Kita Indonesia, Teman!

3 menit waktu baca

Kondisi 1: Seorang teman memperbarui status facebooknya dengan bangga, “Taukah kamu, orang Minang di kabinet ada 4 orang?”

Kondisi 2: Pemuda dan mahasiswa di Ambon berunjuk rasa karena ndak ada satu pun wakil dari daerah mereka yang duduk sebagai anggota kabinet.

Ada apa ini?

Jujur saya kecewa melihat 2 kondisi di atas. Hal itu akan semakin memperparah krisis rasa persatuan di negara ini. Perlukah kita memandang segala sesuatu dari hal-hal yang berbau kedaerahan seperti itu? Saya mengerti, ndak ada salahnya untuk bangga menjadi orang suku mana pun. Tapi tolonglah, dalam konteks sebagai negara kesatuan, kita semua sama. Kita Indonesia!

Saya ndak akan lupa dari mana asal teman-teman saya. Apalagi waktu di Jogja, yang terkenal dengan sebutan Indonesia mini, saya bertemu dan bergaul dengan banyak orang dari bermacam latar belakang suku dan budaya. Saya menghormati perbedaan itu, tapi ndak ada yang istimewa dengan hal itu. Karena seharusnya saya dan mereka adalah sama, Indonesia.

Bali pernah mendapat penghargaan sebagai pulau wisata terbaik di dunia, seharusnya itu jadi penghargaan untuk Indonesia. Chris John menjadi juara tinju dunia, seharusnya dia menjadi juaranya Indonesia. Kekayaan bumi Papua, seharusnya menjadi kekayaan Indonesia, secara adil dan proporsional tentunya. Sebaliknya, bencana Sumatera Barat juga seharusnya menjadi bencana Indonesia. Pun tragedi terorisme di Jakarta, adalah tragedi Indonesia. Kita juga ndak perlu memandang pelaku terorisme sebagai orang Lamongan, orang Solo, orang Palembang dsb., karena mereka toh orang Indonesia juga.

Dalam konteks menteri Minang, menteri Jawa, menteri Bali, menteri Papua, dsb. ini, saya mengerti kebanggaan teman-teman dari daerah. Tapi toh, tanpa memandang suku, kita semua seharusnya tetap bangga karena orang-orang terbaik itu sudah mau mengemban tugas berat dengan menerima tugas menteri. Tanpa memandang suku juga, kita semua pasti akan bangga kalau para menteri itu mampu membantu presiden untuk mengangkat harkat dan martabat negara ini. Lagipula, sebagai menteri, mereka seharusnya juga akan bekerja untuk negara, bukan untuk daerah asalnya saja.

Di luar kondisi di atas, saya juga kecewa dengan yang saya baca di The Jakarta Post. Dalam terbitannya kemarin (22/10), koran ini menampilkan tabel yang berisi data dan fakta kabinet dalam angka. Untuk apa sih? Apa pentingnya koran ini memuat jumlah menteri berdasarkan suku, agama, bahkan jenis kelamin. Apalagi koran ini akan dibaca oleh orang asing. Ntar jangan-jangan mereka menilai bahwa kita ini memandang penting banget masalah seperti ini.

Saya ingat pernah berhadapan dengan seorang mahasiswa Norwegia waktu saya masih bekerja di Gateway College. Dia bertanya alamat Kedutaan Besar Norwegia di Bali untuk suatu keperluan. Saya jawab, kedubes cuma ada di ibukota negara, Jakarta. Eh, dia malah bertanya, apa hubungannya Bali dengan Jakarta.

Pernah juga waktu merokok (dulu saya perokok, hihi!) bersama seorang bule di airport Ngurah Rai, saya bertanya ke mana tujuan penerbangannya. Dia bilang ke Lombok. Berhubung waktu itu saya menuju Jogja, saya pun ndak lupa untuk menyarankan dia datang ke Jogja. Kok trus dia bilang, “Saya blum ada rencana untuk pergi ke Indonesia”. Lha, memangnya dia lagi di mana, kalau bukan di Indonesia??

Dalam 2 kesempatan itu, saya dengan semangat 45 menjelaskan bahwa Bali adalah Indonesia. Kalau mereka para bule itu begitu cintanya kepada Bali, maka mereka juga harus menghormati Indonesia, karena saya bilang Bali ada di Indonesia. Bagus jeleknya Indonesia akan berpengaruh terhadap bagus jeleknya Bali. Demikian juga seharusnya daerah lain di Indonesia, kan?

