Selain kedisiplinan semua warga masyarakat, fasilitas umum yang memadai juga benar-benar telah tersedia.

Sudah siapkah Pemerintah?

Misalnya, salah satu new normal yang harus diterapkan sehari-hari adalah physical distancing, di mana kita harus menjaga jarak dengan orang lain, terutama yang tak kita kenal dekat, minimal satu meter jauhnya.

Hal itu akan sangat sulit dilakukan kalau jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta listrik Jabodetabek saja masih tidak bisa dipastikan keakuratannya. Penumpang akan tetap berjubel, berdesak-desakan di dalam gerbong, tanpa ada jarak satu sentimeter pun di antara mereka.

Begitu pula jumlah armada bis kota Transjakarta yang belum bisa menampung kebutuhan new normal tentu juga menjadi kendala penerapan adaptasi besar-besaran ini.

Belum termasuk cara mengatur jumlah pengunjung pasar, apalagi menjelang hari suci keagamaan atau hari libur panjang.

Itu baru beberapa contoh kecil yang harus benar-benar dipersiapkan bila memang ingin menerapkan new normal di Jakarta, atau di Indonesia secara umum.

Tentu saja berat, apalagi masih pandemi. Maka dari itu saya berpikir, untuk mempermudah situasi new normal tersebut, paling tidak Pemerintah sudah mempunyai data yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan bahwa kasus positif Corona telah mencapai puncaknya, dan grafiknya telah turun menuju titik nol.

Berdasarkan data tersebut, maka yang positif dapat dikarantina, sekaligus memastikan bahwa yang beraktivitas di luar rumah dengan aturan new normal adalah mereka yang memang telah terbukti negatif Corona.

Di masa-masa seperti ini, saya rasa tak ada pilihan selain tetap menerapkan PSBB di beberapa kota yang termasuk red zone, atau melakukan tes Corona secara besar-besaran kepada seluruh warga untuk segera mendapat data pasti mengenai jumlah orang positif Corona.

***

Apapun jalan yang akan ditempuh, semua disertai konsekuensi biaya yang tak sedikit. Menerapkan PSBB yang lebih ketat, seperti kita tahu, salah satunya akan berdampak bagi kelompok masyarakat yang kehilangan penghasilan. Merugikan negara dari sisi bisnis dan ekonomi.

Melakukan tes massal untuk menemukan hidden carrier, yang lebih berbahaya daripada orang yang telah terbukti positif, juga membutuhkan biaya yang tak kecil. Saya tak tahu berapa harga alatnya serta berapa jumlah yang diperlukan, apalagi kalau alat tersebut masih harus diimpor dari negara lain.

Menerapkan new normal di tengah pandemi juga tak murah. Selain harus segera menyiapkan sarana dan prasarana umum, Pemerintah juga harus bersiap diri menghadapi kemungkinan melonjaknya jumlah kasus positif setelahnya.

Maka apapun pilihannya, seharusnya alasan finansial tak bisa dijadikan penghalang karena semuanya tak murah. Mau tak mau, Pemerintah memang harus mengorbankan dulu anggaran untuk proyek-proyek besar demi kesehatan bangsa dan negara.

***

Atau jangan-jangan memang benar bahwa Pemerintah akan memberlakukan herd immunity tanpa vaksin seperti yang disampaikan beberapa pihak? Semoga saja tidak, sebab itu sangat jahat.

Digiprove sealDigiproved

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

27 thoughts on “Normalnya ‘New Normal’

  1. Kebijakan pencegahan Covid19 di Indonesia secara umum masih abu abu antara kebijakan yang tidak tegas sampai masyarakat yang abai.

    Ngeri kalau membayangkan apa yang akan terjadi bila kondisi ini tidak segera berubah.

    1. Iya dok. Sekarang saya cuma bisa pasrah saja kalau harus hidup ‘new normal’ dalam situasi seperti ini. Semoga para ahli kesehatan bisa membisiki pengambil keputusan di pemerintahan untuk menetapkan kebijakan yang baik dan tegas untuk menangani Covid-19 ini.

      Senang sekali rasanya blog ini dikunjungi selebtwit seperti Pak Dokter yang satu ini. Terima kasih dok.

  2. Saya merasa imun saya gak terlalu bagus, kena hujan atau angin dikit suka flu, masuk angin. Sejak si tamu tak diundang ini jadi lebih rajin minum vitamin C, antangin, bandrek…

    Herd immunity? Oh no… Orang tua sayapun sudah sepuh…

    1. Betul Mas. Belum ada satu orang pun yang terbukti memiliki imunitas terhadap virus Corona. Maka semua orang wajib waspada dan selalu melaksanakan protokol pencegahan penularan, serta Pemerintah harus benar-benar tegas mengambil keputusan yang pro terhadap kesehatan warganya.

