Masih Tentang Malaysia, Kita Harus Apa?

5 menit waktu baca

Sebenarnya, saya sudah malas membicarakan tingkah laku malaysia terhadap kita, Indonesia. Saya sekarang cuma pengen menyampaikan solusi yang mungkin bisa dijalankan oleh pemerintah kita. Saya akan mengkategorikan solusi ini mulai dari yang paling sopan, sampai yang paling kasar. Kenapa saya harus menyuarakan sebuah solusi kasar? Karena solusi semacam ini memang dibenarkan dalam hukum internasional, selama solusi ini menjadi alternatif terakhir setelah percobaan solusi damai yang ndak pernah berhasil.

Solusi pertama, dengan itikad baik, Indonesia kembali mengajak malaysia untuk memperbaiki semua kesalahan yang terjadi selama sejarah hubungan kedua negara. Kalau malaysia ternyata melakukan ini karena masih dendam dengan gerakan “Ganyang Malaysia” yang pernah terjadi pada sekitar tahun 1960an, kita harus menjelaskan apa sebenarnya yang menjadi dasar gerakan itu. Bahwa pada dasarnya, pada saat itu, Indonesia menolak berdirinya malaysia. Singapura dan Brunei pun secara ndak langsung, mendukung gerakan Bung Karno itu. Bahkan Philipina memutuskan hubungan diplomatiknya dengan malaysia.

Kita juga dapat mengajak malaysia untuk melupakan awan hitam dalam sejarah malaysia itu. Di sisi lain, kita juga akan memaafkan semua kesalahan malaysia belakangan ini, seperti klaim atas aset budaya bangsa Indonesia. Mungkin, sekali lagi mungkin, diawali cara ini, hubungan antara Indonesia dan malaysia bisa semakin baik daripada masa lalu dan sekarang.

Sambil kita memperbaiki hubungan dengan malaysia, kita juga berusaha memperbaiki diri sendiri. Apa yang selama ini membuat malaysia demikian meremehkan keberadaan Indonesia, kita perbaiki. Misalnya, meningkatkan perlindungan dan memperbaiki efektifitas pelestarian aset budaya yang kita punya supaya ndak dicuri malaysia lagi. Cara lain dengan meningkatkan skill TKI yang akan berangkat ke malaysia sehingga mereka akan mampu bekerja lebih baik di sana. Kalau semua perbaikan dalam negeri bisa kita lakukan, dan malaysia juga beritikad baik untuk menghormati Indonesia, mungkin hubungan bilateral ini bisa jadi lebih baik.

Solusi kedua, kita bisa menempuh jalan untuk keluar dari ASEAN. Solusi ini tentu saja kalau ternyata solusi pertama ndak menghasilkan hubungan yang lebih baik. Kenapa saya mengusulkan solusi ini? Kita harus melihat lagi sejarah terbentuknya ASEAN. ASEAN terbentuk cuma beberapa tahun setelah berakhirnya konflik Indonesia dan malaysia seperti yang saya sebut di atas. Jujur saja, menurut saya, berdirinya ASEAN sangat menguntungkan malaysia waktu itu, dibandingkan keuntungan yang diperoleh Indonesia. Waktu itu, Indonesia masih berstatus macan asia. Negara-negara anggota ASEAN akan merasa terlindungi dengan bergabung dengan ASEAN. Kasarnya, mereka berlindung di balik ketiak Indonesia waktu itu.

Tapi, sekarang di saat Indonesia menjadi macan ompong, ASEAN ndak mampu berbuat apa-apa. Salah satu prinsip yang berlaku di ASEAN adalah menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara. Dari perkembangannya sekarang, sudah ndak ada lagi penghormatan ini di antara dua negara yang bertikai. Ke mana ASEAN? Saya ndak pernah sekalipun melihat Sekjen ASEAN, Surin Pitsuwan, mengeluarkan pernyataan atau membantu masalah Indonesia dan malaysia.

