Mega Pangkal Jupe

2 menit waktu baca

“Kenapa harus Mega ya, mas?” tanya Ary, adik saya waktu kami melintas di Bypass Ngurah Rai Denpasar. Pertanyaan itu tercetus waktu kami melihat banyaknya bendera merah bergambar banteng gemuk dengan moncong putihnya, juga poster dan baliho ukuran besar bergambar Megawati Soekarnoputri di jalanan. Iya, Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) memang sedang mengadakan hajatan besar di Denpasar yang topik utamanya adalah memilih ketua umum partai. Lagi-lagi, Megawati menjadi kandidat kuat. Bahkan, sebelum kongres dimulai pun, orang-orang sudah yakin kalau Megawati yang akan kembali memimpin partai. Sepertinya, PDI-P ndak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang sosok “Ibu”. Trus, apa hubungannya Mega dan Jupe, bakal calon wakil bupati Pacitan?

Saya kok jadi merasa bahwa PDI-P ndak sukses membina kader-kadernya untuk memimpin partai atau mungkin memimpin negara ini kelak. Apa-apa selalu tentang Mega. Megawati ibarat kitab suci yang menjadi sumber jawaban bagi umatnya di PDI-P. Kalaupun ada orang lain yang dicuatkan sebagai calon pengganti Mega nanti, itu pun cuma karena faktor keturunan seperti Puan Maharani atau Prananda Prabowo. Trus, bagaimana dengan kader PDI-P lain yang sudah lama membangun karier politiknya di partai ini. Apa iya kursi tertinggi yang mungkin mereka duduki cuma Sekjen partai?

Partai politik seharusnya berfungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat agar sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memang, hampir semua partai politik ndak menjalankan fungsi ini dengan maksimal. Tapi, karena saya peduli dengan PDI-P saya menyayangkan banget kalau PDI-P malah jadi ndak demokratis dalam proses pemilihan ketua. Saya ndak menyalahkan Mega, tapi justru kadernya. Apa ndak kasihan melihat Ibu yang mungkin sudah pengen hidup tenang menikmati masa tuanya? Seharusnya, yang muda tunjuk jari untuk mencalonkan diri menjadi ketua, bukan cuma bersembunyi dibalik nama besar Megawati.

Parahnya, hal seperti ini ndak cuma terjadi di PDI-P. Menurut saya hampir semua parpol seperti itu, kecuali Partai Golkar. Partai Demokrat (PD) sekarang juga sedang menuju penggantian ketua umum. PD terlihat lebih demokratis karena ada beberapa calon ketua yang sibuk mengampanyekan diri. Tapi, mereka pun bergantung banget dari suara SBY sebagai Bapak. Andi Malarangeng dianggap sebagai calon terkuat karena didukung oleh Ibas, putra SBY. Hampir ndak ada bedanya dengan PDI-P walaupun PD terlihat jauh lebih halus.

Trus, apa hubungannya antara Megawati dan Jupe yang sekarang lagi heboh diberitakan menjadi bakal kuat calon wakil bupati Pacitan? Saya merasa inilah akibatnya kalau parpol ndak mendidik kadernya untuk menjadi pemimpin. Mereka seperti kehabisan stok orang yang layak diajukan dan dicintai calon pemilih. Akhirnya, diambillah jalan pintas mencomot selebritis yang jelas disukai masyarakat luas tanpa mempertimbangkan kualitas politik mereka. Memang ndak ada salahnya seorang selebriti menjadi pemimpin, tapi trus apa gunanya kita punya banyak partai politik. Jupe toh bisa menjadi calon wabup melalui jalur luar partai politik.

Saya jelas meragukan kemampuan Jupe yang selama ini cuma mengandalkan dada dan gaya bicaranya yang cerewet. Tapi saya harus mendukungnya karena memang dia punya hak untuk ikut pemilukada sebagai calon terpilih. Tapi sekali lagi, saya menyayangkan banget kalau parpol yang ada sekarang malah menanggalkan fungsi dan kewajiban utamanya untuk menciptakan politisi berkualitas dan calon pemimpin yang hebat dan dicintai banyak orang untuk negeri ini.

Dunia politik kita pernah menunjukkan bahwa partai politik berperan besar terhadap kebesaran bangsa dan negara ini di masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak pemimpin besar yang dilahirkan dari partai politik di masa lalu. Tapi, entah kapan itu akan terjadi lagi. Sepertinya cuma mereka yang tau..

Related Post

29 thoughts on “Mega Pangkal Jupe”

  1. Dengan berjamurnya muncul partai politik, semestinya bisa memberikan proses pembelajaran yg benar tentang hak dan kewajiban politik praktis setiap anggotanya sbg warga negara yg baik. Pemimpin yg baik adalah pemimpin yg telah menyiapkan kader kepemimpinannya…
    Terimakasih telah Berbagi Kata Bersama…

  2. Wah…, saya buta dah kalau masalah politik, mungkin masih ikut alput saja…

    Tapi saya setuju kalau setiap kader partai layak mendapat kesempatan yang sama dalam berpolitik…, mungkin istilah kesetaraan politik.

    Ingat zaman-zaman komunis dan marheinis tempo dulu…
    .-= Tulisan terbaru Cahya di [blognya]: Batik Dari Cinta Satu Bait =-.

