Kronologi Cicak vs Buaya

Berhubung ada beberapa komentar di tulisan saya sebelumnya yang berjudul Polisiku Sayang Polisiku Malang, yang mengaku ndak mengikuti sejak awal kasus Cicak vs Buaya yang menggemparkan masyarakat itu, maka saya pengen membuat semacam rangkuman yang saya ambil dari beberapa sumber. Sebelumnya, saya harus bilang bahwa ‘perseteruan’ antara Kepolisian, Kejaksaan dan KPK sudah terasa sejak lama. Ketiganya sebenarnya punya fungsi yang sama sebagai penegak hukum, tapi KPK lebih fokus ke bidang korupsi. Cuma ya itu tadi, ketiganya seperti ndak nge-klik, padahal KPK itu diisi oleh orang-orang dari Kepolisian dan Kejaksaan juga. Sementara istilah Cicak vs Buaya baru saja terbentuk. Begini ceritanya…

4 Mei 2009. Ketua KPK Antasari Azhar ditangkap karena disangka membunuh Nasrudin Zulkarnaen, direktur PT Putra Rajawali Banjaran. Kasus ini mungkin anda cukup tau karena ceritanya bak cerita sinetron yang dibumbui cinta segitiga.

16 Mei 2009. Pak Antasari menulis testimoni yang menduga adanya suap terhadap sejumlah pimpinan KPK. Pada testimoni ini terungkap bahwa Pak Antasari pernah bertemu Anggoro Widjojo di Singapura, padahal Pak Anggoro waktu itu statusnya adalah dicekal oleh KPK. Di pertemuan itu, Pak Anggoro mengaku telah mengeluarkan uang milyaran rupiah atas permintaan sejumlah pemimpin KPK.

30 Juni 2009. Kabareskrim Mabes Polri, Komjen. Susno Duadji mengaku teleponnya disadap oleh lembaga penegak hukum lain. Pak Susno merasa seperti itu karena namanya dikaitkan dengan kasus Bank Century (sekarang Bank Mutiara).

2 Juli 2009. Muncullah kalimat “Cicak kok melawan Buaya” oleh Pak Susno dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo. Sampai sekarang kalimat itu menjadi istilah Cicak vs Buaya yang menggambarkan kekuatan KPK vs Polisi.

6 Juli 2009. Pak Antasari melapor ke Kepolisian mengenai adanya dugaan penyalahgunaan wewenang dan suap di tubuh KPK. Dugaan ini tentu saja diperoleh dari pengakuan Pak Anggoro di Singapura itu.

13 Juli 2009. Presiden SBY berusaha menengahi hubungan panas antara lembaga-lembaga penegak hukum itu dalam sebuah rapat koordinasi penanganan pemberantasan korupsi.

11 September 2009. 4 orang pemimpin KPK diperiksa berhubungan dengan dugaan penyalahgunaan kewenangan tadi. Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah ditetapkan sebagai tersangka tanpa penahanan dan cuma wajib lapor saja.

28 September 2009. Pak Susno dilaporkan oleh pengacara KPK ke Inspektur Pengawasan Umum Mabes Polri. Laporan ini didasarkan ada dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Pak Susno berkaitan penetapan Pak Bibit dan Pak Chandra sebagai tersangka. Hal itu karena pengacara KPK ndak menerima salinan berita acara pemeriksaan terhadap Pak Bibit dan menduga ada rekayasa di balik itu.

29 Oktober 2009. Pak Bibit dan Pak Chandra ditahan oleh Kepolisian. Alasan penahanan adalah karena keduanya dianggap mempersulit proses penyidikan dengan mengadakan sejumlah konferensi pers dan pembentukan opini di media massa. Alasan ini dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) termasuk sebagai alasan subyektif yang ndak bisa diukur patokannya alias cuma bergantung dari penilaian subyektif Kepolisian (dalam Pasal 21 ayat 1 KUHAP).