  3. Wahhh tadi saya mampir di link blog satunya lalu disuguhi ” Selamat Datang, Nak “. Setelah saya lihat ternyata update terakhir pada tahun 2017an ya hha.. Langsung saya mikir mungkin blog ini aktifnya di blog utama, dan ternyata benar disini. hehe..


    Berbicara terkait pandemi ini memang masih banyak orang berkeliaran kesana kemari, keluar dari rumah berjualan atau mencari kebutuhan pokok untuk keluarga dirumah. Sebenarnya agak kesel sih, sudah lebih dari 3 bulan saya dirumah menahan diri untuk tidak keluar agar pandemi ini bisa cepat berakhir, tapi disisi lain orang diluar sana malah seenaknya keluar tanpa ada rasa bersalah terkait virus corona yang terus menyebar dan menyebabkan banyak korban jiwa yang harus meninggal karena virus ini.

    ** Tapi kalau saya diposisi orang yang tidak punya pekerjaan, dan harus menafkahi keluarga ya mau tidak mau harus keluar rumah. Karena harus dari mana lagi bisa mendapatkan uang ataupun penghasilan. Sedih banget sih banyak orang harus di PHK dan banyak tempat usaha harus tutup karena pandemi ini.

    Semoga bisa cepat kelar deh, dan bisa melanjutkan aktvitas dan bisa kembali bekerja secara normal seperti dulu kala.

    1. Halo Mas Andrie, sebenarnya blognya aktif semua kok sampai sekarang. Mungkin yang Mas baca itu ‘featured post’ jadi selalu muncul di atas walaupun ditulis tahun 2017. Hehe.

      Saya setuju dengan pendapat Mas, tapi mungkin satu yang nampaknya sulit terjadi, yaitu kita bisa melanjutkan aktivitas seperti dulu kala. Pasti ada yang berubah, termasuk penerapan new normal di atas dalam kehidupan kita sehari-hari.

  4. Akhir-akhir ini saya sering baca berita soal kondisi wabah di negara-negara tetangga, Bli. Sering juga baca tulisan narablog Malaysia yang cerita lumayan banyak soal kondisi movement control order di sana. Beda banget kondisinya sama di sini. Di sana pembatasan pergerakan ya benar-benar diterapkan, kecuali untuk beli bahan makanan. Pas lockdown, praktik belajar normal baru juga sudah mulai dilakukan, seperti pakai masker dan antre 1-2 meter. Beberapa waktu lalu, MCO-nya sudah dilonggarkan dan orang-orang mulai bisa ke kantor, meskipun masih banyak yang pakai sistem sif. Tapi kelihatan ada titik patah antara sebelum dan setelah wabah. Di sini, titik patahnya samar sekali.

    Kalau kondisinya begini, yang bisa dilakukan cuma mendisiplinkan diri sendiri sih, Bli…. sambil berdoa semuanya akan baik-baik saja.

    1. Iya Mas, kemarin juga saya ngobrol dengan teman di Viet Nam. Dia bercerita, walaupun tak mendetail, tentang apa yang mereka (pemerintah dan warganya) lakukan untuk menutup peluang penyebaran Covid-19 secara luas. Mungkin tak sepenuhnya bisa dilakukan di Indonesia karena beberapa hal, tapi setidaknya bisa dicontoh oleh pemerintah dan warga Indonesia.

  5. Halo Mas Agung
    Saya jalan2 di blog mas. Hehehe

    Kemarin teman-teman disini (Banjarmasin) sering diskusi tentang si virus ini. Ditambah wacana bahwa pengobatan covid kedepannya tidak akan ditanggung pemerintah lagi.
    Jujur saja, sebenarnya lelah kalau membahas covid ini. Tapi…. beginilah adanya. Dampaknya begitu luar biasa.

    Menurut saya, banyaknya pelanggaran juga terjadi karena kesiapan pemerintah dalam penerapan sanksi PSBB masih seperti karet. Dan bantuan juga belum merata. Saya beberapa kali menyerahkan sembako hasil donasi ke orang2 yang terdampak covid. Ternyata masih banyak yang belum paham betul apa arti terdampak covid. Alasan permintaan sembako di tolak oleh RT karena RT nya menganggap orang itu mampu. Padahal dia kehilangan pekerjaan. Sudah berusaha mencari tapi belum menemukan pekerjaan, sedang dapur harus mengepul. Yang dapat sembako malah mereka yang sudah mendapat BLT, penerima PKH.