  3. PDI-P kalau masih mengusung Mega sebagai ketum nya, keknya gak bakalan bisa menang dalam pelpres yang kan datang. Saya kadang merasa kasihan dengan orang2 yang memang 100% berkarier di partai tapi dikalahkan oleh orang luar. makanya banyak kader yang 5 tahun ini berkulit merah, 5 tahun yang akan datang bisa berubah kuning , biru, hijau dan putih. Tentang Jupe, aku juga sudah nulis besar2. Karena memang dia punya hak untuk ikut pemilukada sebagai calon terpilih tapi kami juga punya hak untuk menolak calon peserta pemilukada ๐Ÿ˜†

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya rasa penolakan yang bisa anda lakukan cuma dengan ndak memilih calonnya saat pemilukada. Tapi, apakah anda punya hak pilih di Pacitan? ๐Ÿ™‚

  4. Salam kenal buat Agung Pushandaka dan semuanya…

    Artikel yang menarik. Pendapat saya; PDIP tak ada bedanya dengan Orba; rajanya itu-itu saja.

    Ttg Juve; bayangkan kalau dia jadi bupati! apa yg akan terjadi?! He he he… Punya intelektualitas apa dia. Kalau hak sih semua pasti punya, tapi kemampuan? Mungkin kemampuannya hanya bisa membangkitkan birahi warganya. Sisanya no comment aja dah… Saya sebenernya paling ga suka ngompol (ngomongin politik).
    .-= Tulisan terbaru budiastawa di [blognya]: Blogwalking Cepat dengan Snarfer =-.

  5. sebenarnya sih kalau saya lihat di PDIP itu banyak kader potensial, tapi dengan sistem yang seperti sekarang ini memang sangat disayangkan karena seperti jadi sia-sia tu kader2 potensialnya, mega lagi mega lagi, partai ini kan udah besar, kalau suatu saat malah jadi hancur karena bu mega udah ga ada lagi, kan lucu…soal jupe sih mas agung dah tau sendiri dari artikel saya, hehehe….penampilan semok mah ga bisa buat perbaiki keadaan bangsa…tul g?

    Agung Pushandaka Reply:

    Betul, PDI-P banyak kader potensial. Saya paling suka Gandjar Pranowo dan Maruarar Sirait. Tentang Jupe, iya saya sudah lihat di blog anda.

    Oya, saya juga sudah link balik. Maaf kalau komentar anda saya rapikan. Ndak apa-apa ya.. ๐Ÿ™‚

    adin Reply:

    makasih mas ๐Ÿ™‚

  6. baru tahu nih kalo Jupe nyalonin jadi pimpinan daerah. wah bisa gimana nih Pacitan, memang setiap orang yang memenuhi syarat punya hak untuk dipilih, tapi kalo bicara masalah kemampuan memimpin suatu daerah, agaknya kurang bijak kalo kita hanya mengandalkan popularitas seseorang saja.
    salam kenal

  7. maklumlah budaya masyarakat kita yg lama hidup dalam iklim feodal, terutama masyarakat jawa – maaf saya bukan bicara rasis, saya sendiri jawa tulen – sangat berpatokan pada garis silsilah, tidak peduli mampu atau tidak, asal dia membawa trah dari pemimpin terdahulu maka dia dianggap sanggup dan paling berhak untuk memegang tampuk pimpinan.
    .-= Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: Rutinitas Pagi Seorang Peternak Kelinci Pemula ๐Ÿ˜€ =-.

  8. inilah yg lia sesali dr politik bangsa kita… bisa dikatakan beberapa anggota termasuk orang yg berpendidikan.. tp mengapa tidak ada hal2 yg mendidik dlm dunia politik kita.. hikss hiksss

    hanya melihat dan berharap dari jauh ๐Ÿ™
    .-= Tulisan terbaru delia di [blognya]: Mengantar kepergiannya =-.

  9. Kalau memang bosan lihat Mega jadi ketua umum PDI kenapa juga Mega mau-maunya terus dicalonin. Dari saya SD ampe sekarang ketua umumnya terus aja Mega.

    mengenai Jupe. Kalau emang Jupe menang Pilkada Pacitan nanti pasti banyak yang ngante kerja di kantor bupati Pacitan dan kayaknya sebagian besar pegawenya cowok semua…. ๐Ÿ˜€

    komen pakai rumah baru ni bli…hehe:D
    .-= Tulisan terbaru eka dirgantara di [blognya]: Preview: TARING =-.

  10. hmm.. saya jg bukan malah ragu kemampuannya lg, tp saya pastikan kemampuan menjadi kepala daerah gak ada., ini tipe pemimpin yg berbahaya….rakyat yg milih akan kecewa, kemampuan nol semata dan omong doank.. cuma bisa ngebooorr aja mau jd pejabat..haha.. cuma omong doank padahal pacitan aja blm diketahuio sama sekali..yg milih pasti akan kecewa.. mending rayakan inter menang kemaren aja gan dari pada ngurusin jupreett… hahahaha.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
    .-= Tulisan terbaru muhammad zakariah di [blognya]: Indonesia Lagi Sakit..??? =-.

  11. Perihal Jupe jadi Bupati Pacitan, saya jelas ga setuju. Bisa apa sih dia? apa kompetensinya?
    Perihal pemimpin partai yang itu-itu saja, saya juga heran. Apa Bu Mega masih belum capek ya? Kok ya gak ganti aja… Yang milih beliau lagi saya juga heran…. ๐Ÿ˜
    .-= Tulisan terbaru Asop di [blognya]: Wanita dan Sebuah Rok =-.

Comments are closed.