Membongkar Lembaga Pemasyarakatan

5 menit waktu baca

Setelah ketauan memberikan pelayanan istimewa kepada Artalyta “Ayin” Suryani di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, semua Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) “dibongkar” oleh aparat yang berwenang. Walaupun terkesan terlambat, upaya ini perlu diacungi jempol tangan. Saya sendiri, baru tergerak untuk “membongkar” peraturan tentang Lapas setelah kejadian ini heboh ditayangkan di media masa. Maka, inilah yang saya dapatkan.

Dalam sejarahnya, istilah Lapas baru dikenal mulai tahun 1964 berdasarkan Surat Instruksi Kepala Direktorat Pemasyarakatan No. J.H.G. 8/506 tanggal 17 Juni 1964. Istilah Lapas menggantikan istilah lama, Rumah Penjara, yang dianggap terlalu menekankan pada unsur balas dendam dan penjeraan. Lapas adalah bagian dari keseluruhan Sistem Pemasyarakatan, yang merupakan satu rangkaian kesatuan penegakan hukum pidana.

Menurut Undang-Undang (UU) No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Sistem Pemasyarakatan yang saya bilang di atas tadi adalah cara dan tatanan untuk membina dan meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan (salah satunya adalah narapidana) agar menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, ndak mengulangi tindak pidana, sehingga dapat diterima kembali sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab. Nah, Lapas adalah salah satu tempat untuk melakukan pembinaan terhadap Warga Binaan tadi, khususnya untuk narapidana dan anak didik pemasyarakatan.

Trus, apa sih yang sebenarnya menjadi hak narapidana di dalam Lapas. Silahkan dilihat pada pasal 14 UU ini. Ada beberapa poin yang menjadi hak seorang narapidana, antara lain: berhak melakukan ibadah; berhak atas perawatan jasmani dan rohani; berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran; berhak atas pelayanan kesehatan dan makanan yang layak; berhak untuk menyampaikan keluhan; mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang ndak dilarang; berhak mendapatkan upah untuk pekerjaan yang dilakukan; berhak menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, dan orang tertentu lainnya; berhak mendapatkan remisi; berhak mendapatkan kesempatan berasimilasi; berhak mendapatkan pembebasan bersyarat; berhak mendapatkan cuti menjelang bebas; dan berhak mendapatkan hal lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Ada ndak dari sekian poin di atas yang memungkinkan seorang narapidana mendapatkan perlakuan seperti Ayin di Pondok Bambu? Rasanya ndak ada ya..

Lapas dipimpin oleh seorang Kepala Lapas. Dia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban Lapasnya, dan wajib melaksanakan pembinaan terhadap narapidana di Lapasnya. Jadi, seharusnya memang ndak salah kalau pelanggaran di sebuah Lapas, kemudian menjadi tanggung jawab si kepala.

Ah, cukuplah membongkar peraturan. Jujur saja, membaca peraturan buat saya adalah hal yang cukup ampuh untuk membuat saya mengantuk. Hehe! Sekarang saya pengen lihat fakta yang ada di Lapas yang diekspos di tivi. Bertolak belakang dengan sel Ayin, narapidana lain ditempatkan di sel yang jauh lebih sempit, dan ditempati beberapa narapidana. Memang ndak diatur secara tegas sih, bagaimana seharusnya bentuk dan ukuran sel yang harus disediakan negara untuk para narapidana. Tapi, kembali ke hak narapidana yang salah satunya adalah berhak untuk memperoleh perawatan jasmani dan rohani, saya rasa menempatkan mereka secara bersama-sama dalam satu ruang sel kecil, bukanlah salah satu bentuk perawatan rohani yang memadai. Bukan ndak mungkin mereka jadi stres di sana.

Saya sendiri blum pernah mengadakan kunjungan ke dalam Lapas seperti yang dilakukan Pak Menkumham. Saya cuma pernah berkunjung ke Lapas Denpasar sebagai tamu 1 kali sampai saat ini. Saya ndak bisa melihat sekeliling, jadi saya ndak bercerita banyak tentang pengalaman itu, daripada saya malah salah omong. Untuk menemui seseorang di Lapas waktu itu, saya harus memanfaatkan satu ruangan agak terbuka yang ndak terlalu luas bersama-sama dengan pengunjung lain. Saya ndak yakin sih, tapi saya rasa ruangan itu adalah ruang tamu di Lapas itu.