    Waaah komen saya sudah meluas ternyata.
    Semoga pandemi ini segera bisa diatasi. Segera di temukan obatnya. Aamiin

    1. Saya setuju dengan Mbak Putri, terutama untuk penerapan sanksi yang seperti karet. Kalau ada yang bilang masyarakat kita tak bisa disiplin, tidak benar juga. Coba perhatikan warga Indonesia yang pelesir ke Singapura misalnya, mereka disiplin mengikuti aturan dilarang merokok, membuang sampah, atau meludah sembarangan. Kenapa, karena pemerintah di sana tegas menerapkan sanksi.

      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ya, Mbak.

  6. Sebuah plihan diantara yang buruk dari yang terburuk
    Memang sulit rasanya, tapi bagaimana lagi memang kita harus berteman dengan teman baru.
    Pastinya bagaimana caranya teman baru itu tidak menulari. tetap mengikuti anjuran pemerintah. Salah satunya menjaga kesehatan, jaga jarak dan mengenakan masker.
    Kalau terus menerapkan sistem PSBB atau bahkan lockdwon, dampaknya juga sungguh luar biasa. Negara bisa kacau, rakyat juga bisa menjerit.
    Proyek-proyek besar dihentikan, dampaknya juga luar biasa pula. Pengangguran semakin banyak, roda ekonomi juga ikut tersendat.
    Pokoknya serba salah.

    1. Betul Mas, apapun jalan yang dipilih oleh Pemerintah, semuanya ada konsekuensinya, baik dari sisi ekonomi maupun sisi kesehatan.

      Yang perlu dilakukan Pemerintah, terlepas dari apapun yang akan dipilih, Pemerintah benar-benar harus siapkan semua yang dibutuhkan dan tegas untuk menerapkannya. Jangan plin-plan dan berubah-ubah.

  7. awal awalpertama munculnya istilah new normal, aku nggak ngeh pengertiannya. karena sering dibahas di sosmed dan timeline yang sering wara wiri jadi ngerti juga maksud istilah itu dan temen temen sendiri sering bahas soal kudu siap dengan new normal ini
    tentunya keadaan yang akan ditemui di luar rumah akan berbeda dan kudu rajin nerapin protokol kesehatan plus jangan dientengin

    1. Kalau boleh jujur, saya pribadi belum siap dengan penerapan new normal. Apalagi kalau baca beberapa opini para ahli, bahwa kondisi di Indonesia ini tidak tepat untuk pemberlakuan new normal dan berpotensi menjadi ‘new wave’ penularan Covid-19. Tapi apa daya, sebagai pekerja saya harus mengikuti aturan kantor sambil lebih ekstra menerapkan antisipasi untuk kesehatan diri sendiri sekaligus keluarga tercinta di rumah.

  8. Jujur sebenarnya hal yang menakutkan jika diterapkan New Normal dalam waktu dekat ini.
    Ada baiknya diundur saja pelaksanaannya.

    Yang paling bikin khawatir nantinya kegiatan sekolah mulai aktif kembali.
    Terutama TK dan SD yang masih banyak gerak tingkah lakunya.

    1. Betul Mas. Tapi yang saya baca, kalau tidak salah pembukaan sekolah ditunda.
      Anak-anak umur TK dan SD harus mendapat perlindungan ekstra karena mereka belum sepenuhnya mengerti dan bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri.

      1. Rencana sekolah mulai aktif kembali tanggal 19 bulan Juni ini, mas.

        Kalau aku pribadi, lebih setuju kegiatan belajar di sekolah aktif kembali di bulan Desember.

        1. Kalau yang saya tahu, proses belajar-mengajar di sekolah ditunda lagi Mas. Kalau yang bulan Juni itu pembukaan tahun ajaran barunya saja. Tapi masih tetap belajar dari rumah.

          Begitu yang saya tahu.

  9. saya rasa terlalu cepat untuk menerapkan new normal.. di Sumbar sendiri PSBB masih sampai tanggal 7 Juni 2020, belum tau apakah akan diperpanjang atau menuju new normal, harapan saya sih diperpanjang.. Karena, walaupun kemarin PSBB, nyatanya masih banyak pergerakan orang yang mudik.. kalau mau menerapkan new normal, idealnya memang setelah grafik turun, atau imho, minimal sebulan setelah lebaran, kalau sekarang rasanya terlalu deket waktunya dg lebaran, takutnya malah boom..

    -traveler paruh waktu

      1. Halo Mas Bara dan Mas Him.
        Sepertinya masih banyak orang yang berharap agar new normal ini ditunda dulu.
        Di Jakarta sendiri, hari ini 4 Juni, PSBB akan berakhir. Nampaknya dilanjutkan dengan PSBL (lokal) yaitu menerapkan lockdown di lingkungan RW yang masih masuk zona merah.

Comments are closed.