Menolak Tempat Ibadah

Seburuk-buruknya berita yang pernah saya baca tentang negeri ini, yang terburuk adalah berita tentang penolakan terhadap pembangunan sebuah tempat ibadah. Ada yang melalui jalur birokrasi, dengan memperlambat bahkan menghambat proses perizinannya, ada juga yang dengan menolak penandatanganan persetujuan pendirian tempat ibadah bahkan demonstrasi yang anarkis sekalian. Setelah maraknya berita ormas Islam menolak pendirian gereja, sekarang giliran sebuah forum di NTT menolak masjid. Apa sih ruginya membiarkan orang menjalankan ibadahnya?

Kalau dibilang sebuah tempat ibadah disegel karena tidak mengantungi ijin yang seharusnya, tuh buktinya lokasi praktek prostitusi tetap ada walaupun saya yakin mereka juga tidak memiliki ijin yang semestinya. Bukan berarti saya pengen prostitusi disegel juga, tapi apa susahnya sih pemerintah menerbitkan ijin untuk pembangunan sebuah tempat ibadah? Memang tidak menguntungkan secara ekonomis bagi pemerintah, tapi toh berdirinya sebuah bangunan publik akan ada manfaatnya untuk masyarakat sekitar.

Misalnya, pemuda kampung setempat bisa diberdayakan sebagai petugas keamanan gedung atau parkir. Masyarakat sekitar juga akan menikmati sedikit rasa nikmat saat pengurus tempat ibadah yang bersangkutan mengadakan bakti sosial atau kegiatan lainnya untuk kebahagiaan sesama. Saat ada peribadatan/hari besar agamanya, penjual makanan/minuman saya yakin akan mendapat sedikit keuntungan yang lebih baik daripada hari biasa.

Kalaupun tempat ibadah itu menimbulkan kebisingan atau keramaian saat berlangsungnya peribadatan, memangnya kenapa? Lagu pujian, doa, bacaan, adzan atau mantra yang terdengar sampai ke luar tempat ibadah, rasanya masih merdu dan syahdu terdengar daripada raungan bunyi kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Mana kata orang, masyarakat kita punya nilai toleransi beragama yang tinggi?

Ada sebuah lokasi pemukiman di Bekasi yang cukup sering saya datangi, yang di sana berdiri dengan megah sebuah pura, gereja dan masjid secara berdampingan. Apalagi pura dan gereja di daerah itu ukurannya cukup besar. Saya pernah melintas di depan pura saat dari dalam teralun merdu kidung pujian untuk Sang Hyang Widhi, saya perhatikan para penghuni pemukiman, tukang ojek, penjual makanan, dll yang berada di luar pura tidak merasa terganggu. Begitu juga saat di gereja terdengar nyanyian sampai ke luar gedung, mereka juga tenang-tenang saja. Termasuk saat daerah sekitar jadi ramai dan mungkin macet karena ada kegiatan peribadatan di sana. Jadi apa yang dirisaukan oleh mereka yang menolak tempat ibadah?

Setiap hak memang dibatasi oleh kewajiban/hak orang lain. Tapi menurut saya, hak untuk menjalankan ibadah/keyakinan beragama adalah hak mutlak yang ndak berbatas layaknya hak manusia untuk hidup.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

11 thoughts on “Menolak Tempat Ibadah

  1. Cahya

    Saya setuju Mas :).

    Tapi ya bukan bermakna di mana-mana bisa mendirikan rumah ibadah kan, ndak lucu jika separuh wilayah desa kecil habis untuk berdirinya tempat ibadah di mana-mana.

    Ya, kembalikan ke kebijakan masing-masing, toh manusia dianugerahi akal dan budi, sia-sia jika tidak digunakan :).

  2. imadewira

    Mungkin mereka takut kalau disana didirikan tempat ibadah maka semua orang akan pindah ke agama tersebut dan yang menolak tempat ibadah itu jadi ndak punya temen yang seagama dengan dia. Ah, ribet sekali pemikiran mereka.

  3. Richard

    Saya seorang pemuda asli NTT. Melihat maraknya hal “begini”, memang rasanya miris hati untuk hidup dengan semua keadaan ini di negeri yang menganut paham Bhineka Tunggal Ika.

    Namun demikian, saya melihat dengan obyektif mungkin saja persoalan ini bisa terjadi karena begitu banyak pendirian maupun ijin pendirian gereja yang di tolak di berbagai tempat karena berbagai alasan. Bahkan tidak sedikit tindakan anarkis yang dialami oleh pihak gereja yang sering kita lihat di berbagai media (televisi, koran, blog, forum dll).