Para tamu dan penghuni Lapas duduk agak berhimpitan karena memang tempatnya ndak terlalu luas. Beberapa orang tua melepas kangen terhadap anaknya yang kebetulan harus menjadi penghuni Lapas. Beberapa penghuni Lapas lainnya, malah bercumbu dengan istri atau pacarnya, di beberapa sudut ruangan itu. Saya yakin mereka sebenarnya risih melakukan itu di depan banyak orang, tapi mungkin rasa rindu mengalahkan segalanya. Sementara  di beberapa sudut lainnya, sedikit petugas mengawasi kegiatan kunjungan kepada para penghuni itu.

Tapi di sisi lain saya juga berusaha untuk mengerti kesulitan Kepala Lapas dalam memelihara Lapasnya. Seperti yang banyak diberitakan, Lapas kita seringkali harus menampung narapidana jauh melebihi kapasitas yang seharusnya. Itu pun masih ditambah dengan sedikitnya jumlah petugas di dalam Lapas. Baik untuk pengamanan maupun untuk administasi Lapas itu sendiri.

Nah, untuk mengakali kurangnya petugas Lapas, saya usul agar narapidana yang sudah bebas ditawari untuk menjadi petugas di Lapas. Rasanya bukan mustahil, beberapa orang pelaku tindak kriminal adalah seorang yang ndak memiliki pekerjaan, sehingga mereka melakukan kejahatan. Nah, daripada mereka kembali ke masyarakat masih berstatus pengangguran, kenapa Lapas ndak memanfaatkan tenaga mereka sebagai sipir, misalnya? Tentu saja, sebelum mereka diterima sebagai sipir, mereka harus dibekali dengan pengetahuan yang memadai tentang UU Pemasyarakatan dan peraturan lainnya yang terkait. Sehingga mereka menjadi petugas yang sadar dan melek peraturan, juga bertanggung jawab.

Kalau untuk gedung Lapas, saya sih ndak bisa banyak omong. Pemerintah pasti tau solusi yang bagus untuk itu. Tapi kalau boleh melakukan penilaian, untuk wilayah Denpasar rasanya Lapas di Kerobokan sudah ndak cukup lagi. Kalau bisa sih, dibuat Lapas baru. Biaya bisa didapat dari patungan antara Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung. Buatlah Lapas di lokasi yang cukup jauh dari keramaian.

Sarana penunjang di dalam Lapas pun harus disediakan secara memadai, seperti misalnya ruang kelas, tempat ibadah, dan mungkin lapangan olahraga. Ndak usah muluk-muluk menyediakan lapangan futsal atau kolam renang seperti Waterbom di dalam Lapas. Cukuplah disediakan sebuah lapangan badminton atau satu set meja pngpong. Ruang kelas yang saya bilang di atas, bisa dipakai untuk mengadakan pelatihan-pelatihan, seperti pendidikan hukum, pelatihan kerajinan tangan, atau pendidikan agama. Dengan sarana yang memadai seperti itu, sistem pembinaan bisa berjalan lebih optimal. Walaupun saya yakin, ndak mudah menyediakan dana untuk itu semua.

***

Kembali ke kasus Ayin. Semoga bisa jadi pelajaran untuk semua pihak. Mulai dari pemerintah, petugas Lapas, narapidana, dan anggota masyarakat lainnya. Untuk kasus Ayin, saya merasa perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut, apakah ada unsur pidana dalam pemberian pelayanan khusus kepada Ayin itu. Bukan ndak mungkin ada penyuapan yang dilakukan Ayin kepada sejumlah petugas di sana. Kalau memang benar ada, maka seharusnya  hukuman terhadap Ayin ditambah, sebab dia justru mengulangi perbuatannya yang menyuap aparat selama menjalani masa hukumannya. Begitu juga dengan aparat yang mungkin saja disuap oleh Ayin. Harus diselidiki sejauh mana kemungkinan itu terjadi.

Semoga dari sini, mafia hukum bisa dikuak satu demi satu. Termasuk mungkin peran masyarakat yang secara ndak sadar ikut “menghidupi” mafia hukum ini, perlu juga dibongkar. Damai Indonesia..

Related Post

24 thoughts on “Membongkar Lembaga Pemasyarakatan”

  1. kamarnya ayin jauh lebih mewah dari kamar saya yang di luar lapas ini
    *miris

    mudah-mudahan sih para mafia itu bs dibasmi, meskipun dalm sejarah ga ada aturannya mafia bisa hilang 100%
    .-= senny´s last blog ..Ini Bukan Tentang Uang, Jendral! =-.

    senny Reply:

    btw, kalo mereka dipindah, bakalan selama menjalani hukuman hidup di sel yang pas-pasan atau bentar lagi bakalan kembali punya sel yang mewah lagi ya?
    .-= senny´s last blog ..Are You A Homophobic Or Something? =-.

