Mudik: Senang dan Sedih

1 menit waktu baca

Lebaran identik dengan mudik alias pulang ke kampung halaman. Saya sekarang memang ndak lagi mengalami nikmatnya saat-saat menuju hari keberangkatan dan selama dalam perjalanan pulang. Tapi, saya masih bisa merasakan bagaimana senangnya pulang untuk bertemu keluarga di rumah. Iya, waktu saya masih kuliah di Jogja, hampir di setiap libur Lebaran saya menyempatkan pulang ke kota halaman, Denpasar. Apalagi kalau pulang bersama-sama teman senasib sepenanggungan di perantauan, senangnya terasa lebih. Cuma sekarang, berhubung sejak 2008 saya masih terjebak di Denpasar, maka masa-masa itu ndak bisa saya nikmati secara langsung.

Tapi, ada hal yang membuat saya merasa sedih melihat orang-orang yang berangkat pulang ke rumah masing-masing. Berbeda dengan yang saya alami karena saya naik bis malam kelas eksekutif, mudik Lebaran kelas ekonomi blum bisa melepaskan diri dari citra yang semrawut, pelayanan yang ndak memuaskan dan rawan kriminalitas. Mungkin buat orang yang berduit cukup banyak, pulang kampung bukan masalah besar karena berapa pun harga tiket pesawat bisa terbeli. Tapi yang uangnya pas-pasan, keadaan yang ribet, semrawut bahkan rawan kericuhan dan kejahatan harus rela mereka nikmati demi merasakan hangatnya suasana rumah.

Trus bagaimana? Apakah tradisi mudik ini harus distop? Wah, ngawur banget. Satu-satunya cara adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan bagi para pemudik. Mulai dari kondisi jalan, kondisi kendaraan umum, juga perlindungan kepada pemudik dari tindak kejahatan, tanpa menaikkan tarif yang harus dibayar oleh pemudik. Terkesan memberatkan tugas negara? Menurut Pancasila dan UUD 1945, memang itulah tugas negara, yaitu menjamin bahwa hak asasi setiap warga negaranya terpenuhi. Jadi, suka atau ndak, pemerintah sebagai penyelenggara kedaulatan negara harus melakukan itu. Hehe!

Tapi untuk sementara ini, dengan segala suka dukanya, saya ucapkan selamat jalan. Semoga perjalanan anda menyenangkan, baik di saat mudik maupun balik nanti..

24 thoughts on “Mudik: Senang dan Sedih”

  1. yup sob.. Kalo saya mudik biasa pas enggak hari lebaran.. Suka cape di Jalan.. Tapi mudik itu memang sudah tradisi. Transportasi di Indonesia memang harus diperbaiki. Tanpa ada mudik pun transportasi di Indonesia memang kurang layak.
    Sekalian ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin.

  2. Yang memprihatinkan adalah kemacetan luar biasa di titik-titik penyeberangan. kasihan sekali mereka, waktunya habis di jalan gara-gara macet, belum lagi yang mengalami musibah.
    Semoga semakin ke depan semakin baik 🙂

  3. Kalau mudik sudah menjadi tradisi tahunan, seharusnya sudah ada antisipasi perbaikan siistem transportasi umum agar lebih baik lagi setiap tahunnya.
    SELAMAT IDUL FTRI.
    MOHON MAAF LAHIR BATHIN.

    1. Bali secara umum akan lebih lengang kalau Lebaran, terutama di Denpasar. Tapi di kantong-kantong wisatawan seperti Kuta, akan lebih ramai karena banyak wisatawan domestik (non-Muslim) yang berkunjung menikmati libur Lebaran, apalagi sekarang juga long weekend.

  4. Demi kampung halaman, dan wajah kluarga yang ngangenin manah…jalan berliku dan cobaan pun harus dilewati…karena di ujung jalan menanti harapan dan cinta…

  5. Dihari yang Fitri ini, saya datang dengan tangan sedakap didada, mohon maaf dan ampunan.
    Selamat Raya Idul Fitri
    Mohon maaf lahir dan bathin.

    Aldy dan Keluarga.

  6. kok kita kebalikan ya bli, bligung g mudik dari Jogja ke Bali karena sekarang di Denpasar terus, kalo saya ga mudik dari Bali ke Jogja karena sekarang saya di Jogja 😀
    Maaf lahir bathin bli…

  7. taqabalallahu minna waminkum
    [blog] kang ian dan keluarga
    mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1431 H
    Mohon maaf lahir batin..
    dan terima kasih atas kunjungannya selalu di blog saya ^^
    salam..

  8. sukaduka mudik memang sgt berkesan…
    lebaran ga mudik malah nyesellll
    Selamat Idul Fitri 1431H
    Minal ‘Aidin wal Faizin… Mohon Maaf Lahir dan Batin
    *ga telat kan?*

    salam, ^_^

  9. Mudik itu tradisi. Kayanya cuma di Indonesia ya yang punya tradisi mudik berjamaah dalam skala besar & kembali ke kota tempat domisili/kerja secara berjamaah juga.. 😀

    Mohon maaf lahir bathin yaaa.. 🙂

  10. Ternyata punya kenangan yang mengesankan ya dengan mudik. Kalau saya jujur belum pernah mudik, soalnya saya tidak pernah meninggalkan kampung halaman sejak dari lahir hingga sekarang. Jadi tidak tahu rasanya mudik itu seperti apa.

Comments are closed.