Kontroversi Libur Bersama Waisak

Liburan Hari Suci Waisak sudah berakhir. Tadinya, Hari Waisak tahun ini saya rasa akan sama saja dengan hari libur lainnya, sampai akhirnya Jum’at sore pekan lalu, diumumkan bahwa Senin (16/5) adalah libur bersama. Akhirnya, libur Waisak jadi terasa lebih spesial karena tersedia libur cukup panjang bagi pegawai negara sejak Sabtu (14/5) sampai Selasa kemarin (17/5). Tentu saja saat diumumkan di kantor BKPM saya menyambutnya antusias walaupun saya tau banyak hujatan dari pihak swasta tentang libur bersama ini. Protes bermunculan terhadap libur bersama yang diputuskan secara mendadak oleh Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini.

Konon, pihak swasta dan pengusaha banyak yang dirugikan dengan keputusan mendadak ini. Urusan mereka dengan pihak birokrat jadi terbengkalai. Bahkan ada yang bilang, negara ini benar-benar dijalankan tanpa rencana sama sekali. Jangankan untuk mencapai target jangka panjang, menetapkan libur bersama pun dilakukan secara mendadak dan tiba-tiba seperti ini. Ada juga yang bilang di situs berita internet, libur bersama ini cuma mengakomodasi kepentingan segelintir pejabat teras negeri ini saja. Saya, sejujurnya, ndak bisa menghubungkan libur bersama ini dengan kepentingan oknum pejabat. Ada yang bisa bantu?

Di sisi lain, libur bersama ini konon memanjakan dan menguntungkan PNS. Oh ya? Oke, saya sebagai CPNS ikut enak dengan libur akhir pekan yang lebih panjang. Tapi apa gunanya juga? Pengumuman mendadak ini membuat saya ndak bisa memanfaatkan liburan ini dengan baik karena ndak ada perencanaan matang mau dimanfaatkan ke mana dan bagaimana liburan kali ini. Blum lagi ternyata untuk PNS, libur Senin kemarin ternyata juga memotong jatah cuti tahunan mereka. Jadi sebenarnya ndak ada libur, melainkan para PNS “dipaksa” untuk cuti pada hari Senin kemarin. Efek negatif lainnya bagi PNS adalah, setelah libur panjang ini, tentu lebih sulit untuk mengumpulkan semangat kembali ke kantor pada hari Rabu (18/5). Hihihi…

Jadi, sekarang anda tau kan siapa saja yang dirugikan dengan libur panjang Waisak kemarin? Kita semua kok, walaupun dalam kepentingan yang berbeda. Hehehe.. *hush, ini serius!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

7 thoughts on “Kontroversi Libur Bersama Waisak

  1. Cahya

    Saya juga dapat libur, ya karena saya memang sedang libur sih :). Di dunia ini selalu ada kontroversi. Tapi kalau mau jujur dilihat dari penataan sistem yang baik. Jika memang akan dijadikan hari libur, ya semestinya memang ditentukan jauh hari sebelumnya. Yah, ini hanya menandakan tidak kompetennya aparatur negara yang mengurusi hal ini. Tapi karena belakangan terlalu sering terjadi, sudah malas melakukan protes :).

  2. imadewira

    saya setuju dengan anda bro, bahwa sebenarnya PNS tidak terlalu diuntungkan karena Senin kemarin itu bukan libur, tapi cuti bersama yang bisa dikatakan dipaksa libur.

    Saya sendiri juga merasa dirugikan karena sudah berjanji akan melayani calon mahasiswa baru yang mendaftar secara online, tapi karena libur jadi sedikit terkendala.

    Ya beginilah, semoga saja besok-besok para decision maker negeri ini ndak bikin kebijakan semau dewe.

  3. fb

    Ya mungkin pejabatnya juga mau libur.. Daripada nanti mereka dibilang bolos lebih baik buat kayak gitu aja..

  4. indobrad

    dilematis bli. saya senang karena bisa istirahat dan jalan2, tapi rugi juga karena freelancer seperti saya sangat bergantung pada honor per jam. jadi kalo libur ya… no work, no money 🙁

Comments are closed.