  2. Hmm…, kalau hidup di lapas bisa senyaman di hotel, ga heran-lah kalau banyak koruptor yang tidak keberatan bermalam beberapa bulan di sana 😀

    Kalau harus masuk lapas ternyata bisa diwakilkan sesekali oleh orang lain sementara dia nginap di hotel, yah ga masalah lah walau terjerat beberapa tahun, hhmmm…, emang joki
    .-= Cahya´s last blog ..Menghubungkan Blog ke Facebook =-.

  3. Dengan hormat disampaikan bahwa BlogCamp ( http://abdulcholik.com ) masih dalam tahap perbaikan karena roda pendarat mengalami gangguan.he he he.
    Beberapa tehnisi sedang kerja keras untuk mengembalikan kondisinya.
    Saya sementara berada di Posko Bhirawa ( http://mbahcholik.info ) dan saat ini sedang menggelar promosi kaos loreng.
    Silahkan para sahabat berkunjung sebelum waktu promosi habis.
    Salam hangat dari Bhirawa.

  4. sebagai narapidana seharusnya Ayin mendapatkan perlakuan yang sama seperti narapidana lainya.
    keistimewaan yang didapatkan seperti itu tentunya karena ada sesuatu di balik yang selama ini kita ketahui.
    bukankah sudah menjadi rahasia publik jika sebagian besar petinggi negara ini bermoral rendah?
    .-= Alfaro Lamablawa´s last blog ..Menjadi Pemulung =-.

  5. Hidup gak pernah adil ya kawan, bahkan dalam penjara sekalipun yang kaya tetep saja dapat “privilege” lebih dari yang lain.

    Mudah2an MenKumHam ini “berani” utk lebih memanusiakan lapas-lapas dan memberi keadilan pada semua. Utopis gak ya?
    .-= aprian´s last blog ..Lampu Merah di Perempatan Jalan =-.

  6. mau nambahin dikit boleh kan?

    **pasti yang punya blog jawab : boleh.. 😀

    saya malah setuju usul “nyeleneh” salah seorang narasumber di tvOne (saya lupa namanya), jadi biarkan saja ada fasilitas mewah di penjara, tapi buat secara legal dan bagi narapidana / tahanan yang mau mengggunakan fasilitas itu, kenakan biaya yang sesuai, misalnya harus membayar 1 juta per minggu, atau sekalian 1 juta per hari, kayak menginap di hotel.

    Dan uang itu dikumpulkan, pasti jumlahnya banyak. Lalu gunakan uang itu untuk membangun Lapas baru (yang katanya kekurangan dana) dan untuk kesejahteraan para Sipir, jadi mereka tidak perlu lagi menggunakan cara “haram” untuk mencari uang.

    btw, maaf kepanjangan, hehe
    .-= imadewira´s last blog ..Apa Yang Sebaiknya Jangan Dilakukan di Facebook =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Memang nyeleneh, tapi sebenarnya usul yang bagus. Tapi yang jadi pertanyaan saya, bagaimana dengan pembinaan yang dicanangkan kepada narapidana oleh negara melalui Lapas?

    Kalau seorang narapidana masih bisa memanfaatkan kemampuan finansialnya, pembinaan ndak akan berjalan optimal karena para narapidana bisa mendapatkan apa yang mereka mau di penjara.

    Saya sebenarnya pengen Lapas kita seperti penjara yang ada di film-film. Hehe, mengkhayal boleh kan?

  7. Lah itu Winarto di atas kayak spam aja, kasih komen banyak bener, itu2 aja pula isinya… ck ck ck…

    Mas, mo komentarin napi yg bercumbu itu. Setahu saya, alias pernah dengar2, beberapa lapas jg menyediakan satu kamar khusus yg kecil dan seadanya untuk para napi dan istrinya melepas rindu. Entah ya itu bayar ato petugasnya ikhlas saja. Kasihan kan klo harus sampai dilihat orang dan dikomentarin.
    Tp sepertinya itu hrs jadi rencana pembangunan tambahan utk tiap lapas, dimasukkan jadi hak2 para napi, “berhak mendapatkan kesempatan berkumpul dengan keluarga dalam ruangan yang cukup privasi.”
    .-= zee´s last blog ..Jiwa Melayani =-.

Comments are closed.