Mereka yang Menjadi Korban

2 menit waktu baca

Kemarin (19/1) saya menonton berita pengusiran oleh masyarakat di Mempawah, Kalimantan Barat, terhadap warga yang diduga adalah anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Menurut berita, warga yang diusir sudah menetap di Mempawah cukup lama. Jumlah mereka pun ndak bisa dikatakan sedikit, sekitar 1000 orang. Saya tonton di televisi, sebagian dari mereka adalah perempuan dan anak. Mereka harus dikawal oleh aparat keamanan keluar dari tempat tinggal mereka yang dirusak dan dibakar oleh masyarakat yang menolak kehadiran mereka, menuju bus yang akan membawa mereka ke Pontianak, di tengah hujan deras.

Saya mengerti kemarahan masyarakat terhadap mereka yang diduga anggota Gafatar, tapi menurut saya ndak perlu mengamuk kepada mereka.

Jujur, saya ndak tau secara rinci apa itu Gafatar. Di beberapa artikel yang saya baca, masyarakat di beberapa daerah menolak keberadaan mereka karena berbagai alasan. Ada yang menuduh mereka sebagai organisasi yang menyebarkan ajaran yang ndak sesuai ajaran agama, ada yang bilang mereka memiliki kaitan dengan organisasi separatis, bahkan ada yang menduga mereka bagian dari jaringan terorisme.

Apapun itu, saya melihat mereka yang diusir adalah korban. Mereka yang pergi dari keluarganya lalu bergabung bersama anggota Gafatar lainnya, adalah mereka yang teperdaya. Mereka bisa jadi adalah orang-orang khilaf dalam memilih langkah.

Mereka ndak bisa disamakan dengan pelaku aksi bom bunuh diri di Thamrin, Jakarta, kemarin. Sekalipun saya menduga, mereka para pelaku bom bunuh diri juga merupakan korban dari ajaran, bujuk rayu atau iming-iming yang menyesatkan, tapi bagaimana pun mereka telah melukai bahkan telah membunuh orang lain.

Saya bukan membela Gafatar, termasuk para anggotanya. Saya juga ndak membela organisasi apapun yang meresahkan masyarakat, apalagi sampai menyakiti orang lain dengan aksi kekerasan, tapi saya pengen melihat bahwa mereka yang mengklaim dirinya bukan anggota organisasi sesat ndak melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh organisasi sesat itu sendiri.

Masyarakat yang menolak kehadiran anggota Gafatar di wilayahnya melakukan aksi perusakan dan pembakaran yang kemungkinan besar dilihat oleh anak-anak yang berada di kelompok Gafatar. Saya pun marah kalau ada yang mengganggu kedaulatan negara saya, tapi saya rasa kita harus melihat situasinya. Mereka cuma korban, yang blum juga terbukti menyakiti orang lain, apalagi banyak di antara mereka adalah kaum yang seharusnya kita lindungi bersama, yaitu anak-anak dan perempuan.

Kita sebagai orang yang mengaku ndak sesat, bukan anggota organisasi sesat, seharusnya bisa menunjukkan kepada orang lain, khususnya kepada anak-anak yang akan meneruskan perjalanan negeri ini, mana yang sesat dan mana yang bukan. Saat yang merasa ndak sesat melakukan aksi kekerasan seperti itu, jangan salahkan anak-anak penerus bangsa nantinya menganggap aksi semacam itu bukan perbuatan yang sesat dan benar untuk dilakukan terhadap mereka yang kita tuduh sesat.

Seharusnya, mereka kita rangkul, kita ajak kembali pulang ke jalan yang kita anggap sesuai. Kalaupun mereka menolak, ada aturan dan prosedur yang dimiliki oleh aparat untuk menindak mereka. Bukan kita yang harus balik menyakiti mereka.

Terkadang, kita berada di posisi yang benar hanya kebetulan belaka. Jadi sebaiknya jangan berlaku semena-semena terhadap mereka yang sedang khilaf, karena bisa jadi suatu saat kita yang salah memilih jalan dan berada di posisi mereka sekarang. 

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

One thought on “Mereka yang Menjadi Korban”

Comments are closed.