Logika Polisi

Presiden SBY yang hadir dalam sebuah acara berskala regional, ASEAN Fair, sedang menikmati atraksi pesawat bersama tamu resmi dari negara lain. Tiba-tiba seorang kakek sambil menuntun sepeda ontel melintas di depan presiden dan tamu-tamunya.

Tak urung, si kakek ditangkap pasukan pengaman presiden dan diperiksa di kantor polisi.

Sebenarnya salah siapa sih, kalau si kakek tukang kebun itu bisa melintas di sekitar presiden?

Bukan salah si kakek, kan?

Lalu kenapa malah si kakek yang diperiksa?

Paspampresnya kok tidak ditangkap, padahal kan mereka sudah lalai dalam menjaga keselamatan presiden? Kalau perlu mereka bisa dipidana untuk kelalaian itu.

Ini malah tukang kebunnya yang ditangkap. Logikanya tidak masuk di otak saya.

Bayangkan, kalau yang melintas adalah pelaku bom bunuh diri yang benar-benar ingin membunuh presiden.

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

7 thoughts on “Logika Polisi

  1. Iyah sama ga ngerti gung kenapa tukang kebun di tangkap, diinterogasi dan sampe reka ulang dengan dikalungin papan nama kayak teroris. Itu ring 1, apa kabar dg paspampres di ring 3 dan ring 2?? Itu paspampres kudu kena hukuman semua ituh.

  2. Kasian pekak itu ya, dia pasti ketakutan sekali. Yang saya pikirkan sekarang, kalau si pekak sampai mengalami semacam trauma, siapa yang akan bertanggung jawab?

  3. Saya pernah kerja menjadi tukang kebun hotel di kawasan Kuta. Dan saya paham jalan keluar-masuk diantara blok satu dengan satunya dan jalan itu merupakan jalan untuk orang dalam. jadi jangan harap orang luar tahu dan bisa keluar dari jalan itu.

    Kalau kasus Kak Mudita ini yang dari pantai mencari kelapa dan mau pulang bisa lewat depan presiden tanpa ditahu oleh paspampres, pasti mengunakan jalan “tikus” ini dan paspampres tidak tahu akses keluar masuk jalan tikus ini. Jadinya sang pekak bisa lolos masuk karena memang dia tidak mengunakan jalan utama yang khusus tamu melainkan jalannya dia yang memang setiap hari dilalui. Dan jalan itu memang lebih pintas untuk kembali ke rumahnya. 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Comments are closed.