Mencoba Untuk Berhenti..

5 menit waktu baca

Setelah sekian lama aktif merokok, saya memutuskan untuk kembali mencoba berhenti. Sebelumnya, saya sudah 2 kali mencoba untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan bodoh itu. Tapi, usaha itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Usaha terakhir cuma bertahan 4 bulan. Setelah itu, merokok lagi sampai sekarang. Saya ndak pernah memilih moment tertentu untuk berhenti merokok. Kapan pun saya ingin berhenti, saya akan mulai sejak bungkus rokok yang terakhir saya beli habis.

Untuk usaha yang sekarang (semoga untuk selamanya), ada beberapa alasan yang saya pakai sebagai dasar untuk berhenti merokok. Yaitu;

Pertama, tentu saja alasan kesehatan. Sejujurnya, saya ndak percaya sepenuhnya dengan kata-kata para ahli kesehatan. Saya blum pernah merasakan efek negatif dari rokok terhadap kesehatan saya. Apalagi ada yang bilang bahwa perokok adalah calon orang yang mati muda. Hihi! Konyol banget! Sejak kapan hidup matinya seseorang ditentukan oleh rokok? Cuma tuhan yang menentukan hidup matinya saya, bukan rokok!

Beberapa teman juga bilang, rokok menyebabkan nafas kita lebih pendek buat olahraga. Ah, siapa bilang?? Buktinya, saya baik-baik saja berolahraga 2 kali seminggu. Kalaupun nafas saya ngos-ngosan saat olahraga dan merasa cepat capek, saya yakin itu bukan karena rokok. Tapi karena saya bukan atlet yang berlatih setiap hari. Buktinya, teman saya yang non-perokok blum tentu bisa bertahan lebih lama di lapangan olahraga dibandingkan saya. Menurut saya, stamina itu ditentukan oleh berat badan. Semakin ndak ideal berat badan kita, semakin ndak bagus juga stamina kita. Ya kan? Pasti iyalah..

Tapi okelah, untuk menghormati para ahli kesehatan yang sudah kuliah lama-lama di fakultas kedokteran, saya tetap jadikan alasan kesehatan sebagai pertimbangan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Tapi kalau ada perokok yang membantah dalil-dalil para ahli kesehatan dengan bantahan seperti yang saya bilang di atas, saya akan membenarkan kata-kata mereka. Hihi!

Alasan kedua, karena perokok semakin dikucilkan dalam pergaulan. Di beberapa negara, perokok dilarang melakukan kebiasaan bodohnya di tempat umum. Perokok cuma disediakan tempat khusus kecil yang terpisah dari pergaulan umum. Sementara di Indonesia, walaupun blum berlaku umum, di beberapa tempat sudah mulai diberlakukan hal itu. Misalnya, di bandara. Seorang perokok cuma boleh merokok di dalam sebuah box transparan. Jujur, saya malu kalau merokok di tempat itu.

Alasan selanjutnya adalah banyaknya perokok norak yang bikin malu. Merokok sambil nyetir misalnya. Abu rokoknya disentil keluar jendela mobil seenaknya. Lebih parah lagi, sisa batang rokoknya pun dilempar begitu saja tanpa memperhatikan pemakai jalan yang lain. Apa ndak norak namanya kalau seperti itu? Jujur, malu banget melihat kelakuan para perokok di Indonesia. Mbo’ ya tolong, image perokok tuh udah ndak sehat, jangan ditambah lagi dengan image ndak tau sopan santun oleh mereka yang norak itu.

Alasan keempat adalah nasionalisme. Berlebihan? Ndak kok. Saya sempat baca sebuah artikel di harian Kompas yang bilang bahwa merokok cuma menguntungkan orang asing. Jadi ceritanya seperti ini; bahwa di beberapa negara terutama di negara maju, peraturan tentang rokok atau tembakau semakin diperketat pelaksanaannya. Peraturan itu membuat perusahaan rokok asing mengungsi ke Indonesia karena di sinilah surga bagi produsen rokok. Mereka masih bebas menjual rokoknya tanpa harus takut melanggar peraturan hukum. Sebutlah perusahaan rokok Sampoerna dan Bentoel yang sudah dikuasai oleh perusahaan rokok asing.

Nah, sementara para perokoknya ndak bisa diatur. Himbauan untuk ndak merokok di tempat umum, ndak digubris. Jangankan cuma himbauan, peraturan daerah seperti di jakarta pun ndak dihiraukan. Malah, fatwa haram untuk rokok pun ditentang oleh masyarakatnya. Tapi ternyata, para perokok itu ndak sadar. Sebatang rokok yang kita beli, uangnya lari ke perusahaan asing, asap yang penuh racun dinikmati anak-anak kita. Negara ini cuma kebagian racunnya, sementara uangnya kebanyakan lari ke negara lain.