ASEAN ndak cuma mati suri dalam kasus Indonesia-malaysia. Kasus yang melibatkan Thailand dan Kamboja pun rasanya ndak pernah bisa diselesaikan ASEAN. Begitu juga dengan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di negara-negara anggota ASEAN. Memang, pemberontakan itu adalah urusan dalam negeri dari negara yang bersangkutan, tapi pemberontakan itu akan berpengaruh terhadap keamanan regional di Asia Tenggara. ASEAN punya kepentingan dari sisi itu. Maka, seharusnya ASEAN bertindak lebih aktif.

Saya yakin, dengan keluar dari ASEAN, akan membuka mata negara anggota ASEAN lainnya, bahwa Indonesia masih punya nyali untuk bergerak sendiri. Bagaimana pun, secara geografis, Indonesia memiliki peran yang sangat besar untuk keberadaan ASEAN. Mungkin dengan keluarnya Indonesia dari ASEAN akan mengingatkan negara anggota lainnya, bahwa selama ini ASEAN ndak bisa berbuat apa-apa untuk kepentingan anggotanya, dan mulai bergerak aktif untuk membantu menyelesaikan permasalahan di Asia Tenggara. Lebih baik lagi kalau mulai aktif untuk menghindarkan negara anggotanya dari masalah-masalah bilateral atau regional.

Solusi ketiga, kalau ternyata ndak ada perkembangan positif juga, kita terpaksa meninjau ulang hubungan diplomatik dengan malaysia. Apa sih yang kita dapat dari malaysia? Baiklah, rasanya malaysia lebih dirugikan dari hubungan ini. Malaysia adalah negara penerima TKI terbesar di dunia. Tapi, konon TKI yang ada di sana malah lebih banyak membuat keonaran. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia rasanya juga ndak kalah rugi. Kalau kita mengekspor TKI, malaysia malah mengirimkan terorisnya ke Indonesia. Dari fakta ini, saya melihat bahwa ndak ada kerjasama yang efektif lagi di antara kedua negara.

Sekarang bagaimana mungkin, banyak TKI ilegal yang konon sering bikin onar, bisa masuk ke malaysia? Oke, Indonesia punya salah karena ndak mampu melacak agen TKI ilegal yang beroperasi di Indonesia. Tapi ternyata, pihak imigrasi malaysia pun ndak mampu mencegah masuknya TKI ilegal itu. Padahal, jumlah TKI ilegal yang masuk ribuan, tentu ndak sulit untuk mencekal mereka masuk malaysia. Begitu juga dengan masuknya teroris malaysia ke Indonesia. Bagaimana mungkin, imigrasi malaysia membiarkan noordin lari ke Indonesia. Begitu juga di Indonesia yang dengan mudah disusupi teroris.

Intinya, sekali lagi, bahwa hubungan kedua negara ndak berjalan efektif. Kalau sudah ndak efektif, tentu menjadi alasan kuat untuk mereview hubungan ini. Berhubung saya tempatkan solusi ini menjadi solusi ketiga, maka besar kemungkinan hasilnya adalah pembekuan hubungan bilateral. Kita tarik para diplomat kita di sana. Resikonya, kita harus menerima pulang TKI yang bekerja di malaysia. Memang, akan terjadi sedikit kekacauan di Indonesia. Tapi, apa malaysia akan baik-baik saja kehilangan TKI? Saya ndak yakin itu. Mereka juga akan mengalami kekacauan karena akan banyak industri mereka yang mati suri karena kehilangan buruh kasar dari Indonesia.

Solusi terakhir, tentu adalah menyatakan permusuhan dengan malaysia. Pernyataan ini ndak otomatis berarti perang terbuka dengan mengangkat senjata, walaupun dengan menyatakan permusuhan, kemungkinan untuk terjadinya konflik bersenjata akan semakin besar. Kalau terjadi perang terbuka, apa untungnya untuk kita? Keuntungan finansial rasanya nyaris ndak ada. Bahkan, peperangan cuma akan menimbulkan kerugian. Banyak uang terbuang, banyak nyawa menjadi korban. Secara internasional, peperangan yang terjadi juga akan menimbulkan kerugian atas perdamaian secara umum. Perang ndak akan cuma melibatkan dua negara saja. Sekutu kedua belah pihak akan turut serta.

