Merah Putih di Miangas

Masih ingat jingle iklan komersial mie instan yang diubah menjadi lagu kampanye SBY Presidenku yang dinyanyikan oleh Mike Idol? Kira-kira liriknya seperti ini, “Dari Sabang sampai Merauke.. Dari Miangas sampai Pulau Rote .. dst.

Apakah anda pernah mendengar nama Miangas? Tahukah di mana letak pulau ini?

Saya sendiri baru tahu keberadaan pulau ini saat menempuh kuliah di kampus. Itu pun karena kebetulan mempelajari konflik internasional yang terjadi di sana.

Kalau diibaratkan orang, Miangas ini bukan asli dari Indonesia. Pulau ini dulunya lebih akrab disebut Pulau Palmas (Las Palmas).

Nama Palmas diberikan oleh pelaut Spanyol yang menemukan pulau ini ditumbuhi banyak pohon palm. Sementara nama Miangas berasal dari bahasa masyarakat lokal (masyarakat Talaud) yang berarti ‘kasihan’ merujuk dari keadaan pulau ini.

Pulau ini cukup kecil, cuma berukuran kira-kira tiga kilometer persegi. Bandingkan dengan luas Pulau Bali yang berukuran lebih dari lima ribu kilometer persegi.

Pulau Palmas tadinya adalah milik Spanyol yang menjajah Philipina. Secara geografis, pulau ini sebenarnya lebih pantas menjadi milik negara jiran karena cuma berjarak sekitar 48 mil. Sementara kalau dari Indonesia, jarak Pulau Miangas sekitar 145 mil.

Pokoknya, pulau ini terkucil dari pergaulan masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahkan pemerintah Indonesia pun sempat tidak peduli dengan keberadaan pulau ini.

Sampai akhirnya Malaysia berhasil mencuri Sipadan-Ligitan, barulah pemerintah Indonesia seperti tersengat untuk memeluk kembali pulau ini.

Sejarah masuknya Pulau Miangas ke pelukan NKRI adalah karena kenakalan pemerintah Belanda yang dulu menguasai wilayah Nusantara. Pulau ini dulu diacuhkan Spanyol.

Apalagi kemudian saat kedaulatan Spanyol di beberapa negara koloninya mulai diganggu Amerika Serikat, maka Spanyol pun kemudian sibuk berperang melawan Amerika Serikat.

Pada tahun 1898 Spanyol kalah dan menyerahkan Philipina, juga Guam dan Puerto Riko, kepada Amerika Serikat yang membayar 20 juta US Dollar. Merasa sudah menjadi miliknya, pejabat dari Amerika Serikat pun melakukan kunjungan ke Philipina pada tahun 1906.

Betapa terkejutnya pejabat itu saat melihat bendera nasional Belanda berkibar gagah di salah satu pulau Palmas. Padahal menurut Amerika Serikat, seharusnya pulau itu merupakan bagian Philipina.

Berdasarkan Perjanjian Paris 1898, Amerika Serikat adalah pemilik sah Philipina termasuk Pulau Palmas. Tapi kenapa pula ada bendera Belanda berkibar di pulau itu. Amerika Serikat kemudian menuduh Belanda melanggar kedaulatannya atas Philipina.

Maka, terjadilah konflik di antara dua negara itu. Mereka kemudian sepakat untuk membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional. Hakim memutuskan pulau ini sah milik Hindia Belanda.

Keputusan itu berdasarkan pertimbangan pertunjukan kedaulatan yang dilakukan Belanda di pulau itu, dengan menciptakan keamanan dan pertunjukan kedaulatan yang terus-menerus sejak tahun 1677.

Sejak Hindia Belanda memerdekakan diri menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pulau ini pun ikut serta memasuki gerbang kemerdekaan bersama Indonesia.

Sekarang, menurut yang saya baca di Kompas, Pulau Miangas lebih meng-Indonesia. Citra Indonesia dibangun lewat simbol-simbol seperti Monumen Santiago, nama seorang pahlawan lokal, yang sedang dibangun.

Tahun 2008, Tugu Perbatasan Negara juga sudah dibangun, melengkapi Tugu NKRI dan Tugu Megawati. Tahun 2007, SBY sempat melakukan video conference dengan masyarakat Miangas saat menguji coba satelit Telkom.

Bahkan, Universitas Indonesia pun mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata di Miangas dan menghasilkan sebuah rumah baca serta Miangas Center.

Tapi faktanya, masyarakat di sana hidup dengan banyak keterbatasan dan kekurangan. Tidak ada bahan bakar dari Indonesia di pulau ini. Sementara transportasi menuju Indonesia cuma dilayani oleh beberapa kapal perintis.

Itu pun sering terhalang oleh gelombang air laut yang minimal setinggi dua meter.