Jadi, buat para demonstran yang sering banget mengaku-ngaku membela negara dari penjajahan bangsa asing, ndak usah teriak-teriak berlebihan deh di jalanan. Ndak usah sampai bentrok dengan polisi. Mulailah membela negaramu dengan berhenti merokok!!

Alasan yang lain tentu saja adalah keluhan keluarga dan pacar. Mereka adalah orang-orang yang ndak pernah capek mengeluhkan kebiasaan saya yang satu ini. Entah karena nafas jadi bau rokok, begitu juga badan dan pakaian, ruangan bau rokok dan tentu saja sampah sisa batang rokok yang seharusnya ndak perlu ada di rumah kalau saya ndak merokok. Bahkan, poldi (anjing rottwiler peliharaan saya) pun menjauhi saya kalau saya sudah mulai menyalakan sebatang rokok.

Tapi, saya harus mengakui beratnya usaha saya ini. Seperti kata orang, niat baik itu justru akan mendapat halangan yang lebih berat daripada niat jelek. Maka saya yakin, niat baik saya ini akan mendapat halangan yang dahsyat. Entah dari dalam diri sendiri atau dari luar. Tapi saya berani menjamin, halangan dari dalam diri akan bisa saya lewati. Nah, yang agak susah adalah godaan dari luar.

Misalnya, kalau lagi ngobrol dengan teman yang perokok. Ya tuhan, saat teman ngobrol mulai menyalakan rokoknya akan menjadi situasi yang susah banget buat saya. Pertama, saya punya prinsip, daripada jadi perokok pasif, mending sekalian yang aktif. Soalnya dengan jadi perokok pasif, saya harus ikut menanggung akibat dari suatu perbuatan yang dilakukan orang lain. Kedua, saya harus memilih antara mengusir teman ngobrol yang merokok itu, atau meninggalkan tempat mengobrol untuk menjauhi efek buruk asap rokok yang beredar. Susah banget kan?

Maka, usaha saya akan semakin mantap kalau pemerintah juga ikut membantu para perokok yang ingin berhenti seperti saya. Ciptakan lingkungan sehat dengan semakin tegas memberlakukan larangan merokok di tempat umum. Kalau perlu tangkap saja, dan masukkan ke penjara. Jangan mau kalah dengan para perokok, apalagi kalau sampai ada yang bilang merokok juga hak asasi manusia. Oke itu hak asasi manusia, tapi hak untuk menikmati udara yang lebih bersih jauh lebih asasi daripada hak untuk merokok.

Buat para petani tembakau yang selalu mengeluhkan peraturan rokok, biarkan saja mereka miskin. Nanti kalau sudah miskin, mereka toh akan mencari solusi yang lebih baik daripada menanam tembakau. Pabrik rokok jadi bangkrut dan terjadi PHK massal, ndak usah dipedulikan. Biarkan saja mereka dipecat. Nanti juga mereka bisa mencari pekerjaan lain daripada melakukan pekerjaan bodoh sebagai buruh di pabrik rokok. Lagipula negara ini aneh, yang miskin banyak, tapi bukan menyebabkan mereka ndak mampu beli rokok. Coba perhatikan pengemis di perempatan jalan. Mengaku ndak makan 3 hari, tapi merokoknya tetap jalan. Lah, itu uang kok dipakai buat beli rokok, bukan buat beli makan?

Maka begitulah…

Hari ini, saya masih mati-matian menahan keinginan untuk merokok lagi. Kebiasaan merokok setelah makan benar-benar menyiksa saya. Tapi syukurlah ndak jadi masalah besar untuk saya. Kalau dulu saya bisa bertahan selama 4 bulan tanpa merokok, kenapa sekarang ndak bisa. Seharusnya saya bisa. Begitu juga seharusnya anda..

Related Post

4 thoughts on “Mencoba Untuk Berhenti..”

  1. baguslah kalo emg ada niat untuk berhenti.
    bertahan ya..!

    Semoga sampai selamanya. Makanya saya tulis di blog, biar saya malu kalau kembali merokok lagi. Hehe! Terima kasih..

  2. untunglah saya ga ngerokok, saya paling ga bisa ngadepin yg namanya asep rokok,

    semoga niatnya untuk berhenti ngerokok tercapai……

    Terima kasih, Eka.

  3. mencoba berhenti lagi?
    walaupun sudah pernah gagal, ada usaha untuk mengulang lagi… that’s great!

    5 thumbs up!

    5?? Thanks ya..

Comments are closed.