2 November 2009. Presiden membentuk tim pencari fakta untuk kasus ini. Sering disebut sebagai Tim 8. Tim ini diketuai Adnan Buyung Nasution. Menurut Pak Buyung, tugas tim ini adalah melakukan verifikasi semua fakta dan semua proses dari awal.

3 November 2009. Mahkamah Konstitusi (MK) memutar rekaman pembicaraan Anggodo Widjojo (adik dari Pak Anggoro) dengan beberapa orang yang diduga berisi rencana rekayasa kasus untuk menjatuhkan Pak Bibit dan Pak Chandra. Lewat tengah malam (4 November 2009), penahanan terhadap Pak Bibit dan Pak Chandra ditangguhkan oleh Kepolisian.

5 November 2009. Tim 8 mengungkapkan kekecewaannya terhadap Kepolisian karena ndak menahan Pak Anggodo dan ndak menindak tegas Pak Susno. Kepolisian beranggapan bahwa Pak Anggodo ndak ditahan karena ndak ada cukup bukti padahal Pak Anggodo sendiri mengakui suara di rekaman telepon yang diputar di MK adalah suaranya.

Sampai hari ini ketegangan terus berlanjut. Semoga tulisan ini bisa membantu anda untuk mengikuti perkembangan selanjutnya. Berharaplah pihak yang baik akan menjadi pihak yang benar. Semua cuma untuk kedamaian dan keselamatan Indonesia.

*tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber bacaan cetak dan online

22 thoughts on “Kronologi Cicak vs Buaya

  1. Gek

    Hola..
    Aduh, terima kasih banget!
    Saya bisa mengikuti dan sedikit tau apa yang terjadi..
    OMG..

    Terima kasih idenya. Tetapi.. lumayan waktunya kalo buat 2 blog.. hehe.. (lebay)

    Oh iya, salam kenal..
    Link untuk “Follow nya mana yaaaa..??

    *DUH!
    .-= Gek´s last blog ..Pick Your Fave! =-.

  2. tuteh

    Iya, saya sudah mengerti jalan ceritanya sekarang. Pantes aja dunia pertelevisian kita jadi tambah panas, sama kayak dunia politiknya. Btw Susno udah mengundurkan diri ya…
    .-= tuteh´s last blog ..Boogie Woogie =-.

  3. wira

    saya menjadi cukup jelas.. yang jelas dari pengamatan saya, Anggodo seharusnya ditahan, cukup dengan bukti rekaman itu dan dia mengakui bahwa itu adalah suaranya.

    Di samping itu, waktu wawancara eksklusif di tvOne sore (3 november 2009) kelihatan sekali Anggodo berbelit-belit… Tetapi saya rasa banyak pihak terlibat dalam kisruh ini dan sangat kompleks…
    .-= wira´s last blog ..Terima Kasih AbdulCholik =-.

  4. eka dirgantara

    yang saya herankan…kenapa justru Anggodo yang merupakan tokoh sentral dalam percakapan rekaman itu tidak dinyatakan sebagai tersangka, Polri mengatakan tidak cukup bukti untuk menjerat Anggodo…oh GOD, rekaman itu sudah bukti awal woe…

      1. ical

        sekedar meluruskan aja…
        setau saya yang namanya bukti itu dibilang ada kalo sudah ditangan polisi. sedangkan rekaman itu sendiri tidak disirahkan KPK ke polisi, jadi polisi gak punya alat bukti.
        kalo cuma berdasarkan rekaman yang diperdengarkan di sidang MK dan disiarkan di TV itu gak bisa dijadikan alat bukti.
        Jadi polisi bisa memperoses anggodo dengan dasar rekaman tersebut, setelah hasil rekaman tersebut diserahkan KPK ke polisi sebagai alat bukti. begitu kira2…

  5. Winarto

    Terasa penuh dengan konspirasi dan harus segera diusut tuntas, jangan sampai kondisi ini mempengaruhi kestabilan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya bangsa Indonesia, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

