Lebih Baik Diam?

Masih belum reda kehebohan karena tewasnya gadis cantik berumur delapan tahun, Angeline. Sejak awal hilangnya bocah ini, perhatian masyarakat sudah tersedot. Banyak opini dan dugaan bermunculan di luar investigasi resmi polisi.

tidak sedikit juga kesaksian di luar Berita Acara Pemeriksaan Kepolisian yang muncul di media massa. Ada tetangga atau orang lain yang kuat menduga, mendengar bahkan melihat sendiri, bahwa Angeline memang mengalami tindakan kekerasan di rumahnya.

Apalagi sejak dipastikan bahwa Angeline telah ditemukan tewas di halaman belakang rumah. Semakin banyak kesaksian yang bermunculan.

Tapi pertanyaannya kemudian adalah, kemana saja mereka, para saksi itu, selama ini? Kalau mereka punya dugaan kuat, mendengar atau malah sudah melihat dengan mata kepala sendiri, kenapa tidak melakukan apa-apa untuk melindungi si bocah yang dianiaya?

Bukankah mereka jadi membiarkan hal itu terjadi? Atau kita semua lebih baik diam?

Pasal 78, Undang-Undang Perlindungan Anak :

Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Digiprove sealDigiproved
Tags: , , , ,