Demi Tuhan, ndak ada niat saya untuk memperkeruh keadaan ini. Saya cuma pengen mengingatkan ini bulan penuh makna untuk persatuan bangsa dan negara. 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku mengangkat jati diri mereka sebagai pemuda Indonesia di atas nama daerah dan suku mereka. Mereka mempertaruhkan jiwa raga cuma untuk bersumpah bahwa mereka adalah satu Indonesia. Kenapa sekarang kita malah seperti ndak menghargai usaha mereka dengan lebih mengedepankan kebanggaan golongan dan kedaerahan? Ironis banget..

Dalam 2 kondisi di awal tulisan saya, saya takut kalau ternyata 4 orang menteri yang bersuku daerah Minang itu ternyata gagal mengemban tugas dengan baik. Jangan-jangan teman-teman di Ambon atau daerah lain yang ndak terwakili tokoh lokalnya, malah bilang, “Ah! Orang Minang ndak becus jadi menteri!”. Nah, kan malah jadi tambah parah kondisinya. Perpecahan sedikit demi sedikit akan mulai menganga di hadapan kita dari masalah kecil seperti ini. Semoga ndak akan menjadi seperti itu keadaannya.

Ndak ada niat saya untuk merusak apalagi membunuh kebanggan teman-teman akan daerah masing-masing. Tapi ya kebanggan itu untuk diri sendiri saja. Saat kita berhadapan dengan orang lain, kebanggaan itu seharusnya menjadi kebanggaan sebagai orang Indonesia. Karena, sekali lagi, kita ini sebenarnya adalah satu dengan semua perbedaan yang kita punya. Kita ini satu Indonesia, teman.

Damai Indonesia.. 🙂

19 thoughts on “Kita Indonesia, Teman!”

  1. Itulah pentingnya memaknai sumpah pemuda dan kemerdekaan. Tp maaf, saya mendengar dari banyak teman saya bahwa orang2 di wilayah Timur selama ini memang merasakan dirskriminasi. Entah saya sndiri tidk tahu krn bukan orang Indonesia dari wilayah Timur. Jika pemerintah mau adil, mereka akan bangga 100% menjadi warga Indonesia. Slam kenal dan hangat.
    .-= Wong Jalur´s last blog ..Lima Agenda Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo =-.

    1. Betul mas. Saya juga sering mendengar bahwa Indonesia wilayah timur dianaktirikan. Cuma dikeruk kekayaannya, tapi mereka ndak menikmati hasilnya secara proporsional. Mungkin karena itu mereka menuntut keterwakilan mereka di kabinet. Semoga SBY mau berbuat untuk keadaan itu. Seharusnya ndak ada diskriminasi lagi.

      Dan menurut saya, akan jadi langkah yang bijak juga bagi teman-teman dari daerah lain yang terwakili di kabinet seperti kondisi 1 di atas untuk ndak “merayakan” keterwakilan mereka seperti itu.

      Terima kasih buat masukannya mas..

  2. Jujur saya sebelumnya tidak menyangka akan ada demo berbau kedaerahan seperti itu pasca pengumuman susunan kabinet, awalnya saya mengira yang akan “komplain” itu dari parpol2 yang tidak kebagian jatah dalam kue kekuasaan.

    Komplain masyarakat di ambon seharusnya tidak perlu terjadi, terus terang andaipun tidak ada orang Bali yang jadi menteri saya tidak akan komplain, toh anggota DPR dari Bali pasti ada di Jakarta, asalkan para menteri dan pemerintah bisa berlaku adil untuk setiap daerah, itu sudah cukup.
    .-= wira´s last blog ..Cara Setting Email Notifikasi Facebook =-.

    1. Betul bli, walaupun kita semua pasti memaklumi bahwa tuntutan mereka cuma wujud rasa frustrasi karena ndak diperhatikan oleh pemerintah pusat.

      Sekarang, Pemda dan DPRD daerah itu seharusnya bekerja lebih keras lagi untuk menarik perhatian pemerintah pusat. Supaya ndak ada lagi kesan anak emas dan anak tiri. Karena kita sebenarnya sama, satu Indonesia.

  3. Mungkin pola pikir itu terbentuk akibat budaya mengkotak2kan yang memang biasa terjadi sejak dulu. Kalau gubernurnya batak dan marganya A, semua bos dan kepala dinas biasanya juga batak dan bermarga serumpun. Serba salah juga, kita inginnya mereka berpikir bahwa kita ini satu team, Indonesia. Tp pada kenyataannya, dalam pribadi tiap orang (termasuk mereka yg duduk di suatu jabatan) pastilah ada keinginan utk lebih memajukan daerahnya (baca : suku). Akibatnya mereka yg merasa “tertinggal dan terlupakan” menuntut agar dapat jatah, biar daerahnya bisa maju.
    Mengubah pola pikir tidak mudah. Harus dimulai dgn contoh dari mereka yang ada paling atas, dan butuh waktu jg tidak sebentar.
    .-= zee´s last blog ..Katong Pu Ikang Kua Kuning =-.