  6. hikra

    Kenapa bibit & candra kok banyak yg dukung padahal dia bukan malaikat yg 100% bersih dari dugaan2. sebaiknya (menurut saya) tdk dukung bibit-candra tapi tapi dukunglah KPK dan POLRI. seret koruptornya.

    yang aneh lagi, pendukung bibit-candra merata, jangan2 ada yang membiayai…? unjukrasa/demo itu kan perlu dana besar?
    saya prihatin…! semoga aja bangsa kita kedepan semakin baik.
    salam hormat.
    http://www.hikra.blogspot.com
    .-= hikra´s last blog ..Google Design Principles =-.

    1. pushandaka

      Saya setuju dengan pendapat anda yang bilang sebaiknya ndak mendukung salah satu pihak. Jujur, saya sebelumnya mendukung KPK. Tapi setelah melalui diskusi dengan beberapa praktisi hukum, saya mendapat pencerahan dan kini saya menempatkan diri di luar pihak yang bersengketa.

      Tapi sebaiknya kita ndak perlu berandai-andai tentang adanya aktor intelektual atau penyandang dana untuk aksi unjuk rasa pendukung KPK. Sebab hal itu akan memperkeruh suasana. Sebaiknya kita tunggu saja dengan kepala dingin.

      Seperti kata orang tua, kebenaran pasti akan menang. Terima kasih untuk komentarnya..

  7. dani

    Setelah mendapat kuliah hukum gratis belakangan ini, saya jadi keranjingan ngikutinnya. 😀

    Posisi saya netral di luar sistem. Bukan fans Facebook pula. 🙂

    Terkait kronologis itu:

    Testimoni itu berupa laporan polisi antasari berdasar testimoni anggoro.

    Benarkah kelakuan-kelakuan susno sesuai prosedur?

    KPK hanya berwenang cegah, bukan cegah dan tangkal.

    Benarkah ada uang suap itu?

    Mengapa anggodo tidak ditahan untuk percobaan penyuapan?

    Ada apa di reskrim mabes polri?

    Apakah ada surabaya connection antara petinggi tersebut dengan anggodo?

    Apakah hipnoterapi bisa dipakai sebaga bukti/saksi ahli di persidangan?

    Sebagian di atas adalah status saya di twitter, bli agung. 😀
    .-= dani´s last blog ..Tanya Aksesibilitas Web ke Avianto via Twitter =-.

    1. pushandaka

      Terima kasih untuk sekeranjang pertanyaannya, bli dani. Untuk menjawabnya, silahkan baca peraturan terkait. Hehehe! *males mode: ON

      Tapi saya yakin, semua pertanyaan itu pasti ada jawabannya dalam hukum kita. Tapi berhubung hukum kita dibuat bukan berdasarkan rasa keadilan, melainkan dibuat berdasarkan kepentingan politik, maka hukum kita jadi gampang banget dibelokkan kalau sudah memasuki bidang politik yang ndak pernah jelas mana yang benar-mana yang salah, mana yang putih-mana yang hitam, dan mana yang kawan-mana yang lawan.

      Sekali lagi terima kasih buat pertanyaan-pertanyaannya. Menambah pe-er lagi buat saya untuk belajar hukum nasional lebih jauh. Hehehehe…!

  8. Fiddin Yusfida A'la

    . Menurut FIDDIN YUSFIDA A’LA .
    .
    Informasi ini sangat menarik untuk d perbincangkan,
    .
    .Karena dalam pelajaran PKN yg mmplajari ttg HUKUM DI INDONESIA, masalah ini sangat berkena.An . .
    .
    .===>to tho Topic
    .
    .Mengapa AnGgodo tidak di tangkap . Sedangkan sudah ckup BUKTI berupa rekaman telepon . .
    .
    .
    .
    .Indonesia majulah negaraku,
    tanpa pemimpin yang sesat . .

    By . Anak kelas 1 Sma

Comments are closed.