Pasokan air bersih cuma dari curah hujan dan beberapa sumur. Sinyal radio pun masih lebih kuat milik radio Philipina daripada RRI. Sementara untuk bisa menonton siaran tivi Indonesia, mereka harus memakai antena khusus seharga tiga juta rupiah.

Untuk kebutuhan sehari-hari, lebih mudah mencarinya ke Philipina karena alasan jarak yang lebih dekat. Akibat dari seringnya masyarakat Miangas berbelanja ke Philipina, mata uang yang beredar di Miangas pun mata uang Peso.

Tapi, masyarakat pulau ini tidak pernah absen untuk ikut merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Masih menurut Kompas, untuk memperingati Hari Kemerdekaan masyarakat di sana mengadakan Miangas Idol, yang melombakan kemampuan menyanyi lagu perjuangan Indonesia yang menjadi lagu wajib, berjudul Sepasang Mata Bola.

Bahkan, mereka juga memaksa tentara nasional Philipina yang berjaga di Miangas untuk ikut sebagai peserta upacara pengibaran bendera Merah Putih setiap tanggal 17 Agustus.

Pernah terjadi kasus pengibaran bendera Philipina yang terjadi pada tahun 2005, saat salah satu kerabat masyarakat Miangas terbunuh di tangan polisi Indonesia.

Saya harap, pemerintah Indonesia lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat di perbatasan, apalagi yang jaraknya jauh dari pusat pemerintahan seperti Miangas.

Supaya tak terjadi lagi, pulau yang akhirnya menjadi milik negara lain.

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

9 thoughts on “Merah Putih di Miangas”

  1. berarti kita harus bersyukur berada di wilayah yang jauh lebih baik. Betul, pemerintah memang sudah seharusnya memperhatikan daerah2 perbatasan Indonesia, merdeka!!!

    Merdeka!!

  2. kalo aku jadi orang Miangas, aku pasti mikir, manakah negara yang lebih mensejahterakan aku, keluargaku dan kampung tercintaku :p

    Pemikiran yang wajar. Tapi untungnya, Philipina cuma negara miskin, yang sebenarnya juga ndak mampu menyejahterakan rakyatnya. Coba kalau Miangas ada di antara Indonesia dan malaysia, wah..

  3. Salah satu kekurangan negeri kita ini adalah pulau2nya yang saling berjauhan dan kadang susah utk dijangkau.
    Lengah sedikit saja, mereka yang jauh-jauh itu akan merasa tidak diperhatikan. Semoga dirgahayu kali ini buat Indonesia jadi lebih baik ya.

    Setuju Mbak Zee..

  4. itulah jeleknya Indonesia, ketika pulau yg dulunya tidak pernah dihiraukan diambil negara tetangga, barulah Indonesia gembar-gembor mempertahankannya…

    semoga kedepannya Indonesia bisa mempertahankan persatuan dan kesatuan…

    MERDEKA dan TETAP SEMANGAT!!!!

    Semoga negara ini bisa berubah lebih baik..

  5. mereka butuh perhatian, sama dengan anak-anak panti yang saya kunjungi….

    HIDUP INDONESIA…MERDEKA dan TETAP SEMANGAT!!!!

    Semangat banget saudara saya yang satu ini. Hehe! Tetap semangat, Ka!

  6. wah,…ini informasi baru buat aku. makasi gung, jadi ga cuma bisa melongo sekarang kalo denger nama pulau miangas 😀

    Wah, viar.., tumben nyasar ke sini. Hehe! Senang rasanya bisa mengingatkan orang kalau kita punya Miangas. 🙂

  7. saia tau miangas sejak rebutan ma negeri jiran dan ada temen yg kuliah di AMG bersiap2 tugas disana..uhehehe…dan baca kompas akhir2 ni, sebuah pulau dgn luas 3,15 km2 tanpa pasokan BBm, listrik nyala dari pk.17.00 – 23.30, dan cuma 7 penelpon pertama yg dapet sinyal telepon seluler….tpi mereka tetap mencintai Indonesia. luar biasa!

    Memang luar biasa, Pak Gung. Terima kasih buat tambahan infonya. 🙂

  8. aku baca di kompas jg, mereka tetep bangga jd orang indonesia meski nasibnya lebih buruk dibanding ketika zaman belanda. kok hebat bener ya? hehe..

    Iya, sementara yang hidup enak di Jawa dan pulau sekitarnya, bisanya cuma mengeluh saja. Malu sama masyarakat Miangas..

  9. wah baru tau am tu pulau ni……….

    tapi y emang perlu kita menjaga pulau tersebut mg2 aj penduduk disana masih setia dengan merah putih

    Iya. Jangan sampai ada pulau kita yang nongol lagi di internet dengan status “For Sale” seperti di Kepulauan Mentawai. Sedih banget..

Comments are closed.