    Jadi mungkin saja tindakan yang diambil oleh forum tersebut merupakan suatu upaya untuk “menuntut balik” kepada pihak-pihak “berwenang” dalam ijin pembangunan tempat ibadah agar berlaku ADIL dalam pemberian ijin pembangunan tempat ibadah. Jangan sampai rakyat dihadapkan secara langsung dengan hal-hal yang begini, karena sudah pasti tidak bagus.

    Sebaiknya pemerintah juga “belajar” berlaku adil dalam menerbitkan perijinan pembangunan tempat ibadah.

    Pada intinya, Indonesia harus tetap bersatu walaupun Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki begitu banyak perbedaan cara hidup.

  4. Nandar

    Sebenarnya di Indonesia mendirikan tempat ibadah minoritas masih lebih mudah dibandingkan di negara lain. Kalo di Eropa untuk mendirikan mesjid saja bisa bertahun-tahun baru bisa dapat izin. Di Amerika juga begitu.

    Mendirikan tempat ibadah memang harus ada izinnya agar tidak sembarangan mendirikan tempat ibadah. Kalo enggak ada izinnya entar bisa ada banyak rumah ibadah. Mendirikan tempat yang bukan tempat ibadah saja juga harus berizin. Umat Islam juga sulit untuk mendirikan mesjid di daerah minoritas seperti manokwari,dan bali. Tapi beritanya memang tidak dibesar-besarkan.

    Di daerah saya sendiri yang mayoritas Islam ada juga gereja tapi tidak dilarang dan baik-baik saja. Tapi hal itu tidak dibesar-besarkan media.

    1. macangadungan

      Mas dapet datanya darimana, ya? Dalam mendirikan gereja di Indonesia, ijinnya bisa sampai 20 tahun. Belum termasuk setoran aneh-aneh yg harus dibayar padahal gak ada dasar hukumnya, serta syarat yg mengada-ada *seperti disuruh mengaspal jalan raya*

      Sementara di Amerika dan Eropa, mendirikan rumah ibadah apapun sangat dimudahkan karena isu rasis dan diskriminasi adalah isu yg paling sensitif. Hukumannya bisa lebih berat daripada mukul orang. Mungkin bisa ditanyakan ke teman2 yang lama tinggal di sana.

      Di Indonesia, hanya dalam 2 tahun, sudah puluhan gereja yang ditutup paksa. Mas juga bisa gugling, ada list nama dan daerah gereja apa saja yang ditutup. Jadi saya pasti akan mempertanyakan, bagian mananya dari “mendirikan tempat ibadah minoritas masih lebih mudah dibandingkan di negara lain” yang faktual?

      Maaf ya mas, saya cuma kurang suka kalau ada orang yang memberi opini yang mengada-ada.

      Tapi saya pribadi memang tidak setuju dengan pemberangusan tempat ibadah, apapun alasannya. Apalagi kalau alasannya seperti “karena gereja di Jawa digangguin terus, maka mesjid di sini jg harus dilarang.” Ini merupakan bukti nyata bahwa tindakan kekerasan dan diskriminasi itu seperti virus. Ketika masyarakat menjahati sekelompok minoritas di sini, akan ada titik dimana orang lain akan merasa tersulut dan melakukan hal yang sama pada orang lain di daerahnya sendiri. Ini akan menimbulkan efek domino.

      Jangan mencari pembenaran untuk tindakan kekerasan dan diskriminasi. Tentu saja yang paling mengejutkan, ternyata tidak hanya pemerintah, namun kita yang masyarakat juga ternyata lebih ikhlas melihat pembangunan lokalisasi atau bar tempat mesum dibandingkan rumah ibadat pemeluk agama lain.

  5. herni

    “Namun demikian, saya melihat dengan obyektif mungkin saja persoalan ini bisa terjadi karena begitu banyak pendirian maupun ijin pendirian gereja yang di tolak di berbagai tempat karena berbagai alasan. Bahkan tidak sedikit tindakan anarkis yang dialami oleh pihak gereja yang sering kita lihat di berbagai media (televisi, koran, blog, forum dll).”

    waw balas dendam dong tujuannya 😀

  6. a!

    menurutku salah satu kuncinya pemerintah. mereka yg harus tegas pd kaum intoleran yg melarang orang lain mendirikan rumah ibadahnya. masak negara besar begini kalah sama orang2 yg menolak pendirian gereja, masjid, atau apa pun itu.

Comments are closed.