Tapi, dengan perang kita akan mendapat “pengakuan” bahwa kita bukan negara lemah. Bahwa kita mampu berjuang dengan cara apa pun untuk menjaga kemerdekaan dan kedaulatan kita di segala bidang. Entah itu dengan cara damai maupun dengan cara keras. Mampu ndak sih kita perang melawan malaysia? Taliban dan Al-Qaeda saja ndak pernah mati diserang Amerika Serikat, apalagi kita yang jelas-jelas lebih kuat dari mereka. Lihat Palestina yang ndak pernah merasa kalah walaupun Israel mengerahkan semua senjata terbaiknya untuk menghancurkan negara asal Yasser Arafat itu. Kita pasti mampu.

Sebenarnya, ada solusi damai lain yang bisa kita tempuh. Kita bisa meminta persetujuan malaysia untuk menunjuk Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan semua masalah. Tapi, saya terpaksa ndak memasukkan alternatif ini karena kita sudah pernah kalah di sana. Kekalahan itu kemungkinan besar disebabkan oleh kualitas diplomat kita yang ndak sebaik diplomat mereka, atau kita kalah di dokumen hukum. Kalau seperti itu, buat apa kita mencoba jalan yang sama.

Memang, solusi-solusi ini mungkin bukan solusi yang baik. Bagaimanapun, kita harus menghormati hubungan bilateral dengan malaysia. Tapi, seharusnya kita lebih menghormati kedaulatan Indonesia di segala bidang. Secara pribadi, saya berharap hubungan yang semakin meruncing sekarang bisa diselesaikan melalui jalan perundingan yang intensif. Tapi, kalau ternyata jalan perundingan ndak menghasilkan akhir yang positif, ndak ada salahnya kita mempertimbangkan solusi selanjutnya.

Saya cuma mengharapkan kejayaan negeri ini berkibar lagi ke seluruh dunia. Rasanya memang mustahil, tapi kita pernah mampu untuk itu. Jayalah Indonesia..

Related Post

13 thoughts on “Masih Tentang Malaysia, Kita Harus Apa?”

  1. jadi bingung neyh pendapat orang berbeda-beda ttg Malaysia ini….kalau membaca solusi bli, saya setuju dengan solusi-solusi pertama bli tapi kalau solusi ttg perang jujur dari dalam hati, saya tidak setuju. kalau memang masih ada Solusi lain ga perlu perang, kalau memang tetap ga bisa, usahakan jangan perang deh….Ka, ga suka perang….

    I HATE WAR…

    Rasanya, hampir ndak ada orang yang menggemari perang. Tapi saya merasa, kalau semua cara damai ndak bisa menyelesaikan masalah, kita ndak boleh mengabaikan cara terakhir, yaitu menyatakan permusuhan atau bahkan menyatakan perang. Sekali lagi, penyelesaian dengan kontak bersenjata, harus benar-benar menjadi cara terakhir yang ditempuh setelah semua penyelesaian secara damai ndak bisa menyelesaikan masalah.

    Saya juga ndak suka perang. Tapi kalau perang menjadi jalan terakhir, saya akan mendukungnya. Semoga saja hubungan Indonesia dan malaysia ndak harus diselesaikan di ujung senapan.

  2. Pi kadang…., kekerasan memang diperlukan. Walaupun aku amat sangat membenci kekerasan. Ini harga diri dan kita dalam posisi mempertahankan apa-apa yang memang milik kita.

    Sekali lagi, semoga jalan kekerasan benar-benar menjadi jalan paling akhir yang ditempuh, setelah cara damai yang lain dijalankan sungguh-sungguh dan berhasil positif.