    1. Separah itukah mbak? Bukankah sekarang malah susah kalau punya hubungan keluarga dengan seorang pejabat pemerintahan seperti gubernur? Terutama sejak nepotisme disejajarkan dengan korupsi dan kolusi sebagai musuh utama sebuah pemerintahan yang bersih.

      Tapi secara umum, saya setuju bahwa sebagian orang Indonesia masih berpikir kedaerahan pasti ada latar belakang yang panjang.

  4. tapi aku kok mikir asal usul menteri itu tetep ngaruh ke tingkat kepeduliannya ya. kalo menteri diperbanyak dari daerah timur, aku yakin intim akan lebih diperhatikan.

    pembangunan negara ini terlalu menganakemaskan jawa dan sekitarnya. bisa jadi karena menterinya memang banyakan belum pernah tinggal lama di intim.

    btw, aku ambil dong buat balebengong. tengs..
    .-= a!´s last blog ..Tiada Henti Judi di Bali =-.

    1. Hmm.., iya sih ton. Makanya aku juga kecewa dengan kondisi 1 yang kubilang di atas. Rasanya kok ndak pantas. Mungkin ini salah pemimpin ya, ton. Walaupun pasti juga ndak sepenuhnya salah mereka.

      Buat balebengong? Yang ini? Ndak salah..? Ya ndak apa-apa sih. Hehe..

  5. Saya pernah baca di detik.com pernyataan salah satu perwira aktif TNI AU (*klo ndak salah yaa… soale lupa*) bahwa negri kita ini sudah lama dijadikan medan pertempuran intelejen khususnya CIA, MOSSAD (*katanya dikendalikan dari singapura*), KGB (*skrg dah ganti nama *), dan beberapa badan intelejen asing lainnya.

    Nah senjata mereka yang paling utama adalah media massa beserta “pakar-pakar” yang telah mereka rekrut untuk berbicara dalam dialog – dialog terbuka untuk membentuk opini sesuai kepentingan pesanan badan intelejen tersebut.

    Maka tidak aneh kemarin sebelum kabinet terbentuk banyak media massa “mengadang-gadangkan” calon mentri yang bahkan dilirikpun tidak oleh SBY, salah satunya calon mentri pendidikan versi media massa Anis Baswedan rektor paramadina…

  6. Menurut saya, itu hanya politik. Kalau pun unsur kedaerahan yang diangkat, nyatanya memang itu mempengaruhi kondisi di Intim.

    Kayaknya mereka bagus buat oposisi, asal dilandasi niat baik (pembuktian niat baik di ranah hukum gemana ya, karena membuktikan pasien yang mengeluh pusing/sakit kepala sulit). Bentar lagi mesti ada yang merangkul mereka masuk kelompk oposisi. 🙂
    .-= dani´s last blog ..Aksesibilitas Konten Web Kesehatan =-.

    1. Boleh banget mereka jadi oposan. Asal jangan dilandasi perasaan sakit hati. Kalau dilandasi sakit hati, ntar malah jadi oposan yang ndak netral, alias cuma membela kepentingannya peribadi.

  7. Ketika membicarakan Endonesia, eh Indonesia, yang begitu sangat luas wilayahnya, beraneka ragam budaya dan adat istiadat serta kaya akan perbedaan-perbedaan lainnya, dibutuhkan cara pandang yang luas pula.
    Cara pandang yang sempit dan kedaerahan hanyalah akan membuat Indonesia terpuruk dan terbelakang.

    Kondisi 1 dan kondisi 2 yang dipaparkan di atas, bagi Presiden SBY pasti hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang harus dia jawab bersama dengan penasihat2 dan koalisi politiknya. Mau merata? Sebenarnya bisa saja, dari 34 posisi menteri, dibagi tiap propinsi ada wakil satu orang. Tapi, tentu ada determinan lain yang menjadi pertimbangan SBY dkk dalam penentuan itu, entah tarik ulur politik, kontrak politik etc. Masalah kompetensi dan kemampuan, saya yakin “masing-masing propinsi” memiliki orang-orang yang hebat.

    Walaupun demikian, konfigurasi kabinet tersebut adalah satu dari sekian banyak bagian dalam tata pemerintahan di republik ini. Tentunya, tiap-tiap tokoh di daerah dalam memainkan perannya pada bagian yang menjadi perannya, entah di parlemen, BUMN serta posisi lainnya.

Comments are closed.