Lagu Sekarang Ndak Awet

3 menit waktu baca

Saya perhatikan, semakin ke belakang, semakin banyak anak muda bangsa ini yang menyalurkan hobi bermusiknya dengan membuat grup band. Bagus sih, saya jadi punya banyak pilihan lagu-lagu untuk dinikmati. Tapi kok, saya cepat merasa bosan dengan lagu-lagu mereka ya? Lagu-lagu mereka ndak tahan lama. Didengar sekali-dua kali, sudah cukup alasan buat saya untuk  ndak mendengarnya lagi. Makanya saya ndak pernah sampai beli kaset/cd band-band baru yang ada belakangan ini.

Sebut saja sederet nama band yang berkibar belakangan ini. Jujur, saya ndak hafal betul dengan nama-nama band yang ada sekarang. Beberapa band yang saya ingat namanya adalah Kuburan Band, Kangen Band, Hijau Daun Band, ST12, dll. Lagu-lagu mereka diputar di berbagai radio dan televisi. Menurut saya, lagu-lagu mereka bagus kok. Tapi ya itu tadi, cepat membosankan.

Awalnya saya pikir, saya merasa cepat bosan karena hampir setiap hari saya dengar lagu-lagu mereka. Tapi, kenapa alasan itu ndak berlaku untuk band-band yang terbentuk di dekade 80-an atau 90-an? Padahal, lagu-lagu mereka juga setiap hari diputar di radio. Jadi, alasan ini sudah ndak masuk dalam pertimbangan saya.

Maka kemudian saya berkesimpulan, memang kualitas lagunya yang ndak oke. Menurut saya, si pembuat lagu cuma berorientasi pasar. Orientasi seperti itu adalah uang. Kalau sudah berorientasi uang, maka mereka bukan seniman. Kalau mereka bukan seniman (seni musik) maka saya pun merasa wajar kalau ternyata lagu-lagu ciptaan mereka cepat banget melampaui masa kadaluwarsanya.

Seniman seharusnya ndak seperti itu. Mereka ndak peduli pasar, tapi cuma mengekspresikan rasa seni mereka. Kalau masyarakat ternyata menyukainya, itu adalah bonus untuk kerja keras mereka. Coba perhatikan band-band sekarang. Satu lagu bertema selingkuh disukai masyarakat, lagu-lagu lain bertema sejenis berbondong-bondong menyusul. Artinya, mereka itu bukan seniman yang juga ndak kreatif.

Memang, ndak semua band baru yang seperti itu. Saya melihat masih ada beberapa band baru yang mampu mempertahankan gaya dan ideologi musik mereka masing-masing dalam berkarya. Beberapa band baru seperti J-Rocks, SID, atau Peterpan, mampu meneruskan kualitas bagus band-band lawas seperti Slank, Dewa, Kla, Gigi, termasuk juga Sheila on 7, Cokelat, Padi dan band-band lain yang lagu-lagunya masih nikmat untuk  saya dengarkan sampai sekarang.

Saya masih fasih mengenali sebuah band di atas hanya dengan mendengar lagu mereka dengan telinga telanjang. Lagu-lagu mereka seperti punya karakter yang ndak bisa disamai oleh band lain. Anda mungkin bisa membantahnya dengan dalil bahwa suara sang vokalis bandlah yang menciptakan karakter lagu itu. Mungkin memang benar seperti itu. Siapa yang ndak kenal dengan karakter suara Kaka Slank, Duta Sheila On 7, Armand Gigi, dsb. Tapi, ternyata lagu-lagu mereka tetap nikmat untuk didengarkan bahkan saat dilantunkan oleh penyanyi lain. Itu artinya, lagunya punya karakter tersendiri. Karakter vokal penyanyinya, menambah lagi keindahan lagu itu.

Ndak demikian untuk band-band baru. Saat saya mendengar sebuah lagu di radio, saya lebih sering bertanya ke orang di sekitar, “Lagu ini yang nyanyi siapa?”