  3. hmmm bagus c dikasih solusi2 tapi permasalahannya sampai manakah pemimpin kita akan bernai melakukannya

    kira2 sekitar 2 bulan lalu aku pernah dengar cerita dari salah seorang wartawan katanya c SAS (pasukan elit inggris) ud masuk kalimantan so….. hmm aku g berani memprediksikan akan jadi seperti ap malaysia n indonesia

    Iya betul. Semuanya memang tergantung dari keseriusan pemerintah. Saya cuma bisa menyampaikan aspirasi saja. Terima kasih mbah..

  4. Benar juga, baru sadar kemana itu ASEAN? Ternyata gak ada gunanya juga tuh…
    Yup, perlu ada pembicaraan antar kedua negara, biar tahu apa masalah yang disimpan selama ini.
    Tp kalo diingat-2, sepertinya orang-2 Malaysia memang punya sifat yang kurang baik, pembenci, pendendam, suka melecehkan, dll. Kelihatan dari perilaku masyarakatnya yang merata, artinya hampir semua lapisan pernah melakukan keburukan itu pada orang Indonesia. Sementara sifat orang Indonesia yg pemaaf, nrimo, tenggang rasa, justru jd sasaran empuk mereka. Rumpun boleh sama, tapi sifat dasar ternyata berbeda. Artinya ya memang sudah dari oroknya begitu.

    Kalau memang hrs pakai kekerasan, kenapa tidak? Lebih baik putus hubungan saja dengan Malaysia. Kita gak akan mati kok hanya karena putus sama mereka.

    Wah, mbak satu ini galak juga ya.. Hehe!

  5. kalau jalur perang yg dipake, maka kita akan melakukan kebudayaan baru: kebudayaan barbar. ironis sekali ya. semua hanya demi harga diri. demi rasa memiliki.

    ~jadi inget john lennon yang diincar CIA hanya gara-gara menyanyikan seandainya tidak ada kepemilikan di dunia..

    Wah, kayanya kamu harus lihat lagi definisi barbar dalam kamus ton. Kalau kita menempuh jalan perang, bukan berarti kita bangsa barbar selama kita sudah menempuh jalan diplomasi sebelumnya, tapi tetap gagal. Lagipula, apa kamu ndak salah bilang, ton? Perang bukan budaya baru. Bahkan sejarah perang sudah ada sejak sejarah manusia itu ada. Negara kita ndak akan mengumandangkan proklamasi tanpa jalan perang.

  6. kalo aku pikir kita lebih baik memperbaiki diri sendiri dan mengisi kekosongan selama ini. dan lebih mencintai produk indonesia. di wilayah sumatra (melayu ) betapa banyak makan produk malaysia di jual disana.

    Betul kawan. Saya juga masukkan ide yang sama ke dalam solusi pertama.

  7. operator hp yg punya singapura aka temasek israel sudah dibeli oleh qatar 🙂
    jadi singtel sin sudah tidak mayoritas lagi bermain seluler di sini.
    berbahagialah tidak menggunakan produk negeri maling itu 🙂

    Terima kasih untuk infonya mas..

  8. halo lama tidak bersua… 🙂
    Sampai sekarang sby, setau saya, belum ambil suara. Gila, pengecut, bodoh, atau cuek?

    Halo Ketut.., apa kabar? Wah, semoga SBY ndak lagi gila, takut, bodoh, atau cuek. Tapi penuh pertimbangan seperti biasanya. Hehe!

  9. Seblum kalian ngomong kayak orang nggak sadar, coba dulu baca di sini… hidup ini jangan terlalu goblok… baca dulu ini kemudian harus faham mungkin ini ulah singapore… kalian harus pakai otak dong kalu bicara… baca yang di bawah ini…kalau nggak percaya tolong tanya MENTERI PARIWISATA INDONESIA….

