Mana Film Favorit Saya??

1 menit waktu baca

Membaca berita pemboikotan yang dilakukan oleh Motion Picture Association (MPA) terhadap Indonesia atas peredaran film-film Amerika membuat hati saya cenat-cenut. Bagaimana ndak? Hobi menonton ke bioskop yang selama ini saya lakukan setiap akhir pekan bisa berhenti sampai waktu yang blum ditentukan. Adanya pemboikotan ini membuat bioskop-bioskop di Indonesia ndak bisa lagi menayangkan film-film dari MPA terutama yang baru akan tayang. Sementara yang sudah tayang, cuma akan menyelesaikan masa tayangnya di bioskop untuk kemudian ditarik peredarannya. Saya sih blum melihat langsung ke bioskop terdekat, tapi konon, poster film berlabel Coming Soon sudah ndak ada lagi yang film asing.

Pemboikotan ini adalah reaksi atas kenaikan bea masuk atas film-film itu. Kenaikan yang berlaku mulai bulan lalu itulah yang diprotes oleh MPA dan menjalankan aksi boikotnya. Kalau saya baca-baca di internet, kenaikan ini memberatkan mereka. Sebab sebelumnya copy film impor yang masuk Indonesia sudah kena bea masuk barang, PPh dan PPn sebesar 23,75 persen dari nilai barang. Itu blum termasuk pajak penghasilan sebesar 15 persen dari hasil peredaran film-film itu di Indonesia.

Trus apa untungnya buat negara ini kalau bea masuk dinaikkan? Dapat duit lebih banyak? Ah, kok rasanya ndak juga. Bayangkan saja kalau pemboikotan ini berlangsung terus-menerus sampai lama. Banyak bioskop akan gulung tikar. Otomatis pajak dari mereka juga musnah. Akan banyak pengangguran juga. Penonton juga sepi, sehingga pajak dari tiket nonton juga berkurang. Trus apa kebijakan ini adalah bentuk proteksi terhadap film domestik? Halah!! Ada film asing pun cuma sedikit sineas lokal yang terpacu membuat film bagus, apalagi tanpa film asing?? Jujur saja, menghilangnya film asing dari bioskop ndak akan dengan serta merta membuat saya menonton Arwah Goyang Kerawang. Najis gila..

Sekarang saya cuma bisa berharap kepada pemerintah, biar meninjau lagi kebijakan ini. Nyaris ndak ada kepentingan lokal yang terlindungi dengan kenaikan bea masuk ini. Saya harap pemboikotan ini ndak akan berlangsung lama. Ameeeen…

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

18 thoughts on “Mana Film Favorit Saya??”

  1. yah..yg paling merajalela sekarang adalah peredaran DVD bajakan yang makin laris diburu demi kepuasan konsumen akan film2 asing baru

    1. Mungkin itu juga yang bikin MPA jadi malas. Bea masuk dinaikkan, tapi perlindungan oleh negara terhadap hak kekayaan intelektual mereka ndak maksimal.

  2. lama tidak berkunjung keblognya bli gung.. iya, saya sebagai pencinta film sangat keberatan dengan adanya kenaikan bea cukai yang menyebabkan MPA memboikot dan tidak lagi menayangkan film-filmnya, padahal bulan2 ini 21 cineplex sedang dan akan menayangkang film-film Nominasi Oscar…

    sedih karena film yang sudah saya tunggu2 Black Swan yang rencananya minggu ini sudah reguler jadi batal tayang, padahal saya sudah menahan2 diri untuk tidak mendownload film ini….

    semoga aja bulan depan sudah kembali normal…

    1. Wah, sudah lama juga ndak melihat eka berkomentar di sini. Award-nya sukses? 🙂

      Sebenarnya bisa saja sih MPA ndak memboikot Indonesia. Tapi, karena bea masuk naik, maka ongkos yang dikeluarkan MPA untuk “jualan” film di Indonesia jadi lebih besar lagi.

      Ujung-ujugnya, penonton juga yang berat karena harus bayar tiket lebih mahal. Bayangkan, kalau itu terjadi, konon harga tiket bisa naik 200 persen.

      Fiuh..

  3. Tenang Mas, karena banyak yang protes, aturan dikaji ulang lagi. He he…, jangan putus asa, masih ada bajakan 😀

    Tapi selama ini saya selalu nonton di Bioskop sih, mungkin kalau harus beralih ke bajakan rasanya akan beda.

    1. Kadang bukan cuma masalah original atau bajakan sih mas. Jangankan dari bioskop ke bajakan, dari bioskop ke vcd/dvd original pun terasa banget kok bedanya. Hehe..

      1. Unduh via P2P ala caranya Bli Pande Baik saja, sehingga kualitas tetap bisa dijaga, walau tidak sebaik bioskop, tapi setidaknya tidak sekualitas CD asli atau DVD bajakan :D.

  4. gw secara pribadi tak pernah pergi kebioskop*sumpah, ane zuzur…
    pas tau pemerintah bakal blokir film Amerika dgn menaikan bea cukai, kayaknya pemerintah kita ini mulai cari pengalih perhatian.

    Ane pribadi sering nonton film terbaru lwt laptop ane doang. Tentunya hasil comotan browsing film diwarnet. Jadi gak terlalu dirugikan..

    Jujur, FILM Amerika masih lebih bagus dari film kita, walau ada beberapa adegan yg kurang pantas, pesan moralnya lebih berasa…

    saya sendiri berani film kayak laskar pelangi jelek..masih lebih bagusan novelnya.*tergantung selera ya…

  5. Sudah jelas film Indonesia ga akan bs gantiin posisi film Hollywood di dlm negeri, wong sdh jelas %tase orang ke bioskop utk nonton film barat bukan film lokal. Ah saya jg ga sudi nonton film2 busuk lokal itu.

  6. Bli.
    Blognya gak bisa komen klo mobile ya? Tadi sudah komen di jalan, kok hilang ya… 🙁

    Kalau saya, jelas gak akan bela2in ke bioskop untuk nonton flm Indonesia selama yg main masih model film2 horor porno begitu…

    1. Iya ndak bisa komentar dari mobile. Saya sendiri juga ndak tau cara menanggulanginya mbak. Hihi.

    1. Itu juga yang jadi perdebatan. Tapi kalau menurut saya sih film bukan barang. Berbeda kalau impor vcd atau dvdnya, itu jelas barang (kita beli vcd/dvd, bukan cuma isi filmnya).

      Kalau filmnya, mau dibilang barang kayanya ndak bisa. Ntar jangan-jangan pemerintah kenakan pajak juga untuk film yang didownload dari internet. Hehe..

  7. Walaupun saya sudah jarang sekali nonton ke bioskop, tapi saya juga kurang setuju dengan kebijakan yang satu ini. Lebih banyak ruginya dibanding untungnya.

  8. kalo diimbangi dengan makin banyaknya film lokal yang bermutu sih saya rasa gak masalah, tapi sayangnya film lokal ya tau ndiri, paling hantu lagi hantu lagi, plus adegan sexy yang gak penting, hadeeeh….mbok uwis nonton spongebob squarepant aja lah saya 😀

Comments are closed.