Melindungi Warga Negara

0 menit waktu baca

“Melindungi segenap bangsa dan tumpah darah…” masih jelas tersurat dalam Pembukaan UUD 1945. Β Tapi saya ndak mengerti, kok cara negara ini melindungi warga negaranya justru lebih sering dengan memenjarakan warganya yang menjadi korban. Misalnya, untuk menghindari tindakan anarkis FPI di bulan puasa, pemerintah menghimbau warung makan dan tempat hiburan membatasi jam operasi. Trus, kasus pemerkosaan di angkot beberapa hari lalu juga mencetuskan komentar brilian Gubernur DKI yang rasanya ndak perlu lagi saya kutip di sini. Sekarang di Bandung, ada lagi aturan ndak boleh ada toko 24 jam supaya ndak ada korban genk motor. Perlindungan macam apa ini? Kalau terus begini, lama-lama negara ini akan menjadi surga para kriminal..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

11 thoughts on “Melindungi Warga Negara”

  1. Iiiihhh geram bacanya. Kok ini pemerintah gak mau membela atau bersusah susah sih !? Malah dibiarin and disuruh ngalah ama para begundal itu.

  2. semoga kamu segera naik pangkat dan bisa jadi gubernur DKI, gung. jadi bisa tangkap semua pelaku tindak kriminal itu. πŸ˜€

  3. Mungkin Indonesia harus mempunyai mafia sekelas Yakuza, bukan tanpa apa-apa Yakuza di Jepang itu ditakuti pelaku kriminalitas di Jepang, membantu detektif dan aparat di sana. Seperti yang dikatakan Hobes bahwa harus ada Serigala yang lebih besar untuk menakuti Serigala lain yang kecil.

  4. melindungi segenap warga negara cuma sekedar tulisan aja. gak bakal bisa melindungi jika setiap saat penguasa cuma sibuk dengan urusannya sendiri. cuma sibuk sama statistik, sementara rakyat di pelosok negeri tercekik.

  5. Indonesia memang negara hukum,,, tetapi juga harus diingat bahwa sebagian besar warga negara Indonesia adalah seorang muslim. Kalau menurut saya, apapun yang diputuskan pemerintah sendiri tak semerta-merta mengacu pada hukum saja, tetapi juga pada agama. Misalkan saja seperti di atas yang di bulan puasa, pemerintah menghimbau warung makan dan tempat hiburan membatasi jam operasi. Sudah jelas bahwa, pemerintah juga menghormati bagi kaum muslim yang berpuasa pada bulan tersebut, sehingga diberlakukan juga perintah seperti itu.

    1. Saya merasa, himbauan itu bukan untuk menghormati kaum muslim, tapi cuma melepaskan tanggung jawab untuk melindungi hak warga negara. Saya walaupun berpuasa ndak pernah mempermasalahkan warung makan yang tetap buka di siang hari. Dangkal sekali makna puasa kalau sampai membatasi hak orang lain. πŸ™‚

    2. saya setuju dengan oom agung tapi bukan berarti musuhan dengan tante asti.
      menurut saya yang alhamdulillah sejak dilahirkan hingga kini masih muslim, pedagang makanan buka 24 jam di bulan ramadhan tidak masalah. menghormati bukan berarti membatasi hak orang lain mencari nafkah. saya lebih setuju jika pada saat ramadhan mall-mall dibatasi jam bukanya, karena mengganggu umat islam saat menjalankan ibadah puasa.
      banyak orang (maaf) terutama ibu-ibu di siang hari sengaja tidak berpuasa karena lelah berkeliling mall untuk beli baju. menurut saya ini yang harus diperhatikan oleh kita sessama umat islam. MAAF (sambil nunduk)

Comments are closed.