    Dari : http://www.antaranews.com/print/1251204152

    Discovery Channel Sudah Minta Maaf ke Menbudpar

    Kuala Lumpur (ANTARA News) – Discovery Channel Inc telah mengirim surat kepada Ditjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) untuk mengklarifikasi penayangan iklan film Enigmatic Malaysia yang menyelipkan tarian Pendet Bali.

    Dalam emailnya kepada Dirjen NBSF Tjejep Suparman itu, Direktur Regional Asia Advertising Sales Discovery Channel Inc, Angie Santa Maria, menegaskan bahwa iklan promosi film dokumenter Enigmatic Malaysia itu bukan dibuat oleh kementerian Pariwisata Malaysia.

    Angie mengakui bahwa itu adalah kesalahan dari staf promosi Discovery Channel. Email itu dikirim kepada Ditjen NBSF, Senin, 24 Agustus 2009.

    Ia berjanji akan minta maaf secara langsung kepada menteri pariwisata dan kebudayaan Indonesia, Jero Wacik.

    Hal itu senada dengan apa yang diungkapkan oleh Presdir KRU Sdn Bhd bahwa iklan promosi tayangan Enigmatic Malaysia ternyata dibuat sendiri oleh Discovery Channel yang bermarkas di Singapura, dan bukan dibuat oleh KRU Sdn Bhd, kementerian pelancongan atau kementerian kebudayaan Malaysia.

    “Iklan promosi serial dokumenter Enigmatic Malaysia bukan dibuat oleh kami tapi dibuat sendiri oleh Discovery Channel,” kata Presiden dan CEO Group KRU Sdn Bhd Norman Abdul Halim di KBRI Kuala Lumpur, Selasa.

    Norman juga menegaskan bahwa pembuatan film serial Enigmatic Malaysia itu bukan dana dari pemerintah Malaysia, tapi murni bisnis antara KRU Sdn Bhd dengan Discovery Channel.

    KRU membuat enam film dokumenter Enigmatic Malaysia yang disiarkan oleh 23 negara di seluruh dunia. Tema-tema fil dokumenter ialah “The Melakan Portuguese – Preserving Their Heritage, “Bajau Laut – Nomad of The Sea”, “Keris – The Myth & The Magic” dan Kellie`s Castle – Myth & Mystery”, dan “Batik” dan “Wau”.

    “Dalam mengungkap Batik di Malaysia, dalam film dokumenter kami jelas mengungkapkan bahwa batik Malaysia itu asalnya dari batik Jawa,” kata Norman, yang mengaku orang tuanya adalah keturunan Sumatera Utara. (*)

    COPYRIGHT © 2009 ANTARA

    PubDate: 25/08/09 19:42

    pushandaka Reply:

    Haha! Seperti inikah gaya bicara orang ada akal? Tidak lebih beradab dari suku primitif.

    Sebelum kamu berkomentar, lebih baik baca dulu dengan seksama. Tulisan ini bukan membahas iklan enigmatic malaysia. Tapi tentang alternatif solusi apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah negaraku kalau menghadapi pencurian yang mungkin akan dilakukan lagi oleh negaramu di masa datang. Ingat ya, negaramu tidak akan pernah berhenti mencuri kekayaan negaraku, karena negaramu tidak pernah beritikad baik untuk bertetangga dengan baik dan rukun. Coba pikirkan dulu itu.

    Kalau tentang tari Pendet yang ditayangkan dalam iklan itu, kami sudah menganggapnya selesai karena memang sudah diselesaikan. Tapi di luar itu, banyak sekali hasil karya anak bangsa kami yang diklaim oleh negaramu sebagai budaya asli negaramu. Pikirkan juga itu.

    Terima kasih untuk komentarmu. Tapi maaf, rasanya aku tidak akan menayangkan lagi komentar orang primitif seperti ini lagi di masa datang. Kalau kamu ada akal, pakailah akalmu untuk berpikir dan berbicara dengan baik. 🙂

Comments are closed.