Rasanya ndak cuma saya yang ndak bisa mengenali sebuah band jaman sekarang dari lagunya. Kenapa bisa seperti itu? Karena lagu-lagu dan band-band sekarang umum banget. Kasarnya, pasaran banget. Mereka ndak punya ciri khas yang bisa membedakannya dengan band lain. Hal itu menurut saya, adalah (lagi-lagi) karena mereka cuma mengikuti keinginan pasar. Bukan keinginan dan cita-cita mereka yang sesungguhnya dalam bermusik. Istilah beratnya, mereka ndak punya ideologi yang mereka pegang teguh dalam berkarya.

Tapi saya ndak akan menyalahkan anak muda jaman sekarang mencipta lagu demi uang. Daripada mereka cari uang dengan jual ganja, lebih baik bikin musik donk! Tapi kalau boleh saya kasih masukan, bikin lagu jangan tergesa-gesa. Lagu anda cuma berkibar sebentar, uangnya pun datang sekejap. Kalaupun anda berorientasi ke uang, coba bayangkan kalau lagu anda awet, apalagi mampu melewati segala jaman. Lagu-lagu anda akan terus diproduksi, dan selama itu pula uang akan masuk ke kantong anda. Untuk bisa seperti itu, jangan membuat lagu mengikuti keinginan pasar. Biarkan pasar yang memilih lagu apa yang akan mereka sukai. Lebih hebat lagi, apabila anda yang menentukan selera pasar.

Saya sama sekali bukan pemain musik, seniman, atau pengamat musik yang ahli dan mampu menganalisa sampai ke masalah teknis suatu lagu. Tapi sebagai pendengar, rasanya pendapat saya pun ndak kalah dengan mereka yang ahli. Ya kan?? Hehe!

5 thoughts on “Lagu Sekarang Ndak Awet”

  1. Tapi memang benar kok. Lagu2 dulu itu bisa dibilang abadi, tetap enak didengar biarpun udah lamaaaaaaaaaa banged. Tp yg sekarang ini, blm apa2 dah bosan.

    Iya yah. Padahal sebenarnya lagu-lagu band sekarang ndak jelek-jelek amat.

  2. komen panjang boleh kan?

    Saya setuju dengan postingan ini, tapi memang relatif sih.. Jadi tidak semua band sekarang kurang kreatif dan terlalu memikirkan uang, ada juga yang masih idealis. Saya juga merindukan band-band yang lagu2nya benar2 enak didengar walaupun sekian tahun umurnya. Contoh yang seperti itu mungkin Andra & The Backbone, hehehe **orang nggak ngerti musik lagi ceramah..

    Anda betul. Saya juga mengakui ndak semua band yang ada sekarang adalah ndak kreatif dan materialistis. Seperti yang saya sebut di atas. Saya setuju, Andra & The Backbone salah satu contoh yang punya karakter tersendiri. Thank you, Pak Wira..

  3. Mungkin semua ada siklusnya ya… spt skr misalnya tiba2 lagu2 MJ kembali booming setelah kematiannya. Mungkin, 20 tahun lagi kita akan kembali menyanyikan lagu2 sekarang sambil berkata lagu yang ada pada waktu itu membosankan… 🙂

    Saya ndak setuju dengan alasan siklus. Maksud saya, misalnya MJ, kapan pun saya pengen mendengar lagunya, masih tetap terasa enak. Jadi bukan semata-mata karena kematiannya saya pengen mendengar lagi lagu-lagunya. Lagipula kalau siklus, lagu-lagu itu cuma nikmat didengarkan pada masa tertentu saja. Sementara yang saya maksud bukan seperti itu. Kapanpun diputar, lagu itu tetap terasa enak didengar.
    Tapi ndak untuk lagu-lagu sekarang. Jangankan 20 tahun lagi, 2 hari saja saya mendengar lagu jaman sekarang, saya sudah ndak punya keinginan untuk mendengarnya lagi. Hehe!
    Terima kasih buat komentarnya.